JELAJAH QATAR

Home » Jelajah Religi » Catatan Umrah Naik Bis #3: Perbatasan Qatar Menuju Perbatasan Saudi

Catatan Umrah Naik Bis #3: Perbatasan Qatar Menuju Perbatasan Saudi


menunggu pemotretan dan finger print di imigrasi saudi

Setelah melewati proses pengesahan dari kantor imigrasi Qatar dengan dicapnya semua paspor para jamaah umrah, Bis berwarna hijau ini segera meluncur menuju portal customs (bea cukai Qatar). Seorang petugas bea cukai berseragam Qatar Customs menaiki bis dan mengecek semua paspor jamaah. Sebelumnya semua jamaah sudah memastikan halaman paspor dibuka pada halaman yang ada cap persegi empat berwarna merah yang bertitelkan EXIT.

Proses pengecekan petugas bea cukai tak berlangsung lama. Bis pun kembali melaju dengan kisaran kecepatan 80 KM/Jam. 15 menit berlalu, akhirnya armada mercedes berkapasitas 50-an orang inipun memasuki lapangan parkir. Nampak 10 bis sudah terparkir dan berjajar rapi. Jarum jam tepat menunjukkan angka 19.23 waktu setempat.

Sesuai arahan petugas hamla, semua penumpang bis pun turun untuk menunggu proses pengecekan semua paspor. Sebagian jamaah ada yang memanfaatkan untuk sholat isya. Sementara saya sendiri sudah menjamak sholat isya bersamaan sholat maghrib di perbatasan Qatar.

Bagi yang kandung kemihnya sudah penuh karena dinginnya AC didalam bis, mereka pun segera bergegas menuju toilet diluar pagar lapangan parkir bis. Saya sendiri tak melewatkan kesempatan ini, langsung saja meluncur ke tempat yang biasa disebut sebagai Rest Room ini. Ketika memasuki toilet pria, saya sempat membandingkan dengan toilet-toilet di Qatar yang lebih terawat. Jangan kaget ketika memasuki toilet disini, tak ada petugas yang terlihat merawat secara rutin seperti toilet-toilet di Qatar. Saya sempat berpikir, sebenarnya nggak masalah disediakan kotak amal atau kotak pembayaran dengan dijaga seorang petugas toilet layaknya kebanyakan toilet-toilet umum di Indonesia. Yang penting toilet bisa terawat, berbau harum dan membangkitkan gairah untuk segera membuang hajat yang sudah tak tertahankan.

Waktu  pun terus berjalan. Kami memanfaatkan untuk saling bercerita dan mengisi waktu malam yang semakin dingin. Lapangan parkir bis ini memang cukup luas, namun tak nampak ada tempat duduk khusus penumpang. Kami pun hanya ngobrol sambil berdiri saja.

Ditengah asyiknya ngobrol tiba-tiba datang seorang berkebangsaan India dengan berbaju coverall warna kuning menawarkan kartu handphone (simcard) arab saudi bermerk mobily. Laki-laki ini mendekati kami yang sedang asyik ngobrol dan menawarkan 1 kartu baru pulsa 30 saudi real dengan harga jual 40 saudi real. Seorang teman mencoba menawar dengan harga 30 real tapi penjual ini tak sedikit pun bergeming. Dia tetap kekeuh dengan harga jualnya. Dia malah sempat bilang, silahkan cari disini kalau ada yang jual 30 real dan nemu penjualnya, nanti saya kasih gratis 1 kartu simcard ini!, tantangnya. Akhirnya tak satupun dari kami yang membeli simcard itu, kita pikir gampang saja lah. Paling-paling di saudi juga banyak.

Malam kian larut. Jarum jam tangan saya sudah menunjukkkan jam 21.00. Perut kian keroncongan. Maklum lah sejak sore belum makan. Serta merta saya bilang ke teman yang saat keberangkatan dari Dukhan tadi sudah memberikan 3 paket makanan. Tapi saya belum tahu apa isi paket makanan itu. Maka saya pura-pura saja nanyain, ‘Pakde, bungkusannya tadi isi nasi atau roti ya?’, tanya saya. Oh, nasi Geng, silahkan kalau mau makan’, jawabnya.

Akhirnya kami serombongan jamaah asli Indonesia segera menuju ke pinggiran lapangan parkir bis itu untuk mencari tempat yang nyaman untuk sekedar mengisi perut. Bermodalkan sandal untuk lesehan, kami pun segera memulai acara makan bersama ala lesehan. Satu per satu menu makanan lainnya mulai ditawarkan oleh ibu-ibu Indonesia dari Dukhan yang hobbie masak dan biasa menerima catering.

Mau tau menunya apa saja?

Pembaca yang dirahmati Allah….

Baiklah kita lanjutkan ceritanya. 3 paket makan malam yang sudah disiapkan oleh teman saya ini, segera kami buka. Wow, mantab menunya. Nasi putih, oseng kacang panjang, bakwan, tahu bakso dan ayam goreng. Ada juga bothok ikan teri, rendang daging, mie bihun pedas dan udang goreng yang gurih. Pokoknya cukup lah untuk mengganjal perut malam ini dan menikmati perjalanan selanjutnya menuju ke kota suci Mekah.

Seusai makan, tak berselang lama kami mendapatkan panggilan dari petugas hamla untuk segera menuju ke ruang foto di imigrasi saudi. Ibu-ibu dan anak-anak menuju ruang tersendiri, sementara bapak-bapak menuju ruangan khusus laki-laki. Ya beginilah suasana pelayanan publik di negeri arab. Rata-rata ruang layanannya dipisah antara laki-laki dan perempuan.

Jam 23.30 malam, proses finger print dan pemotretan semua jamaah selesai. Semua penumpang segera menaiki bis. Sebelum berangkat, petugas hamla selalu memastikan jamaah umrah tidak ada yang tertinggal.

Jam 23.35 malam, lagi-lagi Bis harus berhenti di saudi customs (bea cukai saudi). Semua penumpang diminta turun dari bis dan mengeluarkan semua barang bawaannya. Menurut informasi dari petugas hamla bahwa akan ada pengecekan oleh anjing pelacak.

Kami pun segera menurunkan semua tas dan barang bawaan. Bungkusan-bungkusan berisi makanan kami pisah agar tidak diendus si doggy. Tas-tas dan koper itu pun diatur kembali secara rapi oleh seorang petugas bea cukai yang berseragam hijau. Tak berselang lama, si doggy pun segera melancarkan aksi endus mengendus nya untuk mengecek semua tas dan koper yang ada. Si doggy berwarna hitam ini dituntun oleh seorang petugas bea cukai. Si hitam mengendus satu per satu tas dan koper yang ada. Sesekali berhenti sejenak, dan jalan lagi. Setelah selesai mengecek ke tas dan koper, kemudian anjing pelacak ini pun memasuki bis dan mengecek semua sudut interior bis. Kemudian turun dan mengecek semua bagian bis, dari ruang bagasi dan setiap sudut bis. Pokoknya nggak ada yang terlewat dech!

Jam 24.58, Bis hijau segera meninggalkan bea cukai perbatasan saudi menuju pos pemeriksaan selanjutnya. Petugas hamla segera menuju ke sebuah gedung untuk pemeriksaan scan passport. Tepat jam 01.23 dini hari akhirnya armada beroda 10 ini segera meninggalkan perbatasan saudi menuju kota suci Mekah. Pagi yang sebentar lagi menjelang namun badan ini terasa kian lelah dengan lamanya waktu menunggu. Tak menyia-nyiakan kesempatan, maka sebagian besar jamaah memanfaatkannya untuk tidur sejenak sambil menunggu waktu subuh*

bersambung….

Dukhan, 25 April 2012

Advertisements

Please Leave Your Comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: