JELAJAH QATAR

Home » Jelajah Negeri » A Journey to the Northwest & North of Qatar: Zubara Fort & Al Ruways

A Journey to the Northwest & North of Qatar: Zubara Fort & Al Ruways


Zubara Fort | foto by Kang Hamdi

Perjalanan kali ini, kami menuju sebuah bangunan rekonstruksi benteng di tepian semenanjung Arabia atau Arabian peninsula. Benteng ini dinamai Zubara Fort.

Zubarah is noted for its old fortress built in 1938 under orders of Qatari Sheikh ‘Abdu’llah bin Qasim Al-Thani and restored in 1987 as a museum [www.muslimrishtey.com]. Zubara merupakan benteng tua yang dibangun pada tahun 1938 dibawah perintah Sheikh Abdullah bin Qasim Al Thani dan direstorasi atau dibangun kembali pada tahun 1987 sebagai Museum.

Trip jelajah Qatar kedua berjalan lebih mulus dibanding saat perjalanan menuju Zekreet Film City. Perjalanan kali ini memang disiapkan dengan lebih matang. Kali ini kami menumpang kendaraan bermesin Honda dengan power 2400cc. Sebut saja namanya si CR. Warna metallic gold nya mampu membikin orang yang melihatnya terpesona. Pokoknya perjalanan di awal musim panas menjadi semakin nyaman dan nyaman.

Pagi menjelang siang, suhu udara belum begitu panas. Suhu udara berkisar 300  Celcius-an. Kami berlima segera berkemas dengan mulai menyiapkan perbekalan. Menu makan siang sudah komplit. Menu siang ini, sewadah magic jar isi nasi, ikan dan telur berbumbu pedas, sayurannya cukup dengan irisan mentimun dan wortel, sambal asli racikan super pedas, dan sambal instant dalam botol. Dilengkapi juga dengan buah semangka berdaging merah, jeruk berkulit oranye, pisang impor dari Filipina, apel merah impor dari Amrik, air mineral produk lokal Qatar [bermerk Rayyan] dan beberapa kaleng minuman bersoda [bermerk mirinda]. Nggak kalah ama persiapan ibu-ibu dech!

Inside Zubara Fort | foto by Kang Hamdi

Setelah tangki minyak dipenuhi dengan bensin super [pertamax kalo di Indonesia, bahkan disini octane nya lebih tinggi] seharga 1 qatar riyal per liter, si Metallic Gold segera meluncur menuju ke TKP. Zubara Fort dan Al Ruways Park sudah terbayang di pikiran kami masing-masing.

Tak berselang lama, jembatan Jumailiyyah ada di depan kami. Kang Riboed yang menyetir kendaraan segera membelokkan laju si roda empat mengikuti petunjuk arah menuju Kampung Jumailiyyah. Setibanya kendaraan di pertigaan dekat dengan Jumailiyyah Civil Defence [kantor pemadam kebakaran di Qatar], si CR segera berbelok kanan sampai ketemu persimpangan berikutnya dan kemudian belok kiri lagi.

Melihat ada musholla kecil yang sudah pasti ada toiletnya, kami mampir sebentar untuk mengosongkan kandung kemih. Dengan waktu yang sangat singkat pun kami sempatkan bergaya ria di depan kamera poket. Mengabadikan suasana lah!

Tak menunggu lama, kami lurus menelusuri jalanan beraspal yang sangat sepi lalu lintasnya. Terkadang berpapasan dengan 1 atau 2 kendaraan saja. Itupun setelah hampir setengah jam baru papasan. Ya namanya aja jalan kampong, pokoknya super sepi. Kalau di Indonesia mungkin masih ada motor bebek atau ayam kampong lewat, disini boro-boro ada. Yang ada kanan kiri hanya gurun pasir yang luas menghampar.

Untuk menghindari kecelakaan, pemerintah Qatar juga memasang pagar pembatas di pinggiran gurun, dekat jalan raya. Pagar kawat besi bertujuan sebagai penghalang onta-onta yang sedang digembala di gurun. Karena kalau tidak, bisa-bisa onta nya pada masuk ke jalan raya dan membahayakan dirinya dan diri pengendara kendaraan bermotor.

Lebih 30 menitan berlalu setelah kami melewati kampung jumailiyyah, sampai juga kami di pertigaan yang menunjukkan dua arah, Zubara dan Doha. Lagi-lagi narsis, kami berfoto lagi dengan latarbelakang papan petunjuk jalan yang berwarna dasar biru dan bertuliskan dengan warna putih, Doha dan Zubara.

Direction to Zubara Fort | foto by Kang Hamdi

Ya hanya 5 menitan, kami pun segera meluncur mengikuti petunjuk arah menuju zubara. Tak berselang lama, kamipun sampai di benteng itu. Tak ada satupun mobil terparkir, satu batang hidung pun juga tak nampak, baik  pengunjung atau penjaganya. Sepi dan sepi….

No worry! Kami pun segera menyiapkan persenjataan ‘fotografi’. Kang hamdi dengan DSLR nya siap diterjunkan untuk mengambil gambar di replika bangunan bersejarah ini. Saya, Kang riboed dan Kang kamim segera mengeluarkan kamera digital nya yang super sederhana. Ya…yang penting ada alat untuk mengabadikan peristiwa. Dengan foto, peristiwa itu bisa diceritakan sendiri oleh yang melihatnya.

Setelah puas mengelilingi keseluruhan Zubara Fort dan berfoto bersama di depan benteng, kami juga menuju ke bibir pantai. Di kejauhan nampak 1 bis karwa yang sedang membawa wisatawan berkeliling di area tepi pantai. Banyak sekali bebatuan bekas reruntuhan bangunan. Walupun lokasi ini hanya berisikan bebatuan tak beraturan, tapi wilayah ini adalah daerah dilindungi Negara. Area ini diberi nomor lokasi m-17 dan dinamai Al Zebara [lihat gambar]. Area bersejarah ini dibawah pengawasan langsung National Council for Culture Arts and Heritage, Museums and Antiquities Department, State of Qatar.

Zubara Ruins under Qatari Heritage | foto by Sugeng Bralink

Tak berselang lama, suhu udara semakin panas karena hari semakin siang. Kami pun segera meluncur ke destinasi berikutnya yaitu Al Ruways. Tak satupun dari kami yang pernah ke sana. Hanya bermodalkan dari peta Qatar dan dibantu dari google map, kami beranikan diri ke ujung utara Qatar demi menjelajah lebih jauh negeri ini.

Dalam perjalanan menuju Ruways, kami melewati satu perkampungan yang nampak hijau. Disisi kiri jalan menuju ruways, penyiram air otomatis sedang mengguyurkan airnya ke hehijauan tapi tumbuhan apa yang ditanam kami pun tak tahu. Tapi sekilas seperti tanaman padi. Walaupun bertanah gersang, Qatar pun berani mengembangkan agrikultur.

Lunch Together @Al Shamal Park | foto by Kang Hamdi

Perkampungan hijau kita lewati, akhirnya kita sampai di Al Shamal Highway. Satu jalan bebas hambatan yang masih dalam tahap konstruksi. Jalan yang menghubungkan kota Doha dengan Kota Al Shamal, Al Ruways. dengan jalur yang cukup lebar, kendaraan kami melaju kencang dengan kecepatan rata-rata 120KM/jam. Sesekali kecepatan dikurangi karena adanya Road Diversion atau pengalihan jalan. Ya namanya aja masih dalam tahap konstruksi, maka di sana sini masih banyak jalur yang dialihkan, kadang ke kanan kadang ke kiri. Walaupun jalanan mulus, kami pun harus extra hati-hati.

Jarum jam menunjukkan jam 11 siang waktu Al Ruways. si CR mencoba menyusuri jalanan ke ujung pantai. Kami berniat menelusuri pantai di Ruways, yang katanya sering banyak dijual kepiting dan cumi-cumi. Tapi lagi-lagi banyak konstruksi jalanan di Ruways. kami pun putuskan untuk segera bersiap sholat Zuhur di masjid terdekat. Begitu masuk masjid, rasanya Nyess.

Al Shamal Park | foto by Sugeng Bralink

Selepas sholat jamaah Zuhur, kami segera menuju di taman kota yang tak jauh dari bundaran di pintu gerbang kota Shamal, Ruways. taman itu dinamai Al Shamal Park. Kami ga tahu apakah taman itu dibuka untuk umum atau khusus untuk keluarga. Berbekal informasi dari pak satpam, kami pun masuk ke taman shamal dan segera membuka perbelakan makan siang yang sudah kami siapkan. Nasi dan konco-konco nya segera kamu bongkar dan disantap bersama. Rasanya mak nyozz!! Cape keliling trus ditutup dengan menu makan siang special dan tak lupa dan tak ketinggalan, foto-foto dulu!

Sampai jumpai di reportase Jelajah Qatar berikutnya, menelusuri Qatar dari ujung ke ujung.

Pokoknya Jelajah Qatar, Enroll|Explore|Enjoy

Coordinates:  25.402’9N dan 56.361’41E

Dukhan, 25 Desember 2011

Sugeng Bralink

riyadi.sugeng@gmail.com

Advertisements

1 Comment

Please Leave Your Comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: