JelajahQatar.com

Home » 2011 » December (Page 2)

Monthly Archives: December 2011

Mengeluh Bukan Solusi!

Enjoy Life Wherever We Are | Borneo Forest

Update status! Ya…istilah ini menjadi semakin popular setelah lahirnya social network yang super heboh, FACEBOOK. Jumlah pemakai jejaring social kreasi Mark Zuckerberg ini, sampai Juni 2011 telah mencapai angka 710.728.720 orang [www.internetworldstats.com]. Angka yang sangat fantastis!

Detik demi detik, jutaan bahkan miliaran status pun terus mengalir dan bermunculan di layar maya. Isinya pun beraneka ragam. Ada yang penuh motivasi, inspirasi, semangat, dan hal-hal positif lainnya. Tapi dilain pihak, tak sedikit kita temukan status-status yang berisi hal-hal pesimistis, menurunkan motivasi, dan mungkin hanya sekedar keluh kesah atau mengeluh.

Setiap manusia di dunia ini mempunyai permasalahan masing-masing. Baik yang berskala kecil atau besar. Dari yang gampang dicari solusinya sampai yang tak kunjung terselesaikan. Kita tak bisa menghindari itu! Tapi perlukah kita mengeluh ketika kita menghadapi sebuah masalah atau beban berat? Perlukah kita berkeluh kesah di dunia maya tanpa tahu siapa yang kita ajak berbagi? Apakah keluhan-keluhan kita itu akan memberikan solusi?

Memang update status di social network nomer wahid di jagad raya ini semakin mangtabs saja. Akses ke dunia maya dari hari ke hari semakin mudah. Kita tentu masih ingat jamannya warnet [warung internet] booming di mana-mana. Kapan waktu kita ingin membuka internet maka kita harus ke warnet. Tarif pun masing sangat mahal. Saya masih ingat ketika saya harus membayar tarif browsing di warnet, 12000 per jam. Beda jauh dengan sekarang, tarifnya hanya 2500 perak/jam. Murahnya harga akses warnet juga didukung dengan speed yang super cepat. Selain itu, akses internet pun sudah semakin gampang saja. Tiap individu yang punya HaPe bisa menikmati fasilitas internet. Tak dipungkiri, kemudahan-kemudahan akses internet ini hadir seiring maraknya social network.

Para pemberi jasa telekomunikasi atau yang lazim disebut Telecommunication Provider saling berlomba-lomba memberikan tarif yang super murah untuk kemudahan akses ke dunia maya. Ada yang nawarin tarif murah broadband nya, ada juga yang nawarin tarif murah per download nya. Pokoknya, customer mempunyai banyak pilihan dan semakin dimanja. Di Qatar sendiri, tarif paling murah yang saya nikmati sekarang adalah tarif dari salah satu provider yang memasang bandrol, 15 QAR untuk akses internet 50MB/bulan. Kalau melebihi ya nambah bayarannya. Hehehe…kok jadi ngomongin tarif internet sih J J

Kembali lagi soal mengeluh atau berkeluh kesah, Allah SWT telah mengingatkan dalam firman NYA, Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah[QS Al Ma’arij: 19-20].

Manusia adalah mahluk yang mempunyai kelebihan dibanding mahluk Tuhan lainnya. Manusia diberikan kelebihan akal untuk bisa berpikir. Inilah yang bisa menjadi pembeda manusia dengan binatang. Secantik dan secerdas apapun namanya binatang tetap binatang. Dia tidak mempunyai akal dan pikiran. Ketika seekor kambing kelaparan, maka dia akan mengembik dan meraung-raung ke majikannya agar segera disediakan rumput untuknya. Rasanya menjadi tak jauh beda apabila manusia mempunyai masalah kemudian hanya mengeluh tanpa mencari solusi. Dia hanya sibuk mengupdate keluh kesahnya di dinding facebook atau men-tweet nya di kolom twitter.

Saya sendiri tidak menyalahkan pada siapapun yang hobby-nya berkeluh kesah di update status. Tapi artikel ini sekedar menjadi pengingat buat saya sendiri utamanya dan bagi facebook-er yang merasa diingatkan. Di dunia ini memang selalu berpasang-pasangan. Ada kaya ada miskin, ada baik ada buruk, ada cantik ada jelek, ada yang optimistis ada juga yang pesimistis. Begitupun update status facebook, ada yang penuh motivasi tapi ada yang hanya berisi keluh kesah tanpa solusi.

Melalui artikel ini saya mengajak, mari kita manfaatkan akses jejaring social yang fenomenal ini untuk mengembangkan diri, membesarkan organisasi, mempromosikan usaha, meluaskan pertemanan atau network, membuka wawasan dan hal-hal positif lainnya. Siapa tahu dari grup-gerup kecil yang kita kreasi di facebook, suatu hari nanti bisa menjadi perusahaan besar. Siapa tahu notes-notes yang kita tuliskan di notes page-nya facebook, coretan-coretan ringan di blog, bisa dicetak menjadi buku dan menjadi Best Seller di kemudian hari. Kita perlu ingat bahwa selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Janganlah mengeluh tapi carilah solusi!

Ummbab, 24 Desember 2011

Sugeng Bralink for JQ

riyadi.sugeng@gmail.com

Save The Earth: Say No to Plastics!

Save the Earth: Say No To Plastics! | photo by fightplastic.com

Saya teringat jaman dulu ketika saya masih mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar di tahun 80an. Sepulang sekolah, terkadang ibunda tercinta meminta saya membeli lothek (makanan yang berisi sayuran dan dibumbui kacang) untuk sekedar camilan atau melengkapi menu makan siang. Makanan atau jajanan yang satu ini hampir semuanya berwarna hijau, ada daun singkong, daun cakla cikli, daun kangkung, daun gendhot, tauge, daun bayam, bunga kecombrang yang merah warnanya dan sayur-sayuran lainnya. Banyak dari sayur-sayuran ini yang bisa kita petik di kebun samping rumah, ya namanya aja di pedesaan. Setelah semuanya siap, si Mbok warung akan membungkusnya dengan daun pisang atau daun waru. Kalau diperhatikan dari isi dan pembungkusnya, semuanya merupakan benda-benda yang bio-degradable atau mudah dicerna atau dihancurkan oleh tanah. Nggak seperti sekarang! Apa-apa dibungkus dengan plastik!

Plastik adalah sintetis atau polymer buatan manusia, mirip dengan resin natural yang banyak ditemukan di pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kamus Webster’s mendefinisikan polymer sebagai sekumpulan organic komplek yang diproduksi oleh polymerization, bisa dibentuk, extruded, dicetak ke berbagai bentuk dan lapisan, atau dibentuk menjadi filament-filamen (seperti benang) dan kemudian digunakan sebagai serat-serat tekstil. Pada tahun 1862, sejarah mencatat nama Alexander Parkes menjadi orang pertama yang menemukan plastik buatan manusia pada acara Great International Exhibition di London, Inggris [http://plastics.americanchemistry.com]. Yang selanjutnya dari tahun ke tahun dikembangkan oleh para ilmuwan hingga terciptalah berbagai macam plastic seperti sekarang ini yang banyak beredar di pasaran.

Rasanya pada jaman sekarang ini kita tidak lepas dari yang namanya plastik. Hampir tiap hari kita belanja, sudah pasti dan tak bisa dihindarkan dengan yang namanya pembungkus plastik. Kalau boleh memilih sebenarnya akan lebih bagus menggunakan pembungkus non plastik, pembungkus yang ramah lingkungan.

Isu pemanasan global terus menggema dari waktu ke waktu. Bencana alam pun sering sekali terjadi akhir-akhir ini. Banjir, gunung meletus, Tsunami, gempa bumi, angin topan, kekeringan, tanah longsor dan bencana-bencana alam lainnya. Hal ini sering dikaitkan dengan efek rumah kaca yang ditimbulkan akibat adanya global warming. Material plastic yang non bio-degradable, menjadi salah satu produk yang juga menjadi penyumbang global warming, disamping produk-produk penghasil karbon yang kian memperparah lapisan atmosfir kita.

Seperti saya sendiri yang tinggal dalam komplek perumahan di Indonesia, setiap pagi penjual sayur berkeliling memasarkan dagangannya. Dengan alasan kepraktisan, semua belanjaan selalu dan pasti dibungkus dengan plastik. Dari yang berukuran kecil sampai yang besar. Dan saya perhatikan, plastik-plastik itu semuanya baru. Dari satu pedagang ini saja sudah ratusan plastik yang dia pakai. Kalau kita kalikan dengan jutaan pedagang lainnya dalam sehari, termasuk para pelaku bisnis kelas kakap seperti Mall dan hypermarket, betapa banyaknya plastik yang digunakan dan beredar dalam seharinya.

Plastik yang nampak cantik dengan segala asesorisnya, ketika sudah nyampai rumah, ujung-ujungnya ya masuk ke tempat sampah. Kalau nggak, paling-paling teronggok di pojokkan rumah kita. Semakin hari, semakin menumpuk plastic-plastik ini. Bisakah kita berperan menyelamatkan bumi kaitannya dengan penggunaan plastik? Jawabnya, Bisa!

Seperti saya yang sekarang ini sedang bekerja dan tinggal di Timur Tengah, menjadi tidak mungkin untuk membungkus makanan dengan daun pisang. Lha wong tanahnya aja gurun pasir. Maka penggunaan plastic di wilayah ini menjadi pemandangan yang lazim. Dari groseri (warung-warung kecil), supermarket, hypermarket dan mall mall, semuanya menggunakan plastic sebagai pembungkus belanjaan. Gimana peranan kita untuk menyelamatkan bumi?

Say No to Plastics! Masing-masing dari kita bisa berperan kok. Cara pertama, ketika kita hendak belanja ke supermarket atau ke mall, siapkan recycle bag atau tas belanjaan yang bisa dipakai berulang kali. Dengan recycle bag, maka kita tidak perlu menggunakan plastic-plastik dari mall atau warung. Semua barang belanjaan bisa kita masukkan ke tas kita. Maka tak satupun plastik yang kita bawa pulang dari Mall.

Cara kedua, kita tetap menggunakan plastik, tapi jumlahnya dikurangi. Misalnya begini, ketika kita belanja sejumlah barang, biasanya petugas di bagian kasir akan memisahkan barang belanjaan kita ke sejumlah plastik. Mereka memisahkan barang-barang yang bisa dimakan (makanan dan minuman) dan tidak bisa dimakan (seperti pembersih lantai, sabun, samphoo dan lainnya). Dipisahkan memang betul, tapi terkadang mereka menggunakan plastik yang banyak sekali. Mungkin sebenarnya cukup memakai 2 buah plastic pembungkus, tapi terkadang petugas ini akan memasukkannya ke dalam 5 plastik pembungkus. Jadi peran kita disini, bilang aja ke kasirnya, 2 plastik aja lah, jangan banyak-banyak plastic. Lha wong ujung-ujungnya plastic yang cantik-cantik itu juga akan dibuang ke tempat sampah.

Cara ketiga, jangan langsung buang plastic-plastik yang menumpuk di rumah kita. Tumpukan plastic yang ada di rumah kita, mari kita tata rapikan dan bisa kita gunakan lagi untuk membungkus barang-barang yang ada dirumah atau untuk belanja lagi. Ada satu cara agar plastic-plastik dirumah kita tidak menggunung. Caranya dengan melipatnya menjadi segitiga. Caranya, lipat plastic menjadi selebar 5 cm, kemudian bentuk lipatan segitiga, dilipat terus sampai ke ujung plastik. Dan jadilah plastic ini terlipat menjadi segitiga yang kecil ukurannya. Plastik-plastik yang tadinya mungkin menggunung hingga 1 meter tingginya, dengan dilipat segitiga bisa menjadi setinggi 30 centimeter saja. Silahkan mencoba sekarang untuk berpartisipasi menyelamatkan bumi kita!

Contoh plastik-plastik yang dilipat segitiga, hemat tempat!

Mari kita turut serta menyelamatkan bumi dari dalam diri dan rumah kita. Allah SWT berfirman, Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [QS Ar Ruum 41].

Semoga dengan peran serta kita untuk mengurangi penggunaan plastic bisa memberikan sumbangsih demi menyelamatkan bumi dan bisa memperpanjang umur bumi. Dan bisa kita wariskan ke anak cucu generasi mendatang. Sebelum belanja, bawalah recycle bag atau plastic-plastik bekas, dan rapikan plastic-plastik dirumah kita dengan melipatnya menjadi segitiga dan kecil ukurannya.

Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli. Save the Earth: Say no to Plastics!

Ummbab, 22 Desember 2011

Sugeng Bralink for JQ

riyadi.sugeng@gmail.com

A Journey to The Scene of TRANSFORMERS 1: Zekreet Film City

Zekreet Film City dilihat dari atas

Pagi itu 4 Mei 2011 cuaca sangat bersahabat. Suhu udara mulai berangsur hangat dari bulan-bulan sebelumnya yang berhawa dingin di Qatar. Sehabis sarapan pagi di restoran milik perusahaan tempat kami bekerja, kami berlima segera berkemas dengan tanpa bekal yang cukup. Sampai sekedar air mineral pun tak kami bawa. Pikir kami, ahh sebentar ini!

Pagi itu, kami berencana menuju satu tempat yang banyak orang bilang Film City. Lebih tepatnya, tempat yang akan kami explore ini dinamai Zekreet Film City [ZFC]. Walaupun ada sebagian lagi yang menamainya The Lost City.

Kami sebagai pekerja migran yang tinggal di Dukhan, kebetulan hanya berjarak sekitar 30KM dari ZFC, rasanya terpanggil juga untuk menengoknya. Masa  kalah sama orang-orang yang tinggal jauh dari ZFC. Orang-orang yang dari Doha, Alkhor, Wakrah dan Messaied bahkan sudah banyak yang beranjang sana ke ZFC.

Tempat ini merupakan salah satu tempat tujuan para wisatawan baik lokal maupun internasional di Qatar. Konon bahwa tempat ini pernah dijadikan tempat syuting Film Hollywood yang sangat terkenal, TRANSFORMERS seri pertama. Berawal dari sinilah kemudian banyak orang menyebut tempat ini dengan sebutan Zekreet Fim City, karena memang tempat ini hanya berjarak sekitar 20KM dari kampung Zekreet.

Diantara kami berlima ini belum pernah ada yang tahu dimana ZFC berada. Tanpa informasi yang jelas, tanpa data koordinat, tanpa petunjuk jelas, kami nekad berangkat. Kami hanya bermodalkan informasi bahwa dari Kampung Zekreet lama belok kanan dan lurus saja. Nanti ketemu!

Ahh gampang! Nanti sambil jalan aja! Itulah yang ada dalam pikiran kami waktu itu.

Mengendarai kendaraan roda empat dengan 4 wheel drive nya, kami mampir ke Dukhan Petrol Station untuk mengisi bahan bakar. Tak lebih 50 liter, tangki bahan bakar sudah penuh terisi, karena memang pemilik mobilnya selalu rajin mengisi bahan bakarnya.

Bahan bakar penuh, aman sudah pikir kami. Dengan kecepatan tak lebih dari 120KM/ jam, kendaraan melaju menuju Zekreet Bridge. Sambil diringi obrolan santai dan diselingi canda tawa, kendaraan dengan brand LC warna putih tanpa terasa telah berada dekat dengan Zekreet Bridge.

Kendaraan terus melaju yang kemudian belok ke kiri. Tak jauh dari Zekreet Bridge nampak 2 bangunan besar. Disisi kanan jalan adalah Zekreet Arabic School. Sebuah sekolah milik pemerintah Qatar, kalau di Indonesia ya disebut SD Negeri. Kemudian disisi kiri jalan nampak bangunan yang besar dan kelihatan megah. Ya, Rumah Sakit Dukhan yang baru. Rumah Sakit yang baru saja beroperasi sejak bulan April lalu. Sejak bulan lalu, RS ini memberikan pelayanan rawat jalannya saja. Untuk layanan rawat inap dan fasilitas penunjang lainnya akan dibuka di akhir tahun ini atau selambat-lambatnya awal tahun 2012.

Fotografer nya lagi nggaya dulu 🙂

Dengan persiapan yang kurang lengkap, hanya berbekal kamera tanpa dibekali minuman dan makanan, si LC terus melaju menuju sebuah kampong lama Zekreet. Memasuki kampung ini, kami melihat ada beberapa bangunan yang nampak jarang ditempati. Tapi dari kejauhan juga, terlihat ada beberapa orang yang sedang lalu lalang. Sesampai di kampong ini, kami bingung. Ke arah mana lagi nih! Kami pun akhirnya bertanya ke salah satu penggembala unta. Kami bermaksud bertanya mengenai detail lokasi ZFC. Namun sayang, ternyata mereka nggak bisa bahasa inggris, apalagi bahasa arab. Mendengar logatnya, mereka kalo gak orang india, Bangladesh, srilanka atau Nepal. Gak tahu lah, kami pun gak sempat nanya dari mana mereka. Bagaimana mau nanya, mereka aja gak bisa bahasa inggris. Mau ditanya pake bahasa Indonesia, dah tentu makin gak ngerti kan!? Hehhee..

Berbekal informasi yang semakin gak jelas, kami putuskan bersama untuk balik arah dan berbelok kiri, karena terlihat jalanan yang bukan asphalt nampak mengeras. Nampak bekas ban-ban kendaraan yang baru saja lewat.

Tak jauh kami berbelok kiri, nampak percabangan jalan. Kami pun tambah bingung. Setelah berdiskusi singkat, kami putuskan ambil jalan yang ke kanan. Jalanan tak berasphalt itu kami telusuri dengan kecepatan yang super pelan. Semakin jauh semakin gak ketemu ZFC nya. Jangan-jangan salah jalan nih!

Nampang dibalik Perbukitan Zekreet

Dari kejauhan yang terlihat hanya perbukitan-perbukitan kecil. Walaupun hanya bukit2 yang tak begitu tinggi, tapi unik lho! Naluri cinta alam saya bangkit. Saya pun mengusulkan ke teman-teman untuk mampir saja kesana sambil dinikmati pemandangannya. Pemandangan gurun tentunya. Bukan pemandangan hehijauan layaknya di Indonesia.

Aksi jeprat-jepret pun tak dilewati begitu saja. Kami saling bergantian ambil gambar dengan 2 kamera yang ada. 1 kamera punya kang hamdi dengan DSLR nya, sementara punya saya yang hanya kamera poket.

Yah hari makin siang. Makin panas aja. Kami pun segera meninggalkan tempat ini dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ZFC. Tak berselang lama kendaraan kami melaju ke arah balik tadi, terlihat ada sebuah mobil yang melaju agak kencang. Kami pun segera mengikuti arah laju mobil itu. Setelah beberapa KM, kami pun akhirnya ketinggalan. Dan sendiri lagi!

Dengan modal super Pede, LC putih terus melaju menelusuri jalanan yang biasa dilalui kendaraan. Kami sempat melihat ada satu komplek yang dipagari, lumayan panjang. Bebatuan gurun yang dipagari, semacam hutan lindung nya Indonesia. Karena disini adanya gurun, sebut saja ini sebagai Gurun lindung atau Desert Conservation.

Dukhaners Berpose di Zekreet Desert

Sambil kendaraan melaju, sinyal Hape masih sangat kuat. Wah saatnya memanfaatkan teknologi. Saya pun segera menelpon teman yang pernah ke ZFC. Dengan bantuan seorang teman, sebut aja namanya Ghoz tapi bukan Ghost hantu ya, hehehe. Akhirnya kami dapatkan data koordinat ZFC. Untuk menambah data pelengkap, saya juga menelpon teman kerja asli Filipina, yang juga pernah ke ZFC. Dia memberikan arahan agar terus aja menelusuri jalanan sampai menemukan sign board Borooq Coast Guard, lurus terus menelusuri pinggiran gurun sampai menemukan Qtel Tower yang menjulang tinggi.

Hampir sejam berlalu, akhirnya kami menemukan menara telkomnya Qatar [Qtel] yang disampaikan teman saya sebelumnya. Tapi ternyata, dekat lokasi Tower tersebut kami belum juga menemukan ZFC. Kami beranikan diri menuju sebuah pos penjaga pantai “Borooq Coast Guard“. Sebelum sampai ke kantor, sebuah mobil coast guard dengan 2 orang didalamnya bergerak menuju ke arah dimana mobil kami berhenti. Kami pun tak segan bertanya keberadaan lokasi ZFC dengan bahasa arab kami yang terbata-bata, bahasa arab super pas pas an. Pas butuh pas bisa! hehe:)

Mengintai musuh di Mystery Village

Berbekal informasi dari petugas penjaga pantai itu, kami berbalik arah menuju lokasi yang ditunjukkan. Setelah 2 Km kita lewati, belum ketemu juga ZFC ini. Alhamdulillah ditengah perjalanan mencari, kami ketemu lagi dengan satu penjaga pantai yang lain, yang lagi patroli. Dengan kemampuan bahasa arab terbatas, kami tanyakan ke petugas ini. Dan dengan jelasnya, dia memberikan tempat yang sudah sejak tadi kami akan tuju. Petugas ini bilang ada dua tempat, satu dibalik bukit itu yang lebih dikenal dengan Mystery Village dan satunya lagi berjarak sekitar 1-2 KM dari lokasi yang pertama, yang disebut sebagai ZFC atau Film City. Dengan mengucap ‘Syukran‘  sebagai ucapan terima kasih dan kami pun melambaikan tangan ke pak penjaga pantai ini sambil berucap ‘assalamu’alaikum’. Tanpa tunggu lama kami pun segera meluncur ke TKP. 🙂

Zekreet Mystery Village

Sekitar lima menit kemudian akhirnya sampailah ke tempat yang kita tuju, Mystery Village. Biasa, foto foto lagi! Dari yang sendirian, berdua, berbarengan dan bergaya di depan mobil. Dari menelusuri setiap pojok lembah, menaiki perbukitan yang tak begitu tinggi, dan bergaya ria di balik tumpukan bebatuan gurun yang disusun seperti pos-pos pengintaian.

Setelah beberapa menit ke salah satu lokasi syuting Transformers ini, kami pun segera meninggalkan tempat ini untuk menuju ke ZFC. Sesampai di sana, tiba-tiba datang seorang penjaga tempat ini, seorang Sudani yang katanya bernama Muhammad. Dia mempersilahkan kami ke dalam. Namun sebelum masuk, dengan isyarat bahwa dia meminta kami memberikan uang sekedarnya. Akhirnya kami koleksi sekedar uang dan dikasihkan ke Muhammad.

Kami dipersilahkan masuk ke ZFC, dan dia menyuguhkan teh hangat ala arab “sulaimani“. Dia begitu welcome. Dan dia mengambilkan kita foto bersama sebagai bentuk kenang-kenangan di sebuah teras dengan bangku-bangku seadanya. Nampak sebuah lampu tua dan satu majalah kumal berbahasa inggris tergeletak di meja. Setelah beristirahat sejenak sambil menikmati sulaimani, kami lanjutkan mengambil foto sana sini, mengelilingi keseluruhan bangunan. Setelah mengambil air wudhu dari tangki air yang ada didekat pintu gerbang, kami pun menyempatkan sholat dhuha di musholla kecil di dalam bangunan utama ZFC ini.

Menikmati Sulaimani di Film City

Tak terasa 1 jam lebih kami nikmati bekas lokasi syuting film Transformers 1 ini. Kami putuskan untuk segera kembali ke Dukhan, karena hari pun makin siang dan makin panas. Jalan pulang yang kami tempuh berbeda dengan jalan saat berangkat. LC putih dengan laju perlahan menelusuri gurun pasir yang nyaris tanpa pepohonan. Kanan kiri hanya nampak gurun pasir dan bebatuan gurun. Yang jelas bahwa dibalik setiap penciptaan Yang Maha Besar itu pasti ada maksud dan hikmahnya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan [QS Al Baqarah: 164]

Having Fun di Zekreet Film City

Inilah bagian perjalanan kami yang pertama dalam usaha untuk mengeskplor Qatar. Sampai jumpa lagi!

Info Coordinates ZFC [diambil dari blog Wahyu in Qatar]

– Zekreet exit: 25 26’24.7″N 50 59’12.6″E

– Zekreet Mosque 25 29’07.41″N 50 50’48.22″E

– Film City: 25 34’41.61″N 50 50’46.65″E

– Mystery Village: 25 35’11.67″N 50 50’10.29″E

atau bisa dibuka di Wikimapia

Official Trailer of Transformer 1 bisa diklik DISINI!

Dukhan, 27 Mei 2011 14.45 PM

Sugeng Bralink for JQ

riyadi.sugeng@gmail.com

Dukhan Menggelar Peringatan Qatar National Day Untuk Pertama Kalinya!

Ibu-ibu warga Indonesia antusias memeriahkan Qatar National Day

18 Desember menjadi tanggal yang istimewa bagi Negeri Qatar, negeri yang kaya akan sumber minyak dan gas ini. Pada tanggal ini diperingati menjadi Hari Nasional Qatar atau Qatar National Day [QND]. Disamping itu, Pemerintah Qatar juga menjadikan hari ini sebagai hari libur nasional.

“Every December 18th, we celebrate our National Day in commemoration of the historic day in 1878 when Shaikh Jasim, the founder of the State of Qatar, succeeded his father, Shaikh Muhammad Bin Thani, as the ruler and led the country toward unity. This national occasion emphasizes our identity and history, embodies the ideals and visionary aspirations that this country was founded on, and pays homage to the great men and women who participated in building our nation. December 18th is the day we remember how our national unity was achieved and how we became a distinct, and respected nation out of a society torn apart by conflicting tribal loyalties, devoid of security and order, and overrun by invaders” [ndqatar.com]

Setiap tanggal 18 Desember, kita [Qatar] merayakan Hari Nasional sebagai peringatan hari bersejarah di tahun 1878 ketika Shaikh Jasim, Pendiri State of Qatar, menggantikan ayahnya, Shaikh Muhammad Bin Thani, sebagai penguasa dan pemimpin Negara menuju persatuan. Peristiwa nasional ini menekankan identitas dan sejarah Qatar, mewujudkan cita-cita dan aspirasi visioner bahwa Negara ini didirikan, dan membayar penghormatan kepada pria besar dan wanita yang telah berpartisipasi dalam mendirikan negeri Qatar. 18 Desember adalah hari Qatar mengingat bagaimana persatuan nasional kita capai dan bagaimana kita menjadi bangsa yang berbeda, dan Negara yang dihormati yang keluar dari sebuah masyarakat yang terpecah oleh kesetiaan suku yang saling bertentangan, tanpa keamanan dan ketertiban, dan dikuasai oleh penjajah.

Beberapa tahun yang lalu, tidak ada peringatan hari nasional di Qatar. Yang ada hanyalah peringatan kemerdekaan Qatar dari Perlindungan Inggris [Britain Protectorate]. Peringatan Independence Day dilaksanakan setiap tanggal 3 September karena di hari Jumat, 3 September 1971, Qatar memproklamasikan negaranya menjadi Negara yang merdeka dari perlindungan United Kingdom. Tapi kemudian peringatan hari kemerdekaan Qatar disatukan dengan peringatan persatuan Qatar terhadap Shaikh Jasim bin Muhammad bin Thani [The Founding Father of Qatar],  setiap tanggal 18 Desember.

Beberapa hari sebelum hari “H”, pemerintah Qatar sudah menyibukkan diri dengan berbagai macam persiapan dalam menyambut QND. Secara nasional, peringatan biasanya dilaksanakan di Jalan Raya Corniche, Doha. Jalan dua jalur pun ditutup. Di sisi jalan, terlihat kursi-kursi berjajar rapi. Tiang-tiang lampu jalan dan pepohonan kurma dihiasi dengan lampu-lampu hias. Bunga-bunga yang baru bermekaran pun nampak semakin mempercantik sisi jalan raya. Sound sytemyang  berukuran jumbo mulai dipasang di sana sini. Umbul-umbul QND dan bendera Qatar turut berkibar, seiring dengan tiupan angin laut yang berhembus dari Teluk Persia.

Parade Pasukan Onta di Corniche, Doha 2011 | foto by Ummi Balqis Dukhan

Menjelang hari H, kendaraan roda empat sebagai moda transportasi utama di Qatar dihiasi dengan ornament warna merah marun dan putih. Dua warna dasar dari bendera Qatar. Ada yang menempeli stiker bendera Qatar, ada yang memasang bendera Qatar berukuran kecil dibalik kaca jendela mobil, ada juga yang memasang stiker transparan menutupi keseluruhan kaca mobil bergambar Emir Qatar, His Highness Shaikh Hamad bin Khalifa Al Thani dan Prince, His Highness Shaikh Tamim Bin Hamad bin Khalifa Al Thani. Yang pasti, kesemuanya bertemakan QND. Tentu dengan tampilan dua bahasa, Arab dan Inggris serta dominasi warna bendera Qatar.

Hari yang dinanti pun tiba, saya yang kebetulan tak bisa menjadi salah satu pengunjung/saksi acara yang fenomenal ini. Saya hanya bisa menyaksikan siaran ulang di saluran TV lokal Qatar, Qatar TV. Nampak parade pasukan dari Tentara dan Kepolisian. Baik angkatan darat, laut, udara serta berbagai unit khusus kepolisian di Qatar. Dilibatkan pula parade generasi muda Qatar, baik yang laki-laki maupun perempuan dengan menggunakan pakaian khas arab. Laki-laki mengenakan pakaian jubah putih ‘thobes’ dan perempuannya mengenakan baju ‘abaya’ berwarna merah marun. Sungguh luar biasa!

Horse parade in Corniche, Doha | source: http://www.ndqatar.com

Acara QND ini juga dilengkapi dengan atraksi darat, laut dan udara. Ada atraksi ala pasukan katak dari pantai corniche, atraksi tentara angkatan darat, tak ketinggalan atraksi dari pesawat tempur di udara. Dan masih banyak lagi atraksi-atraksi lainnya, termasuk parade pasukan dengan menaiki Onta. Malam harinya diisi dengan acara pesta kembang api sebagai penutup peringatan QND dari tahun ke tahun.

Saya yang hari ini sedang libur tetapi mendapat jatah standby duty, akhirnya saya pun gak bisa pergi kemana-mana. Alhamdulillah, Dukhan dimana saya tinggal dan bekerja, menandai peringatan QND untuk pertama kalinya dalam sejarah.

3 hari sebelumnya, saya sempat dihubungi oleh ketua komunitas masyarakat Indonesia di Dukhan. Saya didaulat sebagai salah satu relawan [volunteer] dalam kegiatan peringatan QND ini. Saya bilang, “OK Siap Pak!”.

Hari Ahad, 18 Desember 2011 jam 0800 pagi, saya coba hubungi ketua komunitas untuk mengkonfirmasikan kembali, dan dia bilang, “Berangkat aja nanti jam 9 atau 9.15”.

Holding Qatar Flag with Ardah Traditional Dance as background

Jam 0915 saya lewati tempat acara peringatan QND, Dukhan Football Ground, nampak beberapa mobil berdatangan. Saya putuskan pergi ke toko penjual pulsa di pertokoan Dukhan, untuk sekedar mereload pulsa HP yang tersisa 11 real. Jam 0945 saya pun kembali ke lapangan bola, venue acara QND.

Nampak puluhan orang mulai berdatangan. Lewat beberapa menit dari jam 10 pagi, ditengah lapangan ada 20-an orang Qatari [sebutan bagi penduduk lokal] sedang mempersiapkan peralatan [semacam kendang, rebana dan pedang] untuk mempersembahkan sebuah tarian khasnya. Ardah, ya tarian khas Qatar atau arab ini diberi nama. Saya pun gak sia-siakan kesempatan ini untuk mengambil gambar. Narsis abis! Hehehe..

Warga Indonesia bersama warga negara lainnya mengantri pembagian coklat

Para penari ini semuanya laki-laki dewasa dengan mengenakan pakaian jubah khas orang arab, thobes. Ada 1 orang penyanyi, 2 orang penabuh alat semacam kendang, 8 orang penabuh alat semacam rebana, 16 orang memegang pedang sambil menari-nari khas timur tengah. Walaupun nampak aneh ditelinga, tapi lama-lama asyik juga tariannya. Tarian ardah yang mungkin gampang untuk dipelajari, karena hanya bergerak maju mundur sambil mengacung-acungkan pedangnya. Tapi yang susah adalah nyanyi dengan bahasa arab nya kali!

Jam 11 siang, acara dimeriahkan dengan hadirnya seekor unta yang tingginya beberapa cm diatas kepala saya. Ya 2 meteran kali tingginya. Unta yang nampak sangat besar dan kulitnya yang kelihatan bersih kelihatan habis dimandikan. Panitia QND Dukhan menggelar satu program untuk anak-anak, ya Camel Ride. Satu per satu anak-anakpun rela mengantri demi bisa menaikki onta ini.  Seorang guide berkulit hitam dengan jubah warna krem setia menuntun onta ini, sambil seorang anak menaiki diatas punggung onta. Tetep aja, banyak dari mereka yang tak melewatkan kesempatan langka ini untuk sekedar ber’narsis’ ria didepan onta.

Anak-anak menunggu giliran naik onta

Azan zuhur berkumandang. Acara pun break sesaat. Terutama laki-laki beragama islam segera menuju ke masjid yang tak jauh dari lokasi acara untuk segera menunaikan ibadah sholat zuhur. Sementara terlihat anak-anak, ibu-ibu dan sebagian lainnya yang tidak menunaikan sholat masih asyik menikmati acara QND di lapangan Dukhan.

Jam 1330 siang, nampak rombongan anak-anak Arabic school dan warga komunitas Dukhan lainnya berbaris rapi. Mereka berarak dari JRC [Jinnan recreation Club] menuju lapangan bola Dukhan. Terlihat anak-anak sekolah arab satu-satunya di Dukhan, mengenakan seragam Boyscot [pramuka] sambil membawa bendera Qatar ukuran besar. Sementara itu, anak-anak lainnya, Ibu-ibu dan bapak-bapak pun tak ketinggalan membawa bendera-bendera Qatar yang berukuran kecil sambil mengenakan kain selempang bertulisan Qatar National Day yang dimasukkan ke leher. Separo menjuntai ke dada dan separonya lagi ke punggung. Pokoknya Super Meriah! This is the First Ever in History!

Acara perlombaan untuk anak-anak yang tadinya akan diadakan jam 13 siang pun tak jadi terlaksana. Selepas sampainya rombongan karnaval kecil-kecilan ini, tim fotografer mengarahkan para peserta karnaval untuk berpose dan diambil gambar. Acara ditutup dengan pembagian coklat dan makanan dalam bungkusan untuk anak-anak. Walaupun lomba-lomba gak sempat dilaksanakan karena waktu yang semakin sore, tapi acara hari ini sungguh meriah. Sebagai pekerja migran yang tinggal 80 Km dari kota Doha, kita gak perlu ngantri untuk turut serta memperingati QND. Di Dukhan pun kita bisa peringati dengan cara yang sederhana namun syarat makna.

Happy Qatar National Day!

Dukhan, 19 Desember 2011

Sugeng Bralink

riyadi.sugeng@gmail.com

Reference:
1. history of qatar in ndqatar
2. history of qatar in qatar embassy
3. ardah qatari dance in qatar living
4. 2 photos taken from ndqatar