JELAJAH QATAR

Home » 2011 » December

Monthly Archives: December 2011

Facebook ‘Memaksa’ Kita Pandai Menulis

Facebook Notes

            Siapa bilang menulis itu susah? Mungkin banyak diantara kita termasuk saya sendiri adalah orang yang menganggap menulis itu susah. Membaca tulisan-tulisan para penulis handal rasanya iri. Kok bisa-bisanya menulis panjang lebar begitu ya? Gimana kita memulainya ya? Apa yang mau dituliskan ya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan  berkecamuk dalam pikiran kita. Berbagai macam alasan untuk menunda menulis pun semakin ramai dalam pikiran kita. Ujung-ujungnya tulisan pun tak jadi-jadi. Ditunda lagi dan lagi!

            Semenjak sekolah di bangku Sekolah Dasar, kita sering mendapatkan tugas dari guru kita untuk membuat karangan. Apalagi kalo habis liburan panjang atau habis mengikuti karya wisata [study tour], maka biasanya guru Bahasa Indonesia pun akan memberikan tugas kepada siswanya, membuat cerita dalam bentuk karangan. Saya termasuk dari sekian siswa yang paling nggak interest dengan yang namanya tugas ini. Apalagi guru nya pun gak pernah memberikan arahan atau contoh langsung yang konkrit bagaimana untuk membuat karangan yang bagus dan enak dibaca. Jadinya ya mengarang sejadi-jadinya. Gak tahu itu enak atau nggak dibaca nya yang penting tugas selesai dikumpulkan. (more…)

Sedekah Nggak Mesti Pake Duit!

Yuk Sedekah Biar Berkah | foto by padusi

Sedekah merupakan kata serapan dari bahasa arab ‘shadaqoh’ yang bermakna suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Sedekah juga bermakna suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai bentuk kebajikan yang mengharap keridhoaan Allah SWT dan pahala semata. Sedekah dibayarkan bukan berharap untuk mendapatkan pujian atas sesama manusia.

Dalam kitab suci Al Qur’an terdapat 15 ayat yang berkaitan langsung dengan kata ‘sedekah’. Ayat-ayat Quran yang terkait dengan hal sedekah diantaranya terdapat dalam QS Al Baqarah [ayat 196,263,264,271 dan 276], QS At Taubah [ayat 75 dan 79], QS Yusuf [ayat 88], QS Al Ahzab [ayat 35], QS Al Hadiid [ayat 18], QS Al Mujaadilah [ayat 12 dan 13], dan QS Al Munaafiqun [ayat 10].

Semenjak pagi hari kita bangun dari tidur semalaman kemudian beraktifitas seharian hingga tidur kembali, banyak sekali nikmat Allah yang kita rasakan dan kita nikmati. Seandainya kita mencoba menghitungnya, maka tak akan pernah mampu kita untuk menghitungnya. Seandainya air lautan seluruh jagad raya dijadikan tinta, maka sampai habis tinta itu untuk menuliskan nikmat Allah, maka tak kan pernah cukup tinta itu untuk menuliskan nikmat allah yang dikaruniakan kepada seluruh mahluk di muka bumi ini. Allah SWT telah berfirman yang artinya, “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya (menghitungnya). Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” [QS Ibrahim:34].

Pembaca yang baik hatinya….

Sebagai wujud rasa syukur kita pada Sang Maha Pemberi Rezeki, maka sepantasnyalah kita membayar sedekah untuk berbagi dengan yang lain yang membutuhkan. Secara umum yang namanya boros dikaitkan dengan kebangkrutan (merugi), tapi tidak demikian halnya dengan orang-orang yang boros [gemar] bersedekah. Malahan Purdi E.Candra, Boss pemilik Primagama dan Pendiri Entrepreneur University meyakini bahwa ‘hemat sedekah pangkal miskin dan boros sedekah pangkal kaya’.  Allah SWT mengingatkan kita dalam firmanNya, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak” [QS Al Hadiid: 18].

Walaupun saya bukan ahli tafsir, tapi secara tersurat jelas sekali bahwa Allah SWT menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang-orang yang bersedekah dan memberikan pinjaman yang baik kepadaNya. Ketika kita memancing ikan dengan umpan yang besar, maka kita akan mendapatkan ikan yang besar. Akan tetapi sebaliknya, jika umpannya kecil, maka ikan yang akan kita dapat pun ikan kecil. Ketika kita bersedekahnya sedikit, maka tak patut kiranya kita berharap sesuatu yang banyak dari Allah SWT. Lha wong ngasih nya aja sedikit, kok berharap banyak!

Pembaca yang dirahmati Allah…

Sedekah tak selamanya harus dibayarkan dengan uang alias DUIT. Ketahuilah bahwa setiap persendian tubuh kita juga memerlukan sedekah. Rasulullah SAW berpesan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. yang artinya, “Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedekah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan [menyelesaikan perkara] antara dua orang [yang berselisih] adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraanya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan sholat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah sedekah” [HR.Bukhari dan Muslim].

Hadits diatas mengajarkan kepada kita cara-cara membayarkan sedekah yang tidak berwujud uang yang meliputi empat hal, memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih), menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau membantu mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraan, berkata baik, melangkah menuju masjid untuk sholat dan menyingkirkan suatu rintangan dari jalan.

Rasulullah SAW menyebutkan dalam haditsnya, “Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan memiliki 360 persendian” [HR. Muslim no.2377]. Selain empat hal diatas, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menyedekahi sejumlah 360 persendian dalam tubuh setiap harinya. Kalau dalam sehari saja 360 sedekah, maka dalam hitungan seminggu menjadi 2.520 sedekah, dalam waktu sebulan menjadi 10.800 sedekah, dan dalam kurun waktu setahun menjadi 131.400 sedekah. Wah banyak sekali ya!

Trus bagaimana cara membayar sedekah untuk setiap persendian yang banyak jumlahnya itu? Rasulullah memberikan jawaban mengenai hal itu dalam sunnahnya, “Pada pagi hari diwajibkan bagi seluruh persendian diantara kalian  untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Begitu juga amar ma’ruf (memerintahkan kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at” [HR. Muslim no.1704].

Sebagai umat muslim yang taat, waktu sesudah sholat fardhu merupakan salah satu waktu yang mustajab untuk berdo’a. Di saat-saat tersebut hendaknya kita gunakan untuk berdzikir (mengingat) Allah dengan membaca tasbih, tahmid, takbir dan tahlil. Insha Allah, di waktu yang bersamaan kita bisa membayarkan sedekah atas persendian tubuh kita sendiri. Kalau misalnya setiap ba’da sholat fardhu kita membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, takbir 33 kali dan diakhiri dengan tahlil 1 kali kemudian dikalikan 5 waktu, maka total sedekah kita dalam sehari menjadi 500 sedekah. Masha Allah! Semoga Allah menerima sedekah-sedekah kita dan melipatgandakannya, amien.

Rangkaian dzikir kepada Allah yang berupa tasbih, tahmid, takbir dan tahlil serta ber’amar ma’ruf nahi mungkar bisa membayarkan sedekah kita atas persendian. Akan tetapi Rasulullah SAW juga memberikan cara lain untuk membayar sedekah itu dengan cara mendirikan sholat Dhuha 2 rakaat setiap pagi. Banyaknya amalan yang harus kita lakukan untuk membayar sedekahpersendian tadi bisa digantikan dengan ibadah dhuha 2 rakaat setiap harinya. Mudah bukan! Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang diringankan hati dan langkahnya untuk mendirikan sholat dhuha setiap harinya, amien.

Pembaca yang budiman…

Demikian tadi sedekah-sedekah yang berwujud non-tunai. Sedekah yang diwujudkan dalam bentuk amar ma’ruf nahi mungkar, dzikir kepada Allah, melangkah menuju tempat shalat, membantu sesama ke atas kendaraan, atau sekedar menyingkirkan batu di tengah jalan. Bagi anda yang mempunyai uang, baik yang jumlahnya banyak atau sedikit sekalipun, sedekahlah dengan uang tersebut. Terkait mengenai hal ini Allah SWT mengingatkan kita dalam ayatNya, “Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” {QS An Nahl:71]. Maka berbagilah dari sebagian rezeki yang telah dikaruniakan Allah, buat mereka yang sedang membutuhkan dan berhak menerimanya. Kita bisa serahkan langsung sedekah itu kepada yang berhak menerimanya agar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan mereka.

Selain itu, sedekah juga bisa kita bayarkan melalui lembaga-lembaga pengelola ZISWAF [Zakat Infak Shadaqah/sedekah dan Wakaf] di masing-masing daerah. Kalau di Qatar ada namanya Badan Zakat Nasional [Zakat Fund Qatar], Qatar Charity, Qatar Red Crescent dan badan-badan sosial lainnya. Kalau di Indonesia, kita mengenal ada BAZNAS [Badan Amil Zakat Nasional], BAZDA [Badan Amil Zakat Daerah], Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, PKPU, Laziz Muhammadiyah, Laziz NU dan lembaga-lembaga pengelola ZISWAF lainnya.

Ketika kita sudah membayarkan sedekah, sesuatu yang perlu diingat adalah menjaga diri dari menyebut-nyebutnya [riya’] dan menghindari perbuatan yang bisa menyakiti hati si penerima sedekah itu. Allah SWT mengingatkan dalam FirmanNya, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima), Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” [QS Al Baqarah: 263-264].

Demikian ulasan sedikit tentang sedekah, insha allah berkelanjutan. Ulasan singkat tentang bagaimana cara kita membayarkan sedekah, baik yang berupa uang maupun yang bukan uang [non tunai]. Semoga yang sedikit ini bisa menjadi pengingat bagi diri saya dan keluarga serta kaum muslim dimana saja berada. Yuk bersedekah agar harta yang diamanahkan Allah menjadi berkah.

Wallahua’lam bisshowab

Ummbab, 29 Desember 2011

Sugeng Bralink

riyadi.sugeng@gmail.com 

Referensi:

  1. Al Qur’anul Kareem
  2. www.rumaysho.com

Apa pentingnya Rule of Three?

With My Kids

The “rule of three” is a principle in writing that suggests that things that come in threes are inherently funnier, more satisfying, or more effective than other numbers of things. The reader/audience of this form of text is also more likely to consume information if it is written in groups of threes1. Rule of three adalah prinsip tertulis yang menunjukkan bahwa hal-hal yang datang dalam tiga hal menjadi lucu, lebih memuaskan, atau lebih efektif daripada nomor lainnya. Para pembaca/penonton dari bentuk teks juga lebih mungkin untuk mengkonsumsi informasi jika ditulis dalam aturan kelompok tiga.

Biar lebih mudah dibacanya, saya akan gunakan Rule of Three. Bagi para penulis professional pastinya sudah kenal banget dengan istilah rule of three ini. Dalam kaidah penulisan sebuah artikel lazimnya mengenal 3 unsur yaitu pembukaan, isi, dan kesimpulan/penutup.

Di Indonesia sendiri banyak digunakan istilah-istilah yang berdasar pada 3 hal. Tri merupakan ejaan dari bahasa inggris ‘Three’, tetapi juga merupakan bahasa yang diadopsi dari bahasa sansekerta yang maknanya Tiga. Kata ‘Tri’ banyak digunakan diberbagai istilah di Indonesia.

Yang menyukai kegiatan pramuka tentu masih ingat dengan Trisatya; Menjalankan kewajiban terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila, Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat dan Menepati Dasadarma.  Dalam dunia kampus ada istilah Tridarma Perguruan Tinggi; pendidikan, penelitian dan pengabdian. Bagi anda yang menyukai dunia safety dikenal istilah Fire Triangle; heat, fuel dan oxygen.

3 angka sering digunakan dalam berbagai kegiatan perlombaan. Sebut saja lomba lari, sang pemegang bendera start akan mengucapkan satu, dua, tiga! Lalu mulailah para pelari berlari sekencang-kencangnya untuk memenangkan perlombaan. Sebuah perlombaan pasti akan dimulai dari jumlah peserta lomba yang banyak. Dengan melewati babak demi babak, jumlah peserta yang awalnya banyak maka akan semakin menyusut jumlahnya ketika semakin mendekati babak final.

Pada babak kualifikasi, para peserta lomba harus mampu menunjukkan yang terbaik agar bisa meraih posisi pertama, kedua dan ketiga. Kita bisa ambil contoh, lomba karya tulis ilmiah, lomba baca quran, lomba fotografi, lomba olimpiade sains, olimpiade matematika, lomba cerdas cermat dan lomba-lomba lainnya. Puluhan bahkan ratusan peserta di babak awal harus rela tersisih oleh ketiga pemenang di babak puncak. Ketiga pemenang yang berhasil akan mendapatkan penghargaan atau medali emas, perak dan perunggu. Dalam beberapa perlombaan dikenal istilah juara harapan 1, 2 dan 3. Tapi, lagi-lagi rule of three dipakai.

Mengapa rule of three? Bukan maksud kita mengkultuskan angka tiga. Tapi angka tiga menjadi jumlah yang tidak banyak dan tidak sedikit. Jumlah tiga menjadi angka yang gampang diingat oleh siapapun. Khususnya oleh pembaca artikel atau para penghafal tips-tips motivasi, tips-tips sukses. Maka dari itu rule of three bisa menjadi satu alternatif untuk menarik minat pembaca setiap tulisan atau calon customer dari pesan-pesan promosi yang kita sampaikan. Dengan tiga hal ini akan menjadikan sesuatu yang mudah diingat dan harapannya mudah untuk diamalkan.

Dukhan, 26 Desember 2011

Sugeng Bralink for JQ

riyadi.sugeng@gmail.com

Referensi:

1. http://www.wikipedia.org

A Journey to the Northwest & North of Qatar: Zubara Fort & Al Ruways

Zubara Fort | foto by Kang Hamdi

Perjalanan kali ini, kami menuju sebuah bangunan rekonstruksi benteng di tepian semenanjung Arabia atau Arabian peninsula. Benteng ini dinamai Zubara Fort.

Zubarah is noted for its old fortress built in 1938 under orders of Qatari Sheikh ‘Abdu’llah bin Qasim Al-Thani and restored in 1987 as a museum [www.muslimrishtey.com]. Zubara merupakan benteng tua yang dibangun pada tahun 1938 dibawah perintah Sheikh Abdullah bin Qasim Al Thani dan direstorasi atau dibangun kembali pada tahun 1987 sebagai Museum.

Trip jelajah Qatar kedua berjalan lebih mulus dibanding saat perjalanan menuju Zekreet Film City. Perjalanan kali ini memang disiapkan dengan lebih matang. Kali ini kami menumpang kendaraan bermesin Honda dengan power 2400cc. Sebut saja namanya si CR. Warna metallic gold nya mampu membikin orang yang melihatnya terpesona. Pokoknya perjalanan di awal musim panas menjadi semakin nyaman dan nyaman.

Pagi menjelang siang, suhu udara belum begitu panas. Suhu udara berkisar 300  Celcius-an. Kami berlima segera berkemas dengan mulai menyiapkan perbekalan. Menu makan siang sudah komplit. Menu siang ini, sewadah magic jar isi nasi, ikan dan telur berbumbu pedas, sayurannya cukup dengan irisan mentimun dan wortel, sambal asli racikan super pedas, dan sambal instant dalam botol. Dilengkapi juga dengan buah semangka berdaging merah, jeruk berkulit oranye, pisang impor dari Filipina, apel merah impor dari Amrik, air mineral produk lokal Qatar [bermerk Rayyan] dan beberapa kaleng minuman bersoda [bermerk mirinda]. Nggak kalah ama persiapan ibu-ibu dech!

Inside Zubara Fort | foto by Kang Hamdi

Setelah tangki minyak dipenuhi dengan bensin super [pertamax kalo di Indonesia, bahkan disini octane nya lebih tinggi] seharga 1 qatar riyal per liter, si Metallic Gold segera meluncur menuju ke TKP. Zubara Fort dan Al Ruways Park sudah terbayang di pikiran kami masing-masing.

Tak berselang lama, jembatan Jumailiyyah ada di depan kami. Kang Riboed yang menyetir kendaraan segera membelokkan laju si roda empat mengikuti petunjuk arah menuju Kampung Jumailiyyah. Setibanya kendaraan di pertigaan dekat dengan Jumailiyyah Civil Defence [kantor pemadam kebakaran di Qatar], si CR segera berbelok kanan sampai ketemu persimpangan berikutnya dan kemudian belok kiri lagi.

Melihat ada musholla kecil yang sudah pasti ada toiletnya, kami mampir sebentar untuk mengosongkan kandung kemih. Dengan waktu yang sangat singkat pun kami sempatkan bergaya ria di depan kamera poket. Mengabadikan suasana lah!

Tak menunggu lama, kami lurus menelusuri jalanan beraspal yang sangat sepi lalu lintasnya. Terkadang berpapasan dengan 1 atau 2 kendaraan saja. Itupun setelah hampir setengah jam baru papasan. Ya namanya aja jalan kampong, pokoknya super sepi. Kalau di Indonesia mungkin masih ada motor bebek atau ayam kampong lewat, disini boro-boro ada. Yang ada kanan kiri hanya gurun pasir yang luas menghampar.

Untuk menghindari kecelakaan, pemerintah Qatar juga memasang pagar pembatas di pinggiran gurun, dekat jalan raya. Pagar kawat besi bertujuan sebagai penghalang onta-onta yang sedang digembala di gurun. Karena kalau tidak, bisa-bisa onta nya pada masuk ke jalan raya dan membahayakan dirinya dan diri pengendara kendaraan bermotor.

Lebih 30 menitan berlalu setelah kami melewati kampung jumailiyyah, sampai juga kami di pertigaan yang menunjukkan dua arah, Zubara dan Doha. Lagi-lagi narsis, kami berfoto lagi dengan latarbelakang papan petunjuk jalan yang berwarna dasar biru dan bertuliskan dengan warna putih, Doha dan Zubara.

Direction to Zubara Fort | foto by Kang Hamdi

Ya hanya 5 menitan, kami pun segera meluncur mengikuti petunjuk arah menuju zubara. Tak berselang lama, kamipun sampai di benteng itu. Tak ada satupun mobil terparkir, satu batang hidung pun juga tak nampak, baik  pengunjung atau penjaganya. Sepi dan sepi….

No worry! Kami pun segera menyiapkan persenjataan ‘fotografi’. Kang hamdi dengan DSLR nya siap diterjunkan untuk mengambil gambar di replika bangunan bersejarah ini. Saya, Kang riboed dan Kang kamim segera mengeluarkan kamera digital nya yang super sederhana. Ya…yang penting ada alat untuk mengabadikan peristiwa. Dengan foto, peristiwa itu bisa diceritakan sendiri oleh yang melihatnya.

Setelah puas mengelilingi keseluruhan Zubara Fort dan berfoto bersama di depan benteng, kami juga menuju ke bibir pantai. Di kejauhan nampak 1 bis karwa yang sedang membawa wisatawan berkeliling di area tepi pantai. Banyak sekali bebatuan bekas reruntuhan bangunan. Walupun lokasi ini hanya berisikan bebatuan tak beraturan, tapi wilayah ini adalah daerah dilindungi Negara. Area ini diberi nomor lokasi m-17 dan dinamai Al Zebara [lihat gambar]. Area bersejarah ini dibawah pengawasan langsung National Council for Culture Arts and Heritage, Museums and Antiquities Department, State of Qatar.

Zubara Ruins under Qatari Heritage | foto by Sugeng Bralink

Tak berselang lama, suhu udara semakin panas karena hari semakin siang. Kami pun segera meluncur ke destinasi berikutnya yaitu Al Ruways. Tak satupun dari kami yang pernah ke sana. Hanya bermodalkan dari peta Qatar dan dibantu dari google map, kami beranikan diri ke ujung utara Qatar demi menjelajah lebih jauh negeri ini.

Dalam perjalanan menuju Ruways, kami melewati satu perkampungan yang nampak hijau. Disisi kiri jalan menuju ruways, penyiram air otomatis sedang mengguyurkan airnya ke hehijauan tapi tumbuhan apa yang ditanam kami pun tak tahu. Tapi sekilas seperti tanaman padi. Walaupun bertanah gersang, Qatar pun berani mengembangkan agrikultur.

Lunch Together @Al Shamal Park | foto by Kang Hamdi

Perkampungan hijau kita lewati, akhirnya kita sampai di Al Shamal Highway. Satu jalan bebas hambatan yang masih dalam tahap konstruksi. Jalan yang menghubungkan kota Doha dengan Kota Al Shamal, Al Ruways. dengan jalur yang cukup lebar, kendaraan kami melaju kencang dengan kecepatan rata-rata 120KM/jam. Sesekali kecepatan dikurangi karena adanya Road Diversion atau pengalihan jalan. Ya namanya aja masih dalam tahap konstruksi, maka di sana sini masih banyak jalur yang dialihkan, kadang ke kanan kadang ke kiri. Walaupun jalanan mulus, kami pun harus extra hati-hati.

Jarum jam menunjukkan jam 11 siang waktu Al Ruways. si CR mencoba menyusuri jalanan ke ujung pantai. Kami berniat menelusuri pantai di Ruways, yang katanya sering banyak dijual kepiting dan cumi-cumi. Tapi lagi-lagi banyak konstruksi jalanan di Ruways. kami pun putuskan untuk segera bersiap sholat Zuhur di masjid terdekat. Begitu masuk masjid, rasanya Nyess.

Al Shamal Park | foto by Sugeng Bralink

Selepas sholat jamaah Zuhur, kami segera menuju di taman kota yang tak jauh dari bundaran di pintu gerbang kota Shamal, Ruways. taman itu dinamai Al Shamal Park. Kami ga tahu apakah taman itu dibuka untuk umum atau khusus untuk keluarga. Berbekal informasi dari pak satpam, kami pun masuk ke taman shamal dan segera membuka perbelakan makan siang yang sudah kami siapkan. Nasi dan konco-konco nya segera kamu bongkar dan disantap bersama. Rasanya mak nyozz!! Cape keliling trus ditutup dengan menu makan siang special dan tak lupa dan tak ketinggalan, foto-foto dulu!

Sampai jumpai di reportase Jelajah Qatar berikutnya, menelusuri Qatar dari ujung ke ujung.

Pokoknya Jelajah Qatar, Enroll|Explore|Enjoy

Coordinates:  25.402’9N dan 56.361’41E

Dukhan, 25 Desember 2011

Sugeng Bralink

riyadi.sugeng@gmail.com

Mengeluh Bukan Solusi!

Enjoy Life Wherever We Are | Borneo Forest

Update status! Ya…istilah ini menjadi semakin popular setelah lahirnya social network yang super heboh, FACEBOOK. Jumlah pemakai jejaring social kreasi Mark Zuckerberg ini, sampai Juni 2011 telah mencapai angka 710.728.720 orang [www.internetworldstats.com]. Angka yang sangat fantastis!

Detik demi detik, jutaan bahkan miliaran status pun terus mengalir dan bermunculan di layar maya. Isinya pun beraneka ragam. Ada yang penuh motivasi, inspirasi, semangat, dan hal-hal positif lainnya. Tapi dilain pihak, tak sedikit kita temukan status-status yang berisi hal-hal pesimistis, menurunkan motivasi, dan mungkin hanya sekedar keluh kesah atau mengeluh.

Setiap manusia di dunia ini mempunyai permasalahan masing-masing. Baik yang berskala kecil atau besar. Dari yang gampang dicari solusinya sampai yang tak kunjung terselesaikan. Kita tak bisa menghindari itu! Tapi perlukah kita mengeluh ketika kita menghadapi sebuah masalah atau beban berat? Perlukah kita berkeluh kesah di dunia maya tanpa tahu siapa yang kita ajak berbagi? Apakah keluhan-keluhan kita itu akan memberikan solusi?

Memang update status di social network nomer wahid di jagad raya ini semakin mangtabs saja. Akses ke dunia maya dari hari ke hari semakin mudah. Kita tentu masih ingat jamannya warnet [warung internet] booming di mana-mana. Kapan waktu kita ingin membuka internet maka kita harus ke warnet. Tarif pun masing sangat mahal. Saya masih ingat ketika saya harus membayar tarif browsing di warnet, 12000 per jam. Beda jauh dengan sekarang, tarifnya hanya 2500 perak/jam. Murahnya harga akses warnet juga didukung dengan speed yang super cepat. Selain itu, akses internet pun sudah semakin gampang saja. Tiap individu yang punya HaPe bisa menikmati fasilitas internet. Tak dipungkiri, kemudahan-kemudahan akses internet ini hadir seiring maraknya social network.

Para pemberi jasa telekomunikasi atau yang lazim disebut Telecommunication Provider saling berlomba-lomba memberikan tarif yang super murah untuk kemudahan akses ke dunia maya. Ada yang nawarin tarif murah broadband nya, ada juga yang nawarin tarif murah per download nya. Pokoknya, customer mempunyai banyak pilihan dan semakin dimanja. Di Qatar sendiri, tarif paling murah yang saya nikmati sekarang adalah tarif dari salah satu provider yang memasang bandrol, 15 QAR untuk akses internet 50MB/bulan. Kalau melebihi ya nambah bayarannya. Hehehe…kok jadi ngomongin tarif internet sih J J

Kembali lagi soal mengeluh atau berkeluh kesah, Allah SWT telah mengingatkan dalam firman NYA, Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah[QS Al Ma’arij: 19-20].

Manusia adalah mahluk yang mempunyai kelebihan dibanding mahluk Tuhan lainnya. Manusia diberikan kelebihan akal untuk bisa berpikir. Inilah yang bisa menjadi pembeda manusia dengan binatang. Secantik dan secerdas apapun namanya binatang tetap binatang. Dia tidak mempunyai akal dan pikiran. Ketika seekor kambing kelaparan, maka dia akan mengembik dan meraung-raung ke majikannya agar segera disediakan rumput untuknya. Rasanya menjadi tak jauh beda apabila manusia mempunyai masalah kemudian hanya mengeluh tanpa mencari solusi. Dia hanya sibuk mengupdate keluh kesahnya di dinding facebook atau men-tweet nya di kolom twitter.

Saya sendiri tidak menyalahkan pada siapapun yang hobby-nya berkeluh kesah di update status. Tapi artikel ini sekedar menjadi pengingat buat saya sendiri utamanya dan bagi facebook-er yang merasa diingatkan. Di dunia ini memang selalu berpasang-pasangan. Ada kaya ada miskin, ada baik ada buruk, ada cantik ada jelek, ada yang optimistis ada juga yang pesimistis. Begitupun update status facebook, ada yang penuh motivasi tapi ada yang hanya berisi keluh kesah tanpa solusi.

Melalui artikel ini saya mengajak, mari kita manfaatkan akses jejaring social yang fenomenal ini untuk mengembangkan diri, membesarkan organisasi, mempromosikan usaha, meluaskan pertemanan atau network, membuka wawasan dan hal-hal positif lainnya. Siapa tahu dari grup-gerup kecil yang kita kreasi di facebook, suatu hari nanti bisa menjadi perusahaan besar. Siapa tahu notes-notes yang kita tuliskan di notes page-nya facebook, coretan-coretan ringan di blog, bisa dicetak menjadi buku dan menjadi Best Seller di kemudian hari. Kita perlu ingat bahwa selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Janganlah mengeluh tapi carilah solusi!

Ummbab, 24 Desember 2011

Sugeng Bralink for JQ

riyadi.sugeng@gmail.com

Save The Earth: Say No to Plastics!

Save the Earth: Say No To Plastics! | photo by fightplastic.com

Saya teringat jaman dulu ketika saya masih mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar di tahun 80an. Sepulang sekolah, terkadang ibunda tercinta meminta saya membeli lothek (makanan yang berisi sayuran dan dibumbui kacang) untuk sekedar camilan atau melengkapi menu makan siang. Makanan atau jajanan yang satu ini hampir semuanya berwarna hijau, ada daun singkong, daun cakla cikli, daun kangkung, daun gendhot, tauge, daun bayam, bunga kecombrang yang merah warnanya dan sayur-sayuran lainnya. Banyak dari sayur-sayuran ini yang bisa kita petik di kebun samping rumah, ya namanya aja di pedesaan. Setelah semuanya siap, si Mbok warung akan membungkusnya dengan daun pisang atau daun waru. Kalau diperhatikan dari isi dan pembungkusnya, semuanya merupakan benda-benda yang bio-degradable atau mudah dicerna atau dihancurkan oleh tanah. Nggak seperti sekarang! Apa-apa dibungkus dengan plastik!

Plastik adalah sintetis atau polymer buatan manusia, mirip dengan resin natural yang banyak ditemukan di pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kamus Webster’s mendefinisikan polymer sebagai sekumpulan organic komplek yang diproduksi oleh polymerization, bisa dibentuk, extruded, dicetak ke berbagai bentuk dan lapisan, atau dibentuk menjadi filament-filamen (seperti benang) dan kemudian digunakan sebagai serat-serat tekstil. Pada tahun 1862, sejarah mencatat nama Alexander Parkes menjadi orang pertama yang menemukan plastik buatan manusia pada acara Great International Exhibition di London, Inggris [http://plastics.americanchemistry.com]. Yang selanjutnya dari tahun ke tahun dikembangkan oleh para ilmuwan hingga terciptalah berbagai macam plastic seperti sekarang ini yang banyak beredar di pasaran.

Rasanya pada jaman sekarang ini kita tidak lepas dari yang namanya plastik. Hampir tiap hari kita belanja, sudah pasti dan tak bisa dihindarkan dengan yang namanya pembungkus plastik. Kalau boleh memilih sebenarnya akan lebih bagus menggunakan pembungkus non plastik, pembungkus yang ramah lingkungan.

Isu pemanasan global terus menggema dari waktu ke waktu. Bencana alam pun sering sekali terjadi akhir-akhir ini. Banjir, gunung meletus, Tsunami, gempa bumi, angin topan, kekeringan, tanah longsor dan bencana-bencana alam lainnya. Hal ini sering dikaitkan dengan efek rumah kaca yang ditimbulkan akibat adanya global warming. Material plastic yang non bio-degradable, menjadi salah satu produk yang juga menjadi penyumbang global warming, disamping produk-produk penghasil karbon yang kian memperparah lapisan atmosfir kita.

Seperti saya sendiri yang tinggal dalam komplek perumahan di Indonesia, setiap pagi penjual sayur berkeliling memasarkan dagangannya. Dengan alasan kepraktisan, semua belanjaan selalu dan pasti dibungkus dengan plastik. Dari yang berukuran kecil sampai yang besar. Dan saya perhatikan, plastik-plastik itu semuanya baru. Dari satu pedagang ini saja sudah ratusan plastik yang dia pakai. Kalau kita kalikan dengan jutaan pedagang lainnya dalam sehari, termasuk para pelaku bisnis kelas kakap seperti Mall dan hypermarket, betapa banyaknya plastik yang digunakan dan beredar dalam seharinya.

Plastik yang nampak cantik dengan segala asesorisnya, ketika sudah nyampai rumah, ujung-ujungnya ya masuk ke tempat sampah. Kalau nggak, paling-paling teronggok di pojokkan rumah kita. Semakin hari, semakin menumpuk plastic-plastik ini. Bisakah kita berperan menyelamatkan bumi kaitannya dengan penggunaan plastik? Jawabnya, Bisa!

Seperti saya yang sekarang ini sedang bekerja dan tinggal di Timur Tengah, menjadi tidak mungkin untuk membungkus makanan dengan daun pisang. Lha wong tanahnya aja gurun pasir. Maka penggunaan plastic di wilayah ini menjadi pemandangan yang lazim. Dari groseri (warung-warung kecil), supermarket, hypermarket dan mall mall, semuanya menggunakan plastic sebagai pembungkus belanjaan. Gimana peranan kita untuk menyelamatkan bumi?

Say No to Plastics! Masing-masing dari kita bisa berperan kok. Cara pertama, ketika kita hendak belanja ke supermarket atau ke mall, siapkan recycle bag atau tas belanjaan yang bisa dipakai berulang kali. Dengan recycle bag, maka kita tidak perlu menggunakan plastic-plastik dari mall atau warung. Semua barang belanjaan bisa kita masukkan ke tas kita. Maka tak satupun plastik yang kita bawa pulang dari Mall.

Cara kedua, kita tetap menggunakan plastik, tapi jumlahnya dikurangi. Misalnya begini, ketika kita belanja sejumlah barang, biasanya petugas di bagian kasir akan memisahkan barang belanjaan kita ke sejumlah plastik. Mereka memisahkan barang-barang yang bisa dimakan (makanan dan minuman) dan tidak bisa dimakan (seperti pembersih lantai, sabun, samphoo dan lainnya). Dipisahkan memang betul, tapi terkadang mereka menggunakan plastik yang banyak sekali. Mungkin sebenarnya cukup memakai 2 buah plastic pembungkus, tapi terkadang petugas ini akan memasukkannya ke dalam 5 plastik pembungkus. Jadi peran kita disini, bilang aja ke kasirnya, 2 plastik aja lah, jangan banyak-banyak plastic. Lha wong ujung-ujungnya plastic yang cantik-cantik itu juga akan dibuang ke tempat sampah.

Cara ketiga, jangan langsung buang plastic-plastik yang menumpuk di rumah kita. Tumpukan plastic yang ada di rumah kita, mari kita tata rapikan dan bisa kita gunakan lagi untuk membungkus barang-barang yang ada dirumah atau untuk belanja lagi. Ada satu cara agar plastic-plastik dirumah kita tidak menggunung. Caranya dengan melipatnya menjadi segitiga. Caranya, lipat plastic menjadi selebar 5 cm, kemudian bentuk lipatan segitiga, dilipat terus sampai ke ujung plastik. Dan jadilah plastic ini terlipat menjadi segitiga yang kecil ukurannya. Plastik-plastik yang tadinya mungkin menggunung hingga 1 meter tingginya, dengan dilipat segitiga bisa menjadi setinggi 30 centimeter saja. Silahkan mencoba sekarang untuk berpartisipasi menyelamatkan bumi kita!

Contoh plastik-plastik yang dilipat segitiga, hemat tempat!

Mari kita turut serta menyelamatkan bumi dari dalam diri dan rumah kita. Allah SWT berfirman, Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [QS Ar Ruum 41].

Semoga dengan peran serta kita untuk mengurangi penggunaan plastic bisa memberikan sumbangsih demi menyelamatkan bumi dan bisa memperpanjang umur bumi. Dan bisa kita wariskan ke anak cucu generasi mendatang. Sebelum belanja, bawalah recycle bag atau plastic-plastik bekas, dan rapikan plastic-plastik dirumah kita dengan melipatnya menjadi segitiga dan kecil ukurannya.

Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli. Save the Earth: Say no to Plastics!

Ummbab, 22 Desember 2011

Sugeng Bralink for JQ

riyadi.sugeng@gmail.com