JELAJAH QATAR

Home » Jelajah Negeri » Semilir Angin Pagi di Tepian Semenanjung Arabia

Semilir Angin Pagi di Tepian Semenanjung Arabia


Imageby Sugeng Bralink

Jum’at merupakan hari pertama libur mingguan di Qatar. Musim panas yang kian hari kian nyata tak menghentikan upaya manusia di negeri ini tuk bisa menikmati hidupnya. Selama sebulan terakhir, kami yang bekerja dan tinggal di negeri Qatar, mau nggak mau harus menikmati puanassnya mentari yang menyengat. Suhu udara siang hari bisa mencapai titik 45 derajat celcius, bahkan mungkin lebih.

Pagi ini, jarum jam tangan saya menunjuk angka 04 lebih 45 menit. Tiba-tiba handphone pintarku berbunyi nyaring. Seorang teman satu asrama menelpon. Dia mengingatkan kembali tentang rencana yang telah kita buat malam tadi. Mancing di pantai! Ya itulah rencana kami semalam.

Kami berdua sebenarnya bukan pemancing profesional. Bukan juga seorang yang ahli di bidang pancing memancing ikan di laut ataupun di kolam. Yang kami punya hanya pengalaman memancing sewaktu anak-anak dulu. Memancing dengan bergagang bambu dan kail peniti yang dimodifikasi. Umpannya pun tinggal mencari di kebun belakang rumah. Cacing, ya itulah umpan yang biasa saya gunakan dulu sewaktu kecil. Jadi semuanya serba nyari yang ada di sekeliling rumah.

Lain dulu, lain sekarang. Berbekal alat pancing dan umpan seadanya yang tentu berbeda dengan alat mancing sewaktu kecil, kami pun segera bergegas menuju pantai dukhan. Pantai yang berada di tepian semenanjung arabia atau dalam bahasa western-nya disebut Arabian Peninsula.

Tak lebih dari 5 menit, mesin kendaraan sudah menghangat. Dokar jepang pun segera melaju ke tepian semenanjung arabia.

Dari kejauhan, suasana pantai nampak lengang. Suhu udara pun masih sangat bersahabat. Paling berkisar 25-27 derajat celsius. Angin semilir pantai pun berhembus menerpa dokar jepang yang kami tumpangi. Sekilas tak nampak ada keramaian disana.

Tapi, begitu kami mulai mendekati pantai, terlihat puluhan mobil berderet di sepanjang garis pantai. Nampak disana sini orang-orang dengan wajah cerianya di pagi hari Jum’at ini.

Persis ditepi jalan raya, ada 3 bungalow atau tempat santai untuk nongkrong. Serombongan orang sedang bercandaria dan tertawa selepas menikmati mandi bersama di pantai. Ada yang asyik mengambil foto, ada yang asyik bermalas-malasan didalam tenda, ada yang menggelar sarapan pagi beralaskan tikar, ada yang duduk-duduk santai tepat di garis pantai dengan “kursi malas” nya dan ada juga yang ber-jogging. Nampak semuanya asyik menikmati liburan ditengah minimnya hehijauan di negeri padang pasir ini.

Pembaca yang berbahagia…

Kami berdua segera menuju ke sisi lain pantai dukhan. Berjarak sekitar 300-an meter, kami pun sampai di sisi barat pantai dukhan. Diluar apa yang kami bayangkan, ternyata sudah ada puluhan kendaraan yang juga terparkir disana. Saya pun mencoba menghitungnya satu per satu. Dari hitungan cepat saya, ada sekitar 30-an kendaraan termasuk 3 bis berukuran sedang dan 1 truk. Kalau masing-masing mobil tadi berisi 4 atau 5 penumpang dikalikan 30, maka sudah ada 150 orang. Kemudian 3 bis dikalikan 25 orang, maka 75 orang. Berapa jumlah semuanya? Hitung sendiri ya! Yang jelas, lebih dari 200 an orang. Rame sekali pokoknya.

Disisi lain, mungkin banyak dari orang-orang yang tinggal di dukhan masih asyik bermalas-malasan dibalik selimut tebalnya dan berlindung dibawah sejuknya udara pendingin ruangan.Tapi disini berbeda! Di pantai dukhan, orang-orang sedang asyik dan begitu menikmati sejuknya semilir angin tepian semenanjung arabia.

Tak terlewat dari pandangan mata saya, puluhan orang sedang berenang ditemani deburan ombak yang tak begitu besar. Maklum lah, kan hanya ombak teluk. Jadi ya hanya ombak-ombak kecil saja. Happy dan Enjoy It! Itulah mungkin sebuah ungkapan tepat bagi mereka, saya dan teman saya.

Kemudian, kami lanjutkan niat kami tadi untuk segera mendapatkan apa yang kami impikan. Ikan! Bersiaplah menyambut kami. Berikan kesempatan kami untuk “menikmati” mu, itulah yang ada di pikiran kami.

Kami langkahkan kaki ini menelusuri jalan setapak, tepat disamping pagar tembok sebuah club milik perusahaan minyak di dukhan. Jalan setapak dengan bebatuan keras berwarna krem, yang membawa kami lebih dekat dengan bibir pantai. Membawa kami untuk lebih leluasa menikmati acara mancing perdana ini.

Semilir angin pagi pun kian kencang menerpa wajah. Gemericik air kian siang kian kencang. Suaranya begitu halus menerpa telinga-telinga kami dan membawa kesegaran baru di badan ini. Sementara saya sedang asyik menikmati keagungan dan kebesaran Allah ini, teman saya segera bersibuk diri untuk men-set up “persenjataannya” untuk “berburu”.

Gagang pancing berwarna hijau tua buatan China segera dia kaitkan dengan senar pancing. Kemudian senar pancing warna putih itu pun, dia kait kembali dengan 3 buah mata kail. Untuk pemberat, dia tambahkan 1 biji kecil logam di senar pancing. Satu lagi ditambahkan aksesoris yang bisa mengapung dan berfungsi sebagai detektor kemana kail bergerak dan kapan ikan memakan umpan. Dan step terakhir yang dia lakukan, dia kaitkan irisan udang segar ke mata kail yang sudah dia ikat ke senar pancing tadi.

Nah! Sekarang saatnya memancing dan saatnya menikmati liburan!

Disaat dia sedang sibuk bersiap “berburu” ikan di pantai, saya pun turut sibuk mengabadikan suasana. Dunia maya yang bisa diakses dimanapun, akhirnya saya catatlah semuanya. 30 menit berlalu, terdengar teman saya berteriak “Pak, dapat ikan pak!”. Saya pun bergegas membantu untuk melepas ikan dari kailnya, namun sayang, ikan yang berukuran selebar telapak tangan masih belum mau kita santap. Ikan itu terlepas, dan “buruan” kita lari tunggang langgang. Mungkin ini bukan keberuntungan kami pagi ini, tapi mungkin keberuntungan besar bagi ikan yang sempat nyangkut ke kail teman saya. Kami nggak merasa kecewa, tapi dari sini kami belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita impikan perlu upaya, kerja keras dan kerja cerdas.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [QS An Nahl: 18]”.

Walau kami gagal mendapatkan ikan yang kami idamkan semalam, tapi kami masih bisa menikmati indahnya dan semilirnya angin di tepian semenanjung arabia. Kami masih bisa menikmati sejuknya udara pagi. Kami masih bisa melihat dengan jelas keindahan alam ini. Dimana pun kita berada, pasti selalu ada cara untuk menikmati hidup*

Maka bersyukurlah atas nikmat yang kita terima hari ini. Dan nikmatilah apa-apa yang ada di sekeliling kita!

Dukhan, 1 Juni 2012

Awal pagi di musim panas

http://www.riyadisugeng.wordpress.com

Advertisements

10 Comments

  1. grace hutabarat says:

    how to apply my cv? where’s address?

  2. Dear Grace, silahkan buka info lowongannya di Sidra Medical and Research Center Qatar

    http://careers.sidra.org/sidra/vacancysearch.aspx

    semoga bermanfaat!

  3. Affan says:

    Barusan dapat invitation interview dari Qatar Airways,wish me luck,,

    jadi pengen tahu qatar lbh jauh sblm ke sana dh kang,,,

Please Leave Your Comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: