JelajahQatar.com

Home » 2011 » December

Monthly Archives: December 2011

Facebook ‘Memaksa’ Kita Pandai Menulis

Facebook Notes

            Siapa bilang menulis itu susah? Mungkin banyak diantara kita termasuk saya sendiri adalah orang yang menganggap menulis itu susah. Membaca tulisan-tulisan para penulis handal rasanya iri. Kok bisa-bisanya menulis panjang lebar begitu ya? Gimana kita memulainya ya? Apa yang mau dituliskan ya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan  berkecamuk dalam pikiran kita. Berbagai macam alasan untuk menunda menulis pun semakin ramai dalam pikiran kita. Ujung-ujungnya tulisan pun tak jadi-jadi. Ditunda lagi dan lagi!

            Semenjak sekolah di bangku Sekolah Dasar, kita sering mendapatkan tugas dari guru kita untuk membuat karangan. Apalagi kalo habis liburan panjang atau habis mengikuti karya wisata [study tour], maka biasanya guru Bahasa Indonesia pun akan memberikan tugas kepada siswanya, membuat cerita dalam bentuk karangan. Saya termasuk dari sekian siswa yang paling nggak interest dengan yang namanya tugas ini. Apalagi guru nya pun gak pernah memberikan arahan atau contoh langsung yang konkrit bagaimana untuk membuat karangan yang bagus dan enak dibaca. Jadinya ya mengarang sejadi-jadinya. Gak tahu itu enak atau nggak dibaca nya yang penting tugas selesai dikumpulkan. (more…)

Sedekah Nggak Mesti Pake Duit!

Yuk Sedekah Biar Berkah | foto by padusi

Sedekah merupakan kata serapan dari bahasa arab ‘shadaqoh’ yang bermakna suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Sedekah juga bermakna suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai bentuk kebajikan yang mengharap keridhoaan Allah SWT dan pahala semata. Sedekah dibayarkan bukan berharap untuk mendapatkan pujian atas sesama manusia.

Dalam kitab suci Al Qur’an terdapat 15 ayat yang berkaitan langsung dengan kata ‘sedekah’. Ayat-ayat Quran yang terkait dengan hal sedekah diantaranya terdapat dalam QS Al Baqarah [ayat 196,263,264,271 dan 276], QS At Taubah [ayat 75 dan 79], QS Yusuf [ayat 88], QS Al Ahzab [ayat 35], QS Al Hadiid [ayat 18], QS Al Mujaadilah [ayat 12 dan 13], dan QS Al Munaafiqun [ayat 10].

Semenjak pagi hari kita bangun dari tidur semalaman kemudian beraktifitas seharian hingga tidur kembali, banyak sekali nikmat Allah yang kita rasakan dan kita nikmati. Seandainya kita mencoba menghitungnya, maka tak akan pernah mampu kita untuk menghitungnya. Seandainya air lautan seluruh jagad raya dijadikan tinta, maka sampai habis tinta itu untuk menuliskan nikmat Allah, maka tak kan pernah cukup tinta itu untuk menuliskan nikmat allah yang dikaruniakan kepada seluruh mahluk di muka bumi ini. Allah SWT telah berfirman yang artinya, “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya (menghitungnya). Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” [QS Ibrahim:34].

Pembaca yang baik hatinya….

Sebagai wujud rasa syukur kita pada Sang Maha Pemberi Rezeki, maka sepantasnyalah kita membayar sedekah untuk berbagi dengan yang lain yang membutuhkan. Secara umum yang namanya boros dikaitkan dengan kebangkrutan (merugi), tapi tidak demikian halnya dengan orang-orang yang boros [gemar] bersedekah. Malahan Purdi E.Candra, Boss pemilik Primagama dan Pendiri Entrepreneur University meyakini bahwa ‘hemat sedekah pangkal miskin dan boros sedekah pangkal kaya’.  Allah SWT mengingatkan kita dalam firmanNya, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak” [QS Al Hadiid: 18].

Walaupun saya bukan ahli tafsir, tapi secara tersurat jelas sekali bahwa Allah SWT menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang-orang yang bersedekah dan memberikan pinjaman yang baik kepadaNya. Ketika kita memancing ikan dengan umpan yang besar, maka kita akan mendapatkan ikan yang besar. Akan tetapi sebaliknya, jika umpannya kecil, maka ikan yang akan kita dapat pun ikan kecil. Ketika kita bersedekahnya sedikit, maka tak patut kiranya kita berharap sesuatu yang banyak dari Allah SWT. Lha wong ngasih nya aja sedikit, kok berharap banyak!

Pembaca yang dirahmati Allah…

Sedekah tak selamanya harus dibayarkan dengan uang alias DUIT. Ketahuilah bahwa setiap persendian tubuh kita juga memerlukan sedekah. Rasulullah SAW berpesan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. yang artinya, “Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedekah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan [menyelesaikan perkara] antara dua orang [yang berselisih] adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraanya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan sholat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah sedekah” [HR.Bukhari dan Muslim].

Hadits diatas mengajarkan kepada kita cara-cara membayarkan sedekah yang tidak berwujud uang yang meliputi empat hal, memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih), menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau membantu mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraan, berkata baik, melangkah menuju masjid untuk sholat dan menyingkirkan suatu rintangan dari jalan.

Rasulullah SAW menyebutkan dalam haditsnya, “Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan memiliki 360 persendian” [HR. Muslim no.2377]. Selain empat hal diatas, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menyedekahi sejumlah 360 persendian dalam tubuh setiap harinya. Kalau dalam sehari saja 360 sedekah, maka dalam hitungan seminggu menjadi 2.520 sedekah, dalam waktu sebulan menjadi 10.800 sedekah, dan dalam kurun waktu setahun menjadi 131.400 sedekah. Wah banyak sekali ya!

Trus bagaimana cara membayar sedekah untuk setiap persendian yang banyak jumlahnya itu? Rasulullah memberikan jawaban mengenai hal itu dalam sunnahnya, “Pada pagi hari diwajibkan bagi seluruh persendian diantara kalian  untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Begitu juga amar ma’ruf (memerintahkan kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at” [HR. Muslim no.1704].

Sebagai umat muslim yang taat, waktu sesudah sholat fardhu merupakan salah satu waktu yang mustajab untuk berdo’a. Di saat-saat tersebut hendaknya kita gunakan untuk berdzikir (mengingat) Allah dengan membaca tasbih, tahmid, takbir dan tahlil. Insha Allah, di waktu yang bersamaan kita bisa membayarkan sedekah atas persendian tubuh kita sendiri. Kalau misalnya setiap ba’da sholat fardhu kita membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, takbir 33 kali dan diakhiri dengan tahlil 1 kali kemudian dikalikan 5 waktu, maka total sedekah kita dalam sehari menjadi 500 sedekah. Masha Allah! Semoga Allah menerima sedekah-sedekah kita dan melipatgandakannya, amien.

Rangkaian dzikir kepada Allah yang berupa tasbih, tahmid, takbir dan tahlil serta ber’amar ma’ruf nahi mungkar bisa membayarkan sedekah kita atas persendian. Akan tetapi Rasulullah SAW juga memberikan cara lain untuk membayar sedekah itu dengan cara mendirikan sholat Dhuha 2 rakaat setiap pagi. Banyaknya amalan yang harus kita lakukan untuk membayar sedekahpersendian tadi bisa digantikan dengan ibadah dhuha 2 rakaat setiap harinya. Mudah bukan! Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang diringankan hati dan langkahnya untuk mendirikan sholat dhuha setiap harinya, amien.

Pembaca yang budiman…

Demikian tadi sedekah-sedekah yang berwujud non-tunai. Sedekah yang diwujudkan dalam bentuk amar ma’ruf nahi mungkar, dzikir kepada Allah, melangkah menuju tempat shalat, membantu sesama ke atas kendaraan, atau sekedar menyingkirkan batu di tengah jalan. Bagi anda yang mempunyai uang, baik yang jumlahnya banyak atau sedikit sekalipun, sedekahlah dengan uang tersebut. Terkait mengenai hal ini Allah SWT mengingatkan kita dalam ayatNya, “Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” {QS An Nahl:71]. Maka berbagilah dari sebagian rezeki yang telah dikaruniakan Allah, buat mereka yang sedang membutuhkan dan berhak menerimanya. Kita bisa serahkan langsung sedekah itu kepada yang berhak menerimanya agar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan mereka.

Selain itu, sedekah juga bisa kita bayarkan melalui lembaga-lembaga pengelola ZISWAF [Zakat Infak Shadaqah/sedekah dan Wakaf] di masing-masing daerah. Kalau di Qatar ada namanya Badan Zakat Nasional [Zakat Fund Qatar], Qatar Charity, Qatar Red Crescent dan badan-badan sosial lainnya. Kalau di Indonesia, kita mengenal ada BAZNAS [Badan Amil Zakat Nasional], BAZDA [Badan Amil Zakat Daerah], Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, PKPU, Laziz Muhammadiyah, Laziz NU dan lembaga-lembaga pengelola ZISWAF lainnya.

Ketika kita sudah membayarkan sedekah, sesuatu yang perlu diingat adalah menjaga diri dari menyebut-nyebutnya [riya’] dan menghindari perbuatan yang bisa menyakiti hati si penerima sedekah itu. Allah SWT mengingatkan dalam FirmanNya, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima), Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” [QS Al Baqarah: 263-264].

Demikian ulasan sedikit tentang sedekah, insha allah berkelanjutan. Ulasan singkat tentang bagaimana cara kita membayarkan sedekah, baik yang berupa uang maupun yang bukan uang [non tunai]. Semoga yang sedikit ini bisa menjadi pengingat bagi diri saya dan keluarga serta kaum muslim dimana saja berada. Yuk bersedekah agar harta yang diamanahkan Allah menjadi berkah.

Wallahua’lam bisshowab

Ummbab, 29 Desember 2011

Sugeng Bralink

riyadi.sugeng@gmail.com 

Referensi:

  1. Al Qur’anul Kareem
  2. www.rumaysho.com

Apa pentingnya Rule of Three?

With My Kids

The “rule of three” is a principle in writing that suggests that things that come in threes are inherently funnier, more satisfying, or more effective than other numbers of things. The reader/audience of this form of text is also more likely to consume information if it is written in groups of threes1. Rule of three adalah prinsip tertulis yang menunjukkan bahwa hal-hal yang datang dalam tiga hal menjadi lucu, lebih memuaskan, atau lebih efektif daripada nomor lainnya. Para pembaca/penonton dari bentuk teks juga lebih mungkin untuk mengkonsumsi informasi jika ditulis dalam aturan kelompok tiga.

Biar lebih mudah dibacanya, saya akan gunakan Rule of Three. Bagi para penulis professional pastinya sudah kenal banget dengan istilah rule of three ini. Dalam kaidah penulisan sebuah artikel lazimnya mengenal 3 unsur yaitu pembukaan, isi, dan kesimpulan/penutup.

Di Indonesia sendiri banyak digunakan istilah-istilah yang berdasar pada 3 hal. Tri merupakan ejaan dari bahasa inggris ‘Three’, tetapi juga merupakan bahasa yang diadopsi dari bahasa sansekerta yang maknanya Tiga. Kata ‘Tri’ banyak digunakan diberbagai istilah di Indonesia.

Yang menyukai kegiatan pramuka tentu masih ingat dengan Trisatya; Menjalankan kewajiban terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila, Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat dan Menepati Dasadarma.  Dalam dunia kampus ada istilah Tridarma Perguruan Tinggi; pendidikan, penelitian dan pengabdian. Bagi anda yang menyukai dunia safety dikenal istilah Fire Triangle; heat, fuel dan oxygen.

3 angka sering digunakan dalam berbagai kegiatan perlombaan. Sebut saja lomba lari, sang pemegang bendera start akan mengucapkan satu, dua, tiga! Lalu mulailah para pelari berlari sekencang-kencangnya untuk memenangkan perlombaan. Sebuah perlombaan pasti akan dimulai dari jumlah peserta lomba yang banyak. Dengan melewati babak demi babak, jumlah peserta yang awalnya banyak maka akan semakin menyusut jumlahnya ketika semakin mendekati babak final.

Pada babak kualifikasi, para peserta lomba harus mampu menunjukkan yang terbaik agar bisa meraih posisi pertama, kedua dan ketiga. Kita bisa ambil contoh, lomba karya tulis ilmiah, lomba baca quran, lomba fotografi, lomba olimpiade sains, olimpiade matematika, lomba cerdas cermat dan lomba-lomba lainnya. Puluhan bahkan ratusan peserta di babak awal harus rela tersisih oleh ketiga pemenang di babak puncak. Ketiga pemenang yang berhasil akan mendapatkan penghargaan atau medali emas, perak dan perunggu. Dalam beberapa perlombaan dikenal istilah juara harapan 1, 2 dan 3. Tapi, lagi-lagi rule of three dipakai.

Mengapa rule of three? Bukan maksud kita mengkultuskan angka tiga. Tapi angka tiga menjadi jumlah yang tidak banyak dan tidak sedikit. Jumlah tiga menjadi angka yang gampang diingat oleh siapapun. Khususnya oleh pembaca artikel atau para penghafal tips-tips motivasi, tips-tips sukses. Maka dari itu rule of three bisa menjadi satu alternatif untuk menarik minat pembaca setiap tulisan atau calon customer dari pesan-pesan promosi yang kita sampaikan. Dengan tiga hal ini akan menjadikan sesuatu yang mudah diingat dan harapannya mudah untuk diamalkan.

Dukhan, 26 Desember 2011

Sugeng Bralink for JQ

riyadi.sugeng@gmail.com

Referensi:

1. http://www.wikipedia.org

A Journey to the Northwest & North of Qatar: Zubara Fort & Al Ruways

Zubara Fort | foto by Kang Hamdi

Perjalanan kali ini, kami menuju sebuah bangunan rekonstruksi benteng di tepian semenanjung Arabia atau Arabian peninsula. Benteng ini dinamai Zubara Fort.

Zubarah is noted for its old fortress built in 1938 under orders of Qatari Sheikh ‘Abdu’llah bin Qasim Al-Thani and restored in 1987 as a museum [www.muslimrishtey.com]. Zubara merupakan benteng tua yang dibangun pada tahun 1938 dibawah perintah Sheikh Abdullah bin Qasim Al Thani dan direstorasi atau dibangun kembali pada tahun 1987 sebagai Museum.

Trip jelajah Qatar kedua berjalan lebih mulus dibanding saat perjalanan menuju Zekreet Film City. Perjalanan kali ini memang disiapkan dengan lebih matang. Kali ini kami menumpang kendaraan bermesin Honda dengan power 2400cc. Sebut saja namanya si CR. Warna metallic gold nya mampu membikin orang yang melihatnya terpesona. Pokoknya perjalanan di awal musim panas menjadi semakin nyaman dan nyaman.

Pagi menjelang siang, suhu udara belum begitu panas. Suhu udara berkisar 300  Celcius-an. Kami berlima segera berkemas dengan mulai menyiapkan perbekalan. Menu makan siang sudah komplit. Menu siang ini, sewadah magic jar isi nasi, ikan dan telur berbumbu pedas, sayurannya cukup dengan irisan mentimun dan wortel, sambal asli racikan super pedas, dan sambal instant dalam botol. Dilengkapi juga dengan buah semangka berdaging merah, jeruk berkulit oranye, pisang impor dari Filipina, apel merah impor dari Amrik, air mineral produk lokal Qatar [bermerk Rayyan] dan beberapa kaleng minuman bersoda [bermerk mirinda]. Nggak kalah ama persiapan ibu-ibu dech!

Inside Zubara Fort | foto by Kang Hamdi

Setelah tangki minyak dipenuhi dengan bensin super [pertamax kalo di Indonesia, bahkan disini octane nya lebih tinggi] seharga 1 qatar riyal per liter, si Metallic Gold segera meluncur menuju ke TKP. Zubara Fort dan Al Ruways Park sudah terbayang di pikiran kami masing-masing.

Tak berselang lama, jembatan Jumailiyyah ada di depan kami. Kang Riboed yang menyetir kendaraan segera membelokkan laju si roda empat mengikuti petunjuk arah menuju Kampung Jumailiyyah. Setibanya kendaraan di pertigaan dekat dengan Jumailiyyah Civil Defence [kantor pemadam kebakaran di Qatar], si CR segera berbelok kanan sampai ketemu persimpangan berikutnya dan kemudian belok kiri lagi.

Melihat ada musholla kecil yang sudah pasti ada toiletnya, kami mampir sebentar untuk mengosongkan kandung kemih. Dengan waktu yang sangat singkat pun kami sempatkan bergaya ria di depan kamera poket. Mengabadikan suasana lah!

Tak menunggu lama, kami lurus menelusuri jalanan beraspal yang sangat sepi lalu lintasnya. Terkadang berpapasan dengan 1 atau 2 kendaraan saja. Itupun setelah hampir setengah jam baru papasan. Ya namanya aja jalan kampong, pokoknya super sepi. Kalau di Indonesia mungkin masih ada motor bebek atau ayam kampong lewat, disini boro-boro ada. Yang ada kanan kiri hanya gurun pasir yang luas menghampar.

Untuk menghindari kecelakaan, pemerintah Qatar juga memasang pagar pembatas di pinggiran gurun, dekat jalan raya. Pagar kawat besi bertujuan sebagai penghalang onta-onta yang sedang digembala di gurun. Karena kalau tidak, bisa-bisa onta nya pada masuk ke jalan raya dan membahayakan dirinya dan diri pengendara kendaraan bermotor.

Lebih 30 menitan berlalu setelah kami melewati kampung jumailiyyah, sampai juga kami di pertigaan yang menunjukkan dua arah, Zubara dan Doha. Lagi-lagi narsis, kami berfoto lagi dengan latarbelakang papan petunjuk jalan yang berwarna dasar biru dan bertuliskan dengan warna putih, Doha dan Zubara.

Direction to Zubara Fort | foto by Kang Hamdi

Ya hanya 5 menitan, kami pun segera meluncur mengikuti petunjuk arah menuju zubara. Tak berselang lama, kamipun sampai di benteng itu. Tak ada satupun mobil terparkir, satu batang hidung pun juga tak nampak, baik  pengunjung atau penjaganya. Sepi dan sepi….

No worry! Kami pun segera menyiapkan persenjataan ‘fotografi’. Kang hamdi dengan DSLR nya siap diterjunkan untuk mengambil gambar di replika bangunan bersejarah ini. Saya, Kang riboed dan Kang kamim segera mengeluarkan kamera digital nya yang super sederhana. Ya…yang penting ada alat untuk mengabadikan peristiwa. Dengan foto, peristiwa itu bisa diceritakan sendiri oleh yang melihatnya.

Setelah puas mengelilingi keseluruhan Zubara Fort dan berfoto bersama di depan benteng, kami juga menuju ke bibir pantai. Di kejauhan nampak 1 bis karwa yang sedang membawa wisatawan berkeliling di area tepi pantai. Banyak sekali bebatuan bekas reruntuhan bangunan. Walupun lokasi ini hanya berisikan bebatuan tak beraturan, tapi wilayah ini adalah daerah dilindungi Negara. Area ini diberi nomor lokasi m-17 dan dinamai Al Zebara [lihat gambar]. Area bersejarah ini dibawah pengawasan langsung National Council for Culture Arts and Heritage, Museums and Antiquities Department, State of Qatar.

Zubara Ruins under Qatari Heritage | foto by Sugeng Bralink

Tak berselang lama, suhu udara semakin panas karena hari semakin siang. Kami pun segera meluncur ke destinasi berikutnya yaitu Al Ruways. Tak satupun dari kami yang pernah ke sana. Hanya bermodalkan dari peta Qatar dan dibantu dari google map, kami beranikan diri ke ujung utara Qatar demi menjelajah lebih jauh negeri ini.

Dalam perjalanan menuju Ruways, kami melewati satu perkampungan yang nampak hijau. Disisi kiri jalan menuju ruways, penyiram air otomatis sedang mengguyurkan airnya ke hehijauan tapi tumbuhan apa yang ditanam kami pun tak tahu. Tapi sekilas seperti tanaman padi. Walaupun bertanah gersang, Qatar pun berani mengembangkan agrikultur.

Lunch Together @Al Shamal Park | foto by Kang Hamdi

Perkampungan hijau kita lewati, akhirnya kita sampai di Al Shamal Highway. Satu jalan bebas hambatan yang masih dalam tahap konstruksi. Jalan yang menghubungkan kota Doha dengan Kota Al Shamal, Al Ruways. dengan jalur yang cukup lebar, kendaraan kami melaju kencang dengan kecepatan rata-rata 120KM/jam. Sesekali kecepatan dikurangi karena adanya Road Diversion atau pengalihan jalan. Ya namanya aja masih dalam tahap konstruksi, maka di sana sini masih banyak jalur yang dialihkan, kadang ke kanan kadang ke kiri. Walaupun jalanan mulus, kami pun harus extra hati-hati.

Jarum jam menunjukkan jam 11 siang waktu Al Ruways. si CR mencoba menyusuri jalanan ke ujung pantai. Kami berniat menelusuri pantai di Ruways, yang katanya sering banyak dijual kepiting dan cumi-cumi. Tapi lagi-lagi banyak konstruksi jalanan di Ruways. kami pun putuskan untuk segera bersiap sholat Zuhur di masjid terdekat. Begitu masuk masjid, rasanya Nyess.

Al Shamal Park | foto by Sugeng Bralink

Selepas sholat jamaah Zuhur, kami segera menuju di taman kota yang tak jauh dari bundaran di pintu gerbang kota Shamal, Ruways. taman itu dinamai Al Shamal Park. Kami ga tahu apakah taman itu dibuka untuk umum atau khusus untuk keluarga. Berbekal informasi dari pak satpam, kami pun masuk ke taman shamal dan segera membuka perbelakan makan siang yang sudah kami siapkan. Nasi dan konco-konco nya segera kamu bongkar dan disantap bersama. Rasanya mak nyozz!! Cape keliling trus ditutup dengan menu makan siang special dan tak lupa dan tak ketinggalan, foto-foto dulu!

Sampai jumpai di reportase Jelajah Qatar berikutnya, menelusuri Qatar dari ujung ke ujung.

Pokoknya Jelajah Qatar, Enroll|Explore|Enjoy

Coordinates:  25.402’9N dan 56.361’41E

Dukhan, 25 Desember 2011

Sugeng Bralink

riyadi.sugeng@gmail.com

Mengeluh Bukan Solusi!

Enjoy Life Wherever We Are | Borneo Forest

Update status! Ya…istilah ini menjadi semakin popular setelah lahirnya social network yang super heboh, FACEBOOK. Jumlah pemakai jejaring social kreasi Mark Zuckerberg ini, sampai Juni 2011 telah mencapai angka 710.728.720 orang [www.internetworldstats.com]. Angka yang sangat fantastis!

Detik demi detik, jutaan bahkan miliaran status pun terus mengalir dan bermunculan di layar maya. Isinya pun beraneka ragam. Ada yang penuh motivasi, inspirasi, semangat, dan hal-hal positif lainnya. Tapi dilain pihak, tak sedikit kita temukan status-status yang berisi hal-hal pesimistis, menurunkan motivasi, dan mungkin hanya sekedar keluh kesah atau mengeluh.

Setiap manusia di dunia ini mempunyai permasalahan masing-masing. Baik yang berskala kecil atau besar. Dari yang gampang dicari solusinya sampai yang tak kunjung terselesaikan. Kita tak bisa menghindari itu! Tapi perlukah kita mengeluh ketika kita menghadapi sebuah masalah atau beban berat? Perlukah kita berkeluh kesah di dunia maya tanpa tahu siapa yang kita ajak berbagi? Apakah keluhan-keluhan kita itu akan memberikan solusi?

Memang update status di social network nomer wahid di jagad raya ini semakin mangtabs saja. Akses ke dunia maya dari hari ke hari semakin mudah. Kita tentu masih ingat jamannya warnet [warung internet] booming di mana-mana. Kapan waktu kita ingin membuka internet maka kita harus ke warnet. Tarif pun masing sangat mahal. Saya masih ingat ketika saya harus membayar tarif browsing di warnet, 12000 per jam. Beda jauh dengan sekarang, tarifnya hanya 2500 perak/jam. Murahnya harga akses warnet juga didukung dengan speed yang super cepat. Selain itu, akses internet pun sudah semakin gampang saja. Tiap individu yang punya HaPe bisa menikmati fasilitas internet. Tak dipungkiri, kemudahan-kemudahan akses internet ini hadir seiring maraknya social network.

Para pemberi jasa telekomunikasi atau yang lazim disebut Telecommunication Provider saling berlomba-lomba memberikan tarif yang super murah untuk kemudahan akses ke dunia maya. Ada yang nawarin tarif murah broadband nya, ada juga yang nawarin tarif murah per download nya. Pokoknya, customer mempunyai banyak pilihan dan semakin dimanja. Di Qatar sendiri, tarif paling murah yang saya nikmati sekarang adalah tarif dari salah satu provider yang memasang bandrol, 15 QAR untuk akses internet 50MB/bulan. Kalau melebihi ya nambah bayarannya. Hehehe…kok jadi ngomongin tarif internet sih J J

Kembali lagi soal mengeluh atau berkeluh kesah, Allah SWT telah mengingatkan dalam firman NYA, Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah[QS Al Ma’arij: 19-20].

Manusia adalah mahluk yang mempunyai kelebihan dibanding mahluk Tuhan lainnya. Manusia diberikan kelebihan akal untuk bisa berpikir. Inilah yang bisa menjadi pembeda manusia dengan binatang. Secantik dan secerdas apapun namanya binatang tetap binatang. Dia tidak mempunyai akal dan pikiran. Ketika seekor kambing kelaparan, maka dia akan mengembik dan meraung-raung ke majikannya agar segera disediakan rumput untuknya. Rasanya menjadi tak jauh beda apabila manusia mempunyai masalah kemudian hanya mengeluh tanpa mencari solusi. Dia hanya sibuk mengupdate keluh kesahnya di dinding facebook atau men-tweet nya di kolom twitter.

Saya sendiri tidak menyalahkan pada siapapun yang hobby-nya berkeluh kesah di update status. Tapi artikel ini sekedar menjadi pengingat buat saya sendiri utamanya dan bagi facebook-er yang merasa diingatkan. Di dunia ini memang selalu berpasang-pasangan. Ada kaya ada miskin, ada baik ada buruk, ada cantik ada jelek, ada yang optimistis ada juga yang pesimistis. Begitupun update status facebook, ada yang penuh motivasi tapi ada yang hanya berisi keluh kesah tanpa solusi.

Melalui artikel ini saya mengajak, mari kita manfaatkan akses jejaring social yang fenomenal ini untuk mengembangkan diri, membesarkan organisasi, mempromosikan usaha, meluaskan pertemanan atau network, membuka wawasan dan hal-hal positif lainnya. Siapa tahu dari grup-gerup kecil yang kita kreasi di facebook, suatu hari nanti bisa menjadi perusahaan besar. Siapa tahu notes-notes yang kita tuliskan di notes page-nya facebook, coretan-coretan ringan di blog, bisa dicetak menjadi buku dan menjadi Best Seller di kemudian hari. Kita perlu ingat bahwa selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Janganlah mengeluh tapi carilah solusi!

Ummbab, 24 Desember 2011

Sugeng Bralink for JQ

riyadi.sugeng@gmail.com

Save The Earth: Say No to Plastics!

Save the Earth: Say No To Plastics! | photo by fightplastic.com

Saya teringat jaman dulu ketika saya masih mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar di tahun 80an. Sepulang sekolah, terkadang ibunda tercinta meminta saya membeli lothek (makanan yang berisi sayuran dan dibumbui kacang) untuk sekedar camilan atau melengkapi menu makan siang. Makanan atau jajanan yang satu ini hampir semuanya berwarna hijau, ada daun singkong, daun cakla cikli, daun kangkung, daun gendhot, tauge, daun bayam, bunga kecombrang yang merah warnanya dan sayur-sayuran lainnya. Banyak dari sayur-sayuran ini yang bisa kita petik di kebun samping rumah, ya namanya aja di pedesaan. Setelah semuanya siap, si Mbok warung akan membungkusnya dengan daun pisang atau daun waru. Kalau diperhatikan dari isi dan pembungkusnya, semuanya merupakan benda-benda yang bio-degradable atau mudah dicerna atau dihancurkan oleh tanah. Nggak seperti sekarang! Apa-apa dibungkus dengan plastik!

Plastik adalah sintetis atau polymer buatan manusia, mirip dengan resin natural yang banyak ditemukan di pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kamus Webster’s mendefinisikan polymer sebagai sekumpulan organic komplek yang diproduksi oleh polymerization, bisa dibentuk, extruded, dicetak ke berbagai bentuk dan lapisan, atau dibentuk menjadi filament-filamen (seperti benang) dan kemudian digunakan sebagai serat-serat tekstil. Pada tahun 1862, sejarah mencatat nama Alexander Parkes menjadi orang pertama yang menemukan plastik buatan manusia pada acara Great International Exhibition di London, Inggris [http://plastics.americanchemistry.com]. Yang selanjutnya dari tahun ke tahun dikembangkan oleh para ilmuwan hingga terciptalah berbagai macam plastic seperti sekarang ini yang banyak beredar di pasaran.

Rasanya pada jaman sekarang ini kita tidak lepas dari yang namanya plastik. Hampir tiap hari kita belanja, sudah pasti dan tak bisa dihindarkan dengan yang namanya pembungkus plastik. Kalau boleh memilih sebenarnya akan lebih bagus menggunakan pembungkus non plastik, pembungkus yang ramah lingkungan.

Isu pemanasan global terus menggema dari waktu ke waktu. Bencana alam pun sering sekali terjadi akhir-akhir ini. Banjir, gunung meletus, Tsunami, gempa bumi, angin topan, kekeringan, tanah longsor dan bencana-bencana alam lainnya. Hal ini sering dikaitkan dengan efek rumah kaca yang ditimbulkan akibat adanya global warming. Material plastic yang non bio-degradable, menjadi salah satu produk yang juga menjadi penyumbang global warming, disamping produk-produk penghasil karbon yang kian memperparah lapisan atmosfir kita.

Seperti saya sendiri yang tinggal dalam komplek perumahan di Indonesia, setiap pagi penjual sayur berkeliling memasarkan dagangannya. Dengan alasan kepraktisan, semua belanjaan selalu dan pasti dibungkus dengan plastik. Dari yang berukuran kecil sampai yang besar. Dan saya perhatikan, plastik-plastik itu semuanya baru. Dari satu pedagang ini saja sudah ratusan plastik yang dia pakai. Kalau kita kalikan dengan jutaan pedagang lainnya dalam sehari, termasuk para pelaku bisnis kelas kakap seperti Mall dan hypermarket, betapa banyaknya plastik yang digunakan dan beredar dalam seharinya.

Plastik yang nampak cantik dengan segala asesorisnya, ketika sudah nyampai rumah, ujung-ujungnya ya masuk ke tempat sampah. Kalau nggak, paling-paling teronggok di pojokkan rumah kita. Semakin hari, semakin menumpuk plastic-plastik ini. Bisakah kita berperan menyelamatkan bumi kaitannya dengan penggunaan plastik? Jawabnya, Bisa!

Seperti saya yang sekarang ini sedang bekerja dan tinggal di Timur Tengah, menjadi tidak mungkin untuk membungkus makanan dengan daun pisang. Lha wong tanahnya aja gurun pasir. Maka penggunaan plastic di wilayah ini menjadi pemandangan yang lazim. Dari groseri (warung-warung kecil), supermarket, hypermarket dan mall mall, semuanya menggunakan plastic sebagai pembungkus belanjaan. Gimana peranan kita untuk menyelamatkan bumi?

Say No to Plastics! Masing-masing dari kita bisa berperan kok. Cara pertama, ketika kita hendak belanja ke supermarket atau ke mall, siapkan recycle bag atau tas belanjaan yang bisa dipakai berulang kali. Dengan recycle bag, maka kita tidak perlu menggunakan plastic-plastik dari mall atau warung. Semua barang belanjaan bisa kita masukkan ke tas kita. Maka tak satupun plastik yang kita bawa pulang dari Mall.

Cara kedua, kita tetap menggunakan plastik, tapi jumlahnya dikurangi. Misalnya begini, ketika kita belanja sejumlah barang, biasanya petugas di bagian kasir akan memisahkan barang belanjaan kita ke sejumlah plastik. Mereka memisahkan barang-barang yang bisa dimakan (makanan dan minuman) dan tidak bisa dimakan (seperti pembersih lantai, sabun, samphoo dan lainnya). Dipisahkan memang betul, tapi terkadang mereka menggunakan plastik yang banyak sekali. Mungkin sebenarnya cukup memakai 2 buah plastic pembungkus, tapi terkadang petugas ini akan memasukkannya ke dalam 5 plastik pembungkus. Jadi peran kita disini, bilang aja ke kasirnya, 2 plastik aja lah, jangan banyak-banyak plastic. Lha wong ujung-ujungnya plastic yang cantik-cantik itu juga akan dibuang ke tempat sampah.

Cara ketiga, jangan langsung buang plastic-plastik yang menumpuk di rumah kita. Tumpukan plastic yang ada di rumah kita, mari kita tata rapikan dan bisa kita gunakan lagi untuk membungkus barang-barang yang ada dirumah atau untuk belanja lagi. Ada satu cara agar plastic-plastik dirumah kita tidak menggunung. Caranya dengan melipatnya menjadi segitiga. Caranya, lipat plastic menjadi selebar 5 cm, kemudian bentuk lipatan segitiga, dilipat terus sampai ke ujung plastik. Dan jadilah plastic ini terlipat menjadi segitiga yang kecil ukurannya. Plastik-plastik yang tadinya mungkin menggunung hingga 1 meter tingginya, dengan dilipat segitiga bisa menjadi setinggi 30 centimeter saja. Silahkan mencoba sekarang untuk berpartisipasi menyelamatkan bumi kita!

Contoh plastik-plastik yang dilipat segitiga, hemat tempat!

Mari kita turut serta menyelamatkan bumi dari dalam diri dan rumah kita. Allah SWT berfirman, Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [QS Ar Ruum 41].

Semoga dengan peran serta kita untuk mengurangi penggunaan plastic bisa memberikan sumbangsih demi menyelamatkan bumi dan bisa memperpanjang umur bumi. Dan bisa kita wariskan ke anak cucu generasi mendatang. Sebelum belanja, bawalah recycle bag atau plastic-plastik bekas, dan rapikan plastic-plastik dirumah kita dengan melipatnya menjadi segitiga dan kecil ukurannya.

Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli. Save the Earth: Say no to Plastics!

Ummbab, 22 Desember 2011

Sugeng Bralink for JQ

riyadi.sugeng@gmail.com

A Journey to The Scene of TRANSFORMERS 1: Zekreet Film City

Zekreet Film City dilihat dari atas

Pagi itu 4 Mei 2011 cuaca sangat bersahabat. Suhu udara mulai berangsur hangat dari bulan-bulan sebelumnya yang berhawa dingin di Qatar. Sehabis sarapan pagi di restoran milik perusahaan tempat kami bekerja, kami berlima segera berkemas dengan tanpa bekal yang cukup. Sampai sekedar air mineral pun tak kami bawa. Pikir kami, ahh sebentar ini!

Pagi itu, kami berencana menuju satu tempat yang banyak orang bilang Film City. Lebih tepatnya, tempat yang akan kami explore ini dinamai Zekreet Film City [ZFC]. Walaupun ada sebagian lagi yang menamainya The Lost City.

Kami sebagai pekerja migran yang tinggal di Dukhan, kebetulan hanya berjarak sekitar 30KM dari ZFC, rasanya terpanggil juga untuk menengoknya. Masa  kalah sama orang-orang yang tinggal jauh dari ZFC. Orang-orang yang dari Doha, Alkhor, Wakrah dan Messaied bahkan sudah banyak yang beranjang sana ke ZFC.

Tempat ini merupakan salah satu tempat tujuan para wisatawan baik lokal maupun internasional di Qatar. Konon bahwa tempat ini pernah dijadikan tempat syuting Film Hollywood yang sangat terkenal, TRANSFORMERS seri pertama. Berawal dari sinilah kemudian banyak orang menyebut tempat ini dengan sebutan Zekreet Fim City, karena memang tempat ini hanya berjarak sekitar 20KM dari kampung Zekreet.

Diantara kami berlima ini belum pernah ada yang tahu dimana ZFC berada. Tanpa informasi yang jelas, tanpa data koordinat, tanpa petunjuk jelas, kami nekad berangkat. Kami hanya bermodalkan informasi bahwa dari Kampung Zekreet lama belok kanan dan lurus saja. Nanti ketemu!

Ahh gampang! Nanti sambil jalan aja! Itulah yang ada dalam pikiran kami waktu itu.

Mengendarai kendaraan roda empat dengan 4 wheel drive nya, kami mampir ke Dukhan Petrol Station untuk mengisi bahan bakar. Tak lebih 50 liter, tangki bahan bakar sudah penuh terisi, karena memang pemilik mobilnya selalu rajin mengisi bahan bakarnya.

Bahan bakar penuh, aman sudah pikir kami. Dengan kecepatan tak lebih dari 120KM/ jam, kendaraan melaju menuju Zekreet Bridge. Sambil diringi obrolan santai dan diselingi canda tawa, kendaraan dengan brand LC warna putih tanpa terasa telah berada dekat dengan Zekreet Bridge.

Kendaraan terus melaju yang kemudian belok ke kiri. Tak jauh dari Zekreet Bridge nampak 2 bangunan besar. Disisi kanan jalan adalah Zekreet Arabic School. Sebuah sekolah milik pemerintah Qatar, kalau di Indonesia ya disebut SD Negeri. Kemudian disisi kiri jalan nampak bangunan yang besar dan kelihatan megah. Ya, Rumah Sakit Dukhan yang baru. Rumah Sakit yang baru saja beroperasi sejak bulan April lalu. Sejak bulan lalu, RS ini memberikan pelayanan rawat jalannya saja. Untuk layanan rawat inap dan fasilitas penunjang lainnya akan dibuka di akhir tahun ini atau selambat-lambatnya awal tahun 2012.

Fotografer nya lagi nggaya dulu 🙂

Dengan persiapan yang kurang lengkap, hanya berbekal kamera tanpa dibekali minuman dan makanan, si LC terus melaju menuju sebuah kampong lama Zekreet. Memasuki kampung ini, kami melihat ada beberapa bangunan yang nampak jarang ditempati. Tapi dari kejauhan juga, terlihat ada beberapa orang yang sedang lalu lalang. Sesampai di kampong ini, kami bingung. Ke arah mana lagi nih! Kami pun akhirnya bertanya ke salah satu penggembala unta. Kami bermaksud bertanya mengenai detail lokasi ZFC. Namun sayang, ternyata mereka nggak bisa bahasa inggris, apalagi bahasa arab. Mendengar logatnya, mereka kalo gak orang india, Bangladesh, srilanka atau Nepal. Gak tahu lah, kami pun gak sempat nanya dari mana mereka. Bagaimana mau nanya, mereka aja gak bisa bahasa inggris. Mau ditanya pake bahasa Indonesia, dah tentu makin gak ngerti kan!? Hehhee..

Berbekal informasi yang semakin gak jelas, kami putuskan bersama untuk balik arah dan berbelok kiri, karena terlihat jalanan yang bukan asphalt nampak mengeras. Nampak bekas ban-ban kendaraan yang baru saja lewat.

Tak jauh kami berbelok kiri, nampak percabangan jalan. Kami pun tambah bingung. Setelah berdiskusi singkat, kami putuskan ambil jalan yang ke kanan. Jalanan tak berasphalt itu kami telusuri dengan kecepatan yang super pelan. Semakin jauh semakin gak ketemu ZFC nya. Jangan-jangan salah jalan nih!

Nampang dibalik Perbukitan Zekreet

Dari kejauhan yang terlihat hanya perbukitan-perbukitan kecil. Walaupun hanya bukit2 yang tak begitu tinggi, tapi unik lho! Naluri cinta alam saya bangkit. Saya pun mengusulkan ke teman-teman untuk mampir saja kesana sambil dinikmati pemandangannya. Pemandangan gurun tentunya. Bukan pemandangan hehijauan layaknya di Indonesia.

Aksi jeprat-jepret pun tak dilewati begitu saja. Kami saling bergantian ambil gambar dengan 2 kamera yang ada. 1 kamera punya kang hamdi dengan DSLR nya, sementara punya saya yang hanya kamera poket.

Yah hari makin siang. Makin panas aja. Kami pun segera meninggalkan tempat ini dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ZFC. Tak berselang lama kendaraan kami melaju ke arah balik tadi, terlihat ada sebuah mobil yang melaju agak kencang. Kami pun segera mengikuti arah laju mobil itu. Setelah beberapa KM, kami pun akhirnya ketinggalan. Dan sendiri lagi!

Dengan modal super Pede, LC putih terus melaju menelusuri jalanan yang biasa dilalui kendaraan. Kami sempat melihat ada satu komplek yang dipagari, lumayan panjang. Bebatuan gurun yang dipagari, semacam hutan lindung nya Indonesia. Karena disini adanya gurun, sebut saja ini sebagai Gurun lindung atau Desert Conservation.

Dukhaners Berpose di Zekreet Desert

Sambil kendaraan melaju, sinyal Hape masih sangat kuat. Wah saatnya memanfaatkan teknologi. Saya pun segera menelpon teman yang pernah ke ZFC. Dengan bantuan seorang teman, sebut aja namanya Ghoz tapi bukan Ghost hantu ya, hehehe. Akhirnya kami dapatkan data koordinat ZFC. Untuk menambah data pelengkap, saya juga menelpon teman kerja asli Filipina, yang juga pernah ke ZFC. Dia memberikan arahan agar terus aja menelusuri jalanan sampai menemukan sign board Borooq Coast Guard, lurus terus menelusuri pinggiran gurun sampai menemukan Qtel Tower yang menjulang tinggi.

Hampir sejam berlalu, akhirnya kami menemukan menara telkomnya Qatar [Qtel] yang disampaikan teman saya sebelumnya. Tapi ternyata, dekat lokasi Tower tersebut kami belum juga menemukan ZFC. Kami beranikan diri menuju sebuah pos penjaga pantai “Borooq Coast Guard“. Sebelum sampai ke kantor, sebuah mobil coast guard dengan 2 orang didalamnya bergerak menuju ke arah dimana mobil kami berhenti. Kami pun tak segan bertanya keberadaan lokasi ZFC dengan bahasa arab kami yang terbata-bata, bahasa arab super pas pas an. Pas butuh pas bisa! hehe:)

Mengintai musuh di Mystery Village

Berbekal informasi dari petugas penjaga pantai itu, kami berbalik arah menuju lokasi yang ditunjukkan. Setelah 2 Km kita lewati, belum ketemu juga ZFC ini. Alhamdulillah ditengah perjalanan mencari, kami ketemu lagi dengan satu penjaga pantai yang lain, yang lagi patroli. Dengan kemampuan bahasa arab terbatas, kami tanyakan ke petugas ini. Dan dengan jelasnya, dia memberikan tempat yang sudah sejak tadi kami akan tuju. Petugas ini bilang ada dua tempat, satu dibalik bukit itu yang lebih dikenal dengan Mystery Village dan satunya lagi berjarak sekitar 1-2 KM dari lokasi yang pertama, yang disebut sebagai ZFC atau Film City. Dengan mengucap ‘Syukran‘  sebagai ucapan terima kasih dan kami pun melambaikan tangan ke pak penjaga pantai ini sambil berucap ‘assalamu’alaikum’. Tanpa tunggu lama kami pun segera meluncur ke TKP. 🙂

Zekreet Mystery Village

Sekitar lima menit kemudian akhirnya sampailah ke tempat yang kita tuju, Mystery Village. Biasa, foto foto lagi! Dari yang sendirian, berdua, berbarengan dan bergaya di depan mobil. Dari menelusuri setiap pojok lembah, menaiki perbukitan yang tak begitu tinggi, dan bergaya ria di balik tumpukan bebatuan gurun yang disusun seperti pos-pos pengintaian.

Setelah beberapa menit ke salah satu lokasi syuting Transformers ini, kami pun segera meninggalkan tempat ini untuk menuju ke ZFC. Sesampai di sana, tiba-tiba datang seorang penjaga tempat ini, seorang Sudani yang katanya bernama Muhammad. Dia mempersilahkan kami ke dalam. Namun sebelum masuk, dengan isyarat bahwa dia meminta kami memberikan uang sekedarnya. Akhirnya kami koleksi sekedar uang dan dikasihkan ke Muhammad.

Kami dipersilahkan masuk ke ZFC, dan dia menyuguhkan teh hangat ala arab “sulaimani“. Dia begitu welcome. Dan dia mengambilkan kita foto bersama sebagai bentuk kenang-kenangan di sebuah teras dengan bangku-bangku seadanya. Nampak sebuah lampu tua dan satu majalah kumal berbahasa inggris tergeletak di meja. Setelah beristirahat sejenak sambil menikmati sulaimani, kami lanjutkan mengambil foto sana sini, mengelilingi keseluruhan bangunan. Setelah mengambil air wudhu dari tangki air yang ada didekat pintu gerbang, kami pun menyempatkan sholat dhuha di musholla kecil di dalam bangunan utama ZFC ini.

Menikmati Sulaimani di Film City

Tak terasa 1 jam lebih kami nikmati bekas lokasi syuting film Transformers 1 ini. Kami putuskan untuk segera kembali ke Dukhan, karena hari pun makin siang dan makin panas. Jalan pulang yang kami tempuh berbeda dengan jalan saat berangkat. LC putih dengan laju perlahan menelusuri gurun pasir yang nyaris tanpa pepohonan. Kanan kiri hanya nampak gurun pasir dan bebatuan gurun. Yang jelas bahwa dibalik setiap penciptaan Yang Maha Besar itu pasti ada maksud dan hikmahnya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan [QS Al Baqarah: 164]

Having Fun di Zekreet Film City

Inilah bagian perjalanan kami yang pertama dalam usaha untuk mengeskplor Qatar. Sampai jumpa lagi!

Info Coordinates ZFC [diambil dari blog Wahyu in Qatar]

– Zekreet exit: 25 26’24.7″N 50 59’12.6″E

– Zekreet Mosque 25 29’07.41″N 50 50’48.22″E

– Film City: 25 34’41.61″N 50 50’46.65″E

– Mystery Village: 25 35’11.67″N 50 50’10.29″E

atau bisa dibuka di Wikimapia

Official Trailer of Transformer 1 bisa diklik DISINI!

Dukhan, 27 Mei 2011 14.45 PM

Sugeng Bralink for JQ

riyadi.sugeng@gmail.com

Dukhan Menggelar Peringatan Qatar National Day Untuk Pertama Kalinya!

Ibu-ibu warga Indonesia antusias memeriahkan Qatar National Day

18 Desember menjadi tanggal yang istimewa bagi Negeri Qatar, negeri yang kaya akan sumber minyak dan gas ini. Pada tanggal ini diperingati menjadi Hari Nasional Qatar atau Qatar National Day [QND]. Disamping itu, Pemerintah Qatar juga menjadikan hari ini sebagai hari libur nasional.

“Every December 18th, we celebrate our National Day in commemoration of the historic day in 1878 when Shaikh Jasim, the founder of the State of Qatar, succeeded his father, Shaikh Muhammad Bin Thani, as the ruler and led the country toward unity. This national occasion emphasizes our identity and history, embodies the ideals and visionary aspirations that this country was founded on, and pays homage to the great men and women who participated in building our nation. December 18th is the day we remember how our national unity was achieved and how we became a distinct, and respected nation out of a society torn apart by conflicting tribal loyalties, devoid of security and order, and overrun by invaders” [ndqatar.com]

Setiap tanggal 18 Desember, kita [Qatar] merayakan Hari Nasional sebagai peringatan hari bersejarah di tahun 1878 ketika Shaikh Jasim, Pendiri State of Qatar, menggantikan ayahnya, Shaikh Muhammad Bin Thani, sebagai penguasa dan pemimpin Negara menuju persatuan. Peristiwa nasional ini menekankan identitas dan sejarah Qatar, mewujudkan cita-cita dan aspirasi visioner bahwa Negara ini didirikan, dan membayar penghormatan kepada pria besar dan wanita yang telah berpartisipasi dalam mendirikan negeri Qatar. 18 Desember adalah hari Qatar mengingat bagaimana persatuan nasional kita capai dan bagaimana kita menjadi bangsa yang berbeda, dan Negara yang dihormati yang keluar dari sebuah masyarakat yang terpecah oleh kesetiaan suku yang saling bertentangan, tanpa keamanan dan ketertiban, dan dikuasai oleh penjajah.

Beberapa tahun yang lalu, tidak ada peringatan hari nasional di Qatar. Yang ada hanyalah peringatan kemerdekaan Qatar dari Perlindungan Inggris [Britain Protectorate]. Peringatan Independence Day dilaksanakan setiap tanggal 3 September karena di hari Jumat, 3 September 1971, Qatar memproklamasikan negaranya menjadi Negara yang merdeka dari perlindungan United Kingdom. Tapi kemudian peringatan hari kemerdekaan Qatar disatukan dengan peringatan persatuan Qatar terhadap Shaikh Jasim bin Muhammad bin Thani [The Founding Father of Qatar],  setiap tanggal 18 Desember.

Beberapa hari sebelum hari “H”, pemerintah Qatar sudah menyibukkan diri dengan berbagai macam persiapan dalam menyambut QND. Secara nasional, peringatan biasanya dilaksanakan di Jalan Raya Corniche, Doha. Jalan dua jalur pun ditutup. Di sisi jalan, terlihat kursi-kursi berjajar rapi. Tiang-tiang lampu jalan dan pepohonan kurma dihiasi dengan lampu-lampu hias. Bunga-bunga yang baru bermekaran pun nampak semakin mempercantik sisi jalan raya. Sound sytemyang  berukuran jumbo mulai dipasang di sana sini. Umbul-umbul QND dan bendera Qatar turut berkibar, seiring dengan tiupan angin laut yang berhembus dari Teluk Persia.

Parade Pasukan Onta di Corniche, Doha 2011 | foto by Ummi Balqis Dukhan

Menjelang hari H, kendaraan roda empat sebagai moda transportasi utama di Qatar dihiasi dengan ornament warna merah marun dan putih. Dua warna dasar dari bendera Qatar. Ada yang menempeli stiker bendera Qatar, ada yang memasang bendera Qatar berukuran kecil dibalik kaca jendela mobil, ada juga yang memasang stiker transparan menutupi keseluruhan kaca mobil bergambar Emir Qatar, His Highness Shaikh Hamad bin Khalifa Al Thani dan Prince, His Highness Shaikh Tamim Bin Hamad bin Khalifa Al Thani. Yang pasti, kesemuanya bertemakan QND. Tentu dengan tampilan dua bahasa, Arab dan Inggris serta dominasi warna bendera Qatar.

Hari yang dinanti pun tiba, saya yang kebetulan tak bisa menjadi salah satu pengunjung/saksi acara yang fenomenal ini. Saya hanya bisa menyaksikan siaran ulang di saluran TV lokal Qatar, Qatar TV. Nampak parade pasukan dari Tentara dan Kepolisian. Baik angkatan darat, laut, udara serta berbagai unit khusus kepolisian di Qatar. Dilibatkan pula parade generasi muda Qatar, baik yang laki-laki maupun perempuan dengan menggunakan pakaian khas arab. Laki-laki mengenakan pakaian jubah putih ‘thobes’ dan perempuannya mengenakan baju ‘abaya’ berwarna merah marun. Sungguh luar biasa!

Horse parade in Corniche, Doha | source: http://www.ndqatar.com

Acara QND ini juga dilengkapi dengan atraksi darat, laut dan udara. Ada atraksi ala pasukan katak dari pantai corniche, atraksi tentara angkatan darat, tak ketinggalan atraksi dari pesawat tempur di udara. Dan masih banyak lagi atraksi-atraksi lainnya, termasuk parade pasukan dengan menaiki Onta. Malam harinya diisi dengan acara pesta kembang api sebagai penutup peringatan QND dari tahun ke tahun.

Saya yang hari ini sedang libur tetapi mendapat jatah standby duty, akhirnya saya pun gak bisa pergi kemana-mana. Alhamdulillah, Dukhan dimana saya tinggal dan bekerja, menandai peringatan QND untuk pertama kalinya dalam sejarah.

3 hari sebelumnya, saya sempat dihubungi oleh ketua komunitas masyarakat Indonesia di Dukhan. Saya didaulat sebagai salah satu relawan [volunteer] dalam kegiatan peringatan QND ini. Saya bilang, “OK Siap Pak!”.

Hari Ahad, 18 Desember 2011 jam 0800 pagi, saya coba hubungi ketua komunitas untuk mengkonfirmasikan kembali, dan dia bilang, “Berangkat aja nanti jam 9 atau 9.15”.

Holding Qatar Flag with Ardah Traditional Dance as background

Jam 0915 saya lewati tempat acara peringatan QND, Dukhan Football Ground, nampak beberapa mobil berdatangan. Saya putuskan pergi ke toko penjual pulsa di pertokoan Dukhan, untuk sekedar mereload pulsa HP yang tersisa 11 real. Jam 0945 saya pun kembali ke lapangan bola, venue acara QND.

Nampak puluhan orang mulai berdatangan. Lewat beberapa menit dari jam 10 pagi, ditengah lapangan ada 20-an orang Qatari [sebutan bagi penduduk lokal] sedang mempersiapkan peralatan [semacam kendang, rebana dan pedang] untuk mempersembahkan sebuah tarian khasnya. Ardah, ya tarian khas Qatar atau arab ini diberi nama. Saya pun gak sia-siakan kesempatan ini untuk mengambil gambar. Narsis abis! Hehehe..

Warga Indonesia bersama warga negara lainnya mengantri pembagian coklat

Para penari ini semuanya laki-laki dewasa dengan mengenakan pakaian jubah khas orang arab, thobes. Ada 1 orang penyanyi, 2 orang penabuh alat semacam kendang, 8 orang penabuh alat semacam rebana, 16 orang memegang pedang sambil menari-nari khas timur tengah. Walaupun nampak aneh ditelinga, tapi lama-lama asyik juga tariannya. Tarian ardah yang mungkin gampang untuk dipelajari, karena hanya bergerak maju mundur sambil mengacung-acungkan pedangnya. Tapi yang susah adalah nyanyi dengan bahasa arab nya kali!

Jam 11 siang, acara dimeriahkan dengan hadirnya seekor unta yang tingginya beberapa cm diatas kepala saya. Ya 2 meteran kali tingginya. Unta yang nampak sangat besar dan kulitnya yang kelihatan bersih kelihatan habis dimandikan. Panitia QND Dukhan menggelar satu program untuk anak-anak, ya Camel Ride. Satu per satu anak-anakpun rela mengantri demi bisa menaikki onta ini.  Seorang guide berkulit hitam dengan jubah warna krem setia menuntun onta ini, sambil seorang anak menaiki diatas punggung onta. Tetep aja, banyak dari mereka yang tak melewatkan kesempatan langka ini untuk sekedar ber’narsis’ ria didepan onta.

Anak-anak menunggu giliran naik onta

Azan zuhur berkumandang. Acara pun break sesaat. Terutama laki-laki beragama islam segera menuju ke masjid yang tak jauh dari lokasi acara untuk segera menunaikan ibadah sholat zuhur. Sementara terlihat anak-anak, ibu-ibu dan sebagian lainnya yang tidak menunaikan sholat masih asyik menikmati acara QND di lapangan Dukhan.

Jam 1330 siang, nampak rombongan anak-anak Arabic school dan warga komunitas Dukhan lainnya berbaris rapi. Mereka berarak dari JRC [Jinnan recreation Club] menuju lapangan bola Dukhan. Terlihat anak-anak sekolah arab satu-satunya di Dukhan, mengenakan seragam Boyscot [pramuka] sambil membawa bendera Qatar ukuran besar. Sementara itu, anak-anak lainnya, Ibu-ibu dan bapak-bapak pun tak ketinggalan membawa bendera-bendera Qatar yang berukuran kecil sambil mengenakan kain selempang bertulisan Qatar National Day yang dimasukkan ke leher. Separo menjuntai ke dada dan separonya lagi ke punggung. Pokoknya Super Meriah! This is the First Ever in History!

Acara perlombaan untuk anak-anak yang tadinya akan diadakan jam 13 siang pun tak jadi terlaksana. Selepas sampainya rombongan karnaval kecil-kecilan ini, tim fotografer mengarahkan para peserta karnaval untuk berpose dan diambil gambar. Acara ditutup dengan pembagian coklat dan makanan dalam bungkusan untuk anak-anak. Walaupun lomba-lomba gak sempat dilaksanakan karena waktu yang semakin sore, tapi acara hari ini sungguh meriah. Sebagai pekerja migran yang tinggal 80 Km dari kota Doha, kita gak perlu ngantri untuk turut serta memperingati QND. Di Dukhan pun kita bisa peringati dengan cara yang sederhana namun syarat makna.

Happy Qatar National Day!

Dukhan, 19 Desember 2011

Sugeng Bralink

riyadi.sugeng@gmail.com

Reference:
1. history of qatar in ndqatar
2. history of qatar in qatar embassy
3. ardah qatari dance in qatar living
4. 2 photos taken from ndqatar

Topan ‘Garuda Muda’ Merebut Posisi Puncak Underbone 115cc se-Asia di Qatar

Rafid berpose membelakangi, ingin nunjukkin Garuda di punggungnya 🙂

Kemarin sore suhu udara di Qatar berkisar antara 17 hingga 20 derajat celcius. Suhu yang sangat bersahabat. Di Losail Cicuit, sore itu berlangsung ajang balapan motor seri penutup tahun 2011 tingkat Asia, Asia Road Racing Championship. Perlombaan ini merupakan seri terakhir untuk tahun 2011.

Tribun penonton yang nampak sepi

Siang itu hampir jam 14 waktu Qatar. Ajang balapan race 1 mempersembahkan balapan kelas Superbike. Saya dan rekan-rekan dari Dukhan, sebuah kota kecil di ujung barat Qatar tiba di sirkuit Lusail. Tak ada satupun terlihat mobil terparkir, apalagi para penonton. Kami pun sempat berpikir, jangan-jangan gak jadi nih balapannya. Malu bertanya sesat di jalan, itu yang memberanikan saya bertanya ke satpam yang berjaga di depan sirkuit.Seorang Satpam berkebangsaan Filipina menginfokan bahwa balapan segera dimulai. Tanpa ragu, kamipun segera masuk ke dalam sirkuit.

Ternyata memang betul tak ada satupun orang duduk di deretan kursi sirkuit. Yang ada hanya bangku-bangku kosong warna oranye dan biru, berjajar rapi dengan terlihat genangan-genangan air sisa air hujan beberap waktu yang lalu. Tribun penonton memang sepi penonton, padahal tiketnya gratis. Sudah gratis, kami pun masih mendapatkan 1 buah topi sponsor dan poster 2 lembar yang berisi foto-foto para pebalap ARCC 2011.

Alasan mengapa jumlah penonton kok sepi, gak jelas. Tapi sekedar diketahui bahwa penduduk Qatar dan para pendatang memang gak terlalu besar. Mungkin hanya berkisar 2 jutaan orang. Belum lagi minggu ini di Qatar memang sedang banyak-banyaknya kegiatan. Qatar sedang disibukkan dengan kegiatan menyambut Qatar National Day atau Hari Nasional Qatar yang akan berlangsung setiap tanggal 18 Desember.

Berpose dipinggir pagar tribun penonton

Situasi yang kurang rame bagi ajang balapan ini, tak menurunkan niat kami untuk terus menonton dan berharap bisa turut serta menyanyikan lagu Indonesia Raya di tempat ini.

Ajang pertama kelas superbike tak memberi harapan kami untuk bisa menyanyikan Indonesia National Anthem karena tak ada satupun warga bangsa yang turut dalam balapan di kelas ini. Sejam berlalu, sang juara berkebangsaan Inggris naik ke podium sebagai Sang Jawara 1, disusul Juara dua dari Qatar dan Juara tiga dari Saudi Arabia.

Jarum jam 1535 sore hari, suhu udarapun berangsur makin dingin. Balapan motor kelas “ojeg” 115cc pun segera dimulai. 7 laps sudah menanti untuk menguji para pebalap muda asia. Terlihat di posisi pertama seorang pebalap muda dengan seragam bergambar Garuda di punggung. Wah ini dia! Topan, ya inilah jagoan yang kita tunggu.

Nampang dulu sebelum masuk Losail Circuit

Bukan Garuda didadaku tapi Garuda dihelmku!

Berada di posisi pertama diantara 20 pebalap Asia lainnya, tak membuat Topan bersantai diri. Topan sebagai Garuda Muda harus mampu menunjukkan sebagai yang terbaik dan menutup kejuaraan level Asia ini sebagai juara umum. Topan yang sempat bergeser dari posisi 1, 10, 6 dan 5. 1 laps terakhir menjadi kesempatan yang gak boleh dilewatin oleh Topan. Akhirnya mimpi kami yang nonton sore itu untuk bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya menjadi kenyataan. Topan mampu menunjukkan yang terbaik. Topan mampu menyalip pebalap-pebalap lainnya di lap terakhir dan meraih posisi pertama. Dan mengukuhkan Topan sebagai Jawara Umum balapan motor level asia kelas bebek underbone 115cc.Pebalap muda ini meraih poin 261, yang kemudian disusul pebalap Indonesia lainnya Hadi Wijaya dengan poin 186 dan juara tahun 2011 ketiga ditempati pebalap asal Malaysia, Affendi Rosli. Pebalap malaya ini meraih poin 107.

Kami sesama penonton berkebangsaan Indonesia merasa bangga karena bendera Indonesia berkibar di posisi puncak disusul bendera Malaysia. Kami pun berdiri bersama dan menyanyikan lagu kebangsaan saat national anthem dikumandangkan. Bravo Topan! Bravo Indonesia! Terbukti bahwa Garuda Muda mampu mengalahkan Malaysia!

Dukhan, 18 Desember 2011

Sugeng Bralink

riyadi.sugeng@gmail.com

Fotografi oleh Arief Hidayat

Dukhan Beach, Keindahan Pantai di Ujung Barat Qatar

Banyak mobil parkir di pinggiran pantai dukhan

        Dukhan, satu kota kecil di wilayah bagian barat negeri yang kaya akan kandungan minyak dan gas bumi, Qatar. Dukhan merupakan satu wilayah yang banyak kita jumpai sumur-sumur minyak dan gas beserta pabrik penampungnya. Dari pabrik-pabrik ini selanjutnya minyak dan gas akan ditransfer ke kota lain di Qatar yaitu Messaied. Pada tahun 1939 untuk pertama kalinya di Qatar dilakukan pengeboran minyak dimana lokasi sumur tersebut ya di Dukhan. Dukhan city sendiri adalah satu komplek perumahan karyawan perusahaan minyak dan gas milik pemerintah Qatar yang beroperasi di Dukhan.

Dukhan berada di ujung barat negeri Qatar dan berbatasan langsung dengan Arabian Peninsula atau Semenanjung Arabia. Diseberang pantai Dukhan nampak satu pulau kecil yang dinamai Hawar Island. Walaupun dekat secara geografis namunsejatinya pulau tersebut masuk kedalam wilayah Bahrain.

Jarak kota Doha dengan kota Dukhan sekitar 80 KM. Kedua kota ini dihubungkan oleh jalan bebas hambatan, Dukhan Highway. Transportasi menuju ke Dukhan bisa ditempuh dengan 3 moda transportasi.

Pilihan pertama, anda bisa mengendarai mobil sendiri, yang otomatis bahan bakar dan sopir ditanggung sendiri. Anda akan sampai dalam waktu ± 1 jam saja.

Qatar Bus Station yang berada di Kota Doha

Pilihan kedua, anda bisa naik Bis Karwa. Bis Karwa adalah satu-satunya transportasi massal di Qatar. Dari terminal bis Doha, anda cukup membayar 10 Qatar riyal. Untuk menuju ke Dukhan, anda harus naik bis nomor 104 [langsung ke Dukhan melewati Dukhan Highway]. Bisa juga anda memilih bis nomor 104A, bis yang ini akan menuju Dukhan juga tetapi akan transit ke kampung Jumailiyyah. Bisa juga anda menggunakan bis nomor 137. Bis nomor ini akan melewati jalur Doha-Salwa Road-Ummbab-Dukhan. Perjalanan menggunakan bis agak sedikit lebih lama nyampainya, bisa sampai dalam waktu hampir 2 jam. Agak lama sih, namun anda akan merasakan kenyamanan tersendiri karena anda gak perlu repot-repot menyetir sendiri kendaraan anda.

Taksi Karwa yang full advertisement

Alternatif ketiga anda bisa naik taksi Karwa. Dan lagi-lagi taksi ini adalah satu-satunya layanan taksi di Qatar. Ongkos taksi bervariasi, tergantung anda mau pakai argometer atau tawar menawar. Sampai sekarang saya sendiri belum pernah menggunakan jasa taksi Doha-Dukhan. Info lengkap tariff taksi karwa bisa dilihat di Portal Mowasalat. Tarif Lebih mahal dibanding naik bus, tapi kita akan mendapatkan layanan luxury. Anda akan merasakan kenyamanan mobil Limoussine atau Toyota Camry , yang dulu sempat menjadi mobil dinas para menteri di Indonesia.

Lokasi Dukhan sangat dekat dengan garis pantai. Dari pagar keliling komplek perumahan ini hanya berjarak kurang dari 2 kilometer, maka anda bisa melihat pantai yang sangat indah. Pantai Dukhan namanya, atau yang biasa disebut oleh penduduk Qatar dengan Dukhan Beach.

Penduduk Qatar yang kebanyakan adalah pendatang, sangat disibukkan dengan berbagai aktifitas pekerjaan.  Bagi pekerja kantoran, jam kerjanya adalah 5 hari yang diawali hari Ahad dan berakhir di hari Kamis. Makanya hari libur di Qatar berbeda dengan di Indonesia. Hari Jum’at dan Sabtu menjadi hari libur kerja di Qatar.

Saat-saat liburan menjadi saat yang dinantikan oleh para pekerja, tidak hanya di Indonesia namun juga di Qatar dan di belahan bumi manapun. Hari pertama libur yaitu hari Jum’at. Hari libur pertama tidak banyak yang bepergian untuk sekedar hang out. Banyak dari mereka yang muslim akan memilih refreshing di sore hari sehabis sholat jumat. Hal ini bisa kita rasakan ketika kita mencoba pergi ke Doha sebagai ibukota Negara Qatar, suasana jalanan sangat lengang. Sangat berbeda dengan hari-hari biasa atau hari kerja yang sangat dipenuhi dengan kemacetan layaknya kota Jakarta di Indonesia.

Pada sabtu pagi sebenarnya tak jauh beda dengan Jum’at pagi. Suasana jalanan di kota juga masih nampak tidak begitu ramai. Trus kemana nih perginya orang-orang? Apakah mereka hanya tinggal di rumah saat liburan? Apakah mereka tidak menghabiskan waktu untuk jalan-jalan keluar rumah?

Salah satu mall besar di Qatar | Lulu Hypermarket di Dekat Airport

Di saat hari libur mingguan ini biasanya banyak kita temui Mall-mall atau tempat perbelanjaan besar yang penuh sesak dengan para pengunjung. Mall menjadi alternatif tempat ber-hang out bagi kebanyakan masyarakat di Qatar. Apalagi ketika musim panas tiba, Mallmall yang difasilitasi dengan pendingin ruangan [AC] akan menjadi tempat favorit untuk menyejukkan diri.

Alternatif berikutnya adalah wisata pantai. Hal ini bisa kita lihat di Pantai Dukhan. Suatu pagi di hari Jum’at, saya bersiap untuk jogging. Pagi itu jarum jam menunjuk angka 05.30. Memakai baju olahraga sambil menikmati music dari MP3 player yang saya gantungkan dileher, jogging pun segera saya mulai. Sambil berlari kecil saya langsung menuju kearah pantai Dukhan. Sekitar 500 meter, saya terus berlari dan sampailah saya di security gate dan terus berlari hingga sampai di tepian Dukhan beach.

Taman dipinggiran pantai dukhan

Wowww! Banyak sekali mobil sudah berjajar. Saya coba menghitungnya secara cepat, hampir 40an mobil terparkir dan berjajar gak begitu rapi. Disisi lain pantai Dukhan, saya lihat ada seseorang dengan kamera DSLR nya. Dia arahkan keaarah matahari terbit karena pagi itu sang mentari belum menampakkan batang hidungnya. Ahli jeprat-jepret ini mencoba menangkap sunrise dari arah timur.

Asyiknya BBQ di sore hari, Mak Nyozz!

Tahun 2008 ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di Qatar, pantai Dukhan masih di posisi yang sama. Gak pernah geser lah, ha ha ha. Cuma tampilan luarnya yang makin dipercantik. Disisi jalan raya terlihat taman yang tertata rapi. Pohon kurma dan tanaman bunga turut menghiasi taman dipinggir pantai. Di sore hari terkadang  terlihat orang-orang yang asyik menikmati barbeque. Dengan alat bakar-bakar portable, mereka asyik menikmati acara bakar-bakar, bisa bakar ayam, ikan atau udang.

Waterboom di DWS

Suasana didalam Dukhan Water Sports

Angin pantai nan sepoi-sepoi berhembus dari arah pantai. Acara hang out makin asyik sambil menikmati makanan, minuman dan terkadang diselingi canda tawa. Apalagi kalau ada anak-anak, acara makin ramai saja.

Aksi jeprat jepret pun tak ketinggalan untuk mengabadikan keindahan pantai Dukhan ini.

Tak jauh dari pantai Dukhan yang dibuka untuk umum, ada juga satu area yang dinamai Dukhan Water Sports/DWS. Area ini dibangun dan diperuntukkan bagi karyawan perusahaan migas di Dukhan. Walaupun terkadang ada juga beberapa orang dari Doha yang menyewa tempat ini untuk menggelar acara pesta atau sekedar kumpul-kumpul. Tapi yang jelas bahwa DWS didesain khusus untuk karyawan dan keluarganya yang bekerja dan berdomisili di Dukhan. Didalam komplek DWS terdapat fasilitas-fasilitas penunjang yang sangat lengkap. Diantaranya dilengkapi dengan gedung berlantai dua yang bisa digunakan untuk pertemuan atau acara pesta. Di belakang gedung menghadap kearah pantai, terdapat kolam renang lengkap dengan water boom nya. Disamping gedung tersebut terdapat 1 mushalla kecil untuk shalat berjamaah. Dilengkapi juga dengan sederetan toilet untuk laki-laki dan perempuan. Tepat ditepi pantai berjejer peralatan kano dan permainan anak-anak. Ada juga tempat yang beratap untuk sekedar duduk-duduk di pinggir pantai Dukhan.

Tempat bermain anak-anak pun disediakan di Dukhan Water Sports

Pantai Dukhan di ujung barat Qatar bisa menjadi alternatif wisata di Qatar. Dengan hampir keseluruhan wilayah yang dikelilingi pantai, wisata pantai bisa menjadi ajang untuk melepas penat sehabis seminggu penuh bekerja.

Ummbab, 14 Desember 2011

Sugeng Bralink for JQ

riyadi.sugeng@gmail.com

Koleksi foto by:
1. Kang Hamdi
2. QP Portal

NFQ Road Show to The West of Qatar

Dukhaners nampang bareng Author nya NFQ, Muhammad Assad

NFQ itu adalah sebuah singkatan satu judul buku hasil karya mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh studi Islamic Finance di Qatar University. Muhammad Assad namanya. Assad saat ini menerima beasiswa penuh dari Emir Qatar untuk melanjutkan studi S2 nya. Semenjak datang dan tinggal di Qatar, Assad membuat sebuah blog yang bertitel notes from Qatar dan berhasil menarik hati pengunjungnya lebih dari 150 ribu orang, hanya dalam tempo 1 tahun. Saran dan masukkan para pembaca blog Assad, berujung pada tercetaknya buku Notes From Qatar atau biasa disebut NFQ.

Ibu-ibu pun ikutan nampang bareng Assad

Arief, fotografer kita ikutan berpose juga!

Buku Best Seller ini telah memasuki cetakan ke tujuh dengan Limited Edition nya yang masih dalam proses cetak. Kisah sukses buku ini tak dilewatkan begitu saja oleh warga Indonesia yang tinggal di bagian barat Qatar [the west of Qatar]. Kota kecil yang merupakan tempat pertama kali dilakukan pengeboran minyak di Qatar pada tahun 1939 yang dinamai Dukhan. Jumlah warga Indonesia yang tinggal di Dukhan sampai hari ini sudah melebihi 100 orang. Kalau ditotal dengan keluarganya telah melebihi angka 400. Angka yang lumayan besar ini, saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk bisa menarik hati mereka agar turut serta membeli dan bisa membaca kisah-kisah sukses Assad yang semuanya terangkum dalam sebuah buku bertitel NFQ.

Pak Budi 'terompet' in action!

Melalui komunikasi facebook dan email, alhamdulillah telah terpesan 24 buku hanya dalam waktu tidak lebih dari 2 minggu. Dan NFQ bisa terjual hampir 50 buku ketika acara berlangsung semalam di JRC Hall, QP Dukhan. Saya sebagai “provokator” turut merasa senang karena saya juga bisa mengambil pelajaran disini. Saya mengambil 3 manfaat disini. Manfaat pertama adalah memperluas network, karena saya bisa berkenalan langsung dengan author NFQ yang notabene sudah dikenal di dunia nasional dan internasional, hehehee. Yang kedua adalah saya bisa turut belajar marketing, karena yang namanya mempromosikan sesuatu adalah bagaimana menarik calon pembeli untuk membeli produk yang kita tawarkan. Hal positif ketiga yang bisa saya ambil adalah mempererat tali persaudaraan sesama warga Indonesia di Dukhan, Qatar.

Special Occation for Selly & Abror 🙂

Acara semalam hanya ndompleng acara yang dipandegani oleh Selly n’ Abror yang tengah merayakan ulang tahunnya. Yah hanya sekedar acara syukuran dengan diisi pentas musik kecil-kecilan. Pemain music dan penyanyi nya pun berasal dari Dukhan saja. Pokoke acara refreshing dech! Sambil menikmati hidangan sop daging sapi dan ayam bumbu kecap, acara semalam juga diisi dengan brief speech dari sang penulis NFQ. Assad berkisah tentang kisah sukses nya mendapatkan beasiswa sampai ke Qatar hingga terbitnya buku NFQ. Thanks Assad atas road show mu ke Dukhan.

Acara semalam sempat ditinggalkan oleh beberapa warga kita, kenapa? Eeh ternyata disamping gedung tempat acara sedang berlangsung pertandingan badminton seru Dukhan Open Tournament 2011. Pertandingan semifinal yang mempertemukan talenta muda Indonesia, Gilang Budi dengan pemain senior, Nurcholis. Setelah melalui beberapa tahap penyisihan, akhirnya Gilang Budi yang masih berumur 14 tahun mampu menunjukkan permainan terbaiknya dan mampu mengalahkan Nurcholis dengan skor telak 2:0. Assad dan puluhan warga Indonesia lainnya tak ketinggalan  ikutan nonton lho!

Pak Bambang atau Babeh lagi nyanyi SRI 🙂

Acara semalam ditutup dengan sebuah lagu persembahan dari penyanyi kawakan asli semarang, Bambang Sutopo atau yang biasa kita panggil dengan sebutan Babeh. Dengan lagu gilang sipaku gilang, acara berakhir sekitar jam 10 malam.  Babeh yang sudah tak begitu muda lagi tapi masih berjiwa muda. Suara empuknya masih mampu menghipnotis para tamu acara semalam.

Terima kasih buat warga Dukhan yang turut serta mensukseskan acara semalam. Tanpa peran serta dan partisipasi kita semua acara semalam tak bisa meriah. Terima kasih juga yang telah membeli buku NFQ. Semoga kisah-kisah sukses di buku NFQ bisa diambil pelajaran dan hikmah.

 

 

Wallahua’lam

Dukhan, 11 Desember 2011

Sugeng Bralink for JQ

riyadi.sugeng@gmail.com