JELAJAH QATAR

Home » Jelajah Kuliner » Ini Bukan Sembarang Tempe!

Ini Bukan Sembarang Tempe!


foto: koleksi pribadi

by Sugeng Riyadi [Bralink]

Mungkin banyak dari kita yang tak pernah berpikir tentang bagaimana caranya membuat tempe atau tahu.” Buat apa pingin tau, beli aja gampang kok!” “Mau yang mentah banyak”. “Mau yang sudah matang juga tinggal santap!”. Ungkapan-ungkapan itu mungkin yang selalu ada di benak kita.

Di Indonesia, yang namanya tempe tak lepas dari daftar lauk sehari-hari bagi kebanyakan keluarga. Bahkan mungkin ada diantara kita yang pernah berpikir, tempe lagi…tempe lagi! Apa nggak ada yang lain! Bosah Ahh!

Dalam dunia musik pop, kita tahu ada “King of Pop”, Michael Jackson. Dalam dunia musik dangdut, juga ada “King of Dangdut”, Rhoma Irama. Trus soal urusan tempe, apa ya ada King of Tempe? Jangan berburuk sangka dulu, dalam dunia per-tempe-an, ada namanya Rustono, “King of Tempe”.

Mungkin belum banyak orang yang tahu siapa Rustono ini. Sekilas cerita, Rustono adalah seorang pria kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah 43 tahun lalu, saat ini menjadi produsen/pengusaha tempe yang menetap di Kota Otshu-Shi, Shiga, Jepang. Pria lulusan perhotelan tahun 1987 ini, bermula berkenalan dengan seorang gadis Jepang di Yogyakarta. Kisah cintanya itulah yang akhirnya menyatukan Rustono dengan sang bidadari cantik bernama Tsuruko Kuzumoto. Dengan pernikahan itulah, Rustono akhirnya menetap di negeri sakura hingga kini.

Januari 2008, Rustono mampu memproduksi 3500 bungkus tempe setiap lima hari (thejakartapost.com). Kemudian dalam sebuah artikel di Kompas Cetak edisi Februari 2010, Rustono mampu menaikkan produksinya menjadi 16.000 bungkus tempe dengan kemasan 200 gram dalam waktu 5 hari juga. Untuk mendukung produksi tempenya, dia mengadakan kontrak kerja sama dengan petani kedelai di Nagahama, kawasan Shiga. Inilah kisah sukses pengusaha tempe asli Indonesia yang saat ini tentram hidup di negeri Sakura.

Keterbatasan, kesempitan, kesusahan atau kesulitan terkadang bahkan sering bisa membuat orang akan berpikir lebih kreatif. Dalam kondisi terdesak, otak kita akan berpikir lebih keras lagi untuk memperoleh ide-ide baru. Otak akan memutar dirinya agar memperoleh jalan penyelesaian. Malahan sampai ada buku yang mempunyai judul The Power of Kepepet (Sebuah buku karya Jaya Setiabudi, seorang pengusaha dan penulis buku motivasi). Sebuah buku yang mengungkap tentang hebatnya diri seorang manusia ketika dirinya dalam kondisi kepepet.

Dari dulu Saya tak pernah berpikir atau mempunyai cita-cita untuk bisa membuat tempe. Sejak kecil saya tinggal di satu desa yang terletak di wilayah timur Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Sebuah desa yang berjarak tak jauh dari Pantai Selatan Jawa. Tak jauh dari rumah orangtua, ada dua keluarga pembuat dan juga pedagang tempe. Maka tak susah bagi keluarga kami untuk membeli tempe yang masih segar bahkan masih mondhol (belum jadi, pen.) untuk keperluan lauk hampir setiap harinya. Terkadang kami juga membeli tempe dari pedagang tempe kampung sebelah yang kebetulan lewat disamping rumah. Dan sudah tentu, banyak juga tersedia di warung-warung di kampung kami.

Pertengahan 2008, sebagai perjalanan hidup saya merantau meninggalkan kampung halaman dan keluarga. Kalau dulu, yang namanya tempe itu makanan biasa bahkan terkadang terasa bosan, tempe lagi tempe lagi. Tapi lain ceritanya ketika saya sudah sampai di daratan Timur Tengah. Makanan yang disajikan berbeda. Namanya negara arab, maka menu makanannya pun bercitarasa arab. Kalau nggak arab, ya cita rasa India. Tahu kenapa, karena pendatang terbanyak di negeri-negeri timur tengah adalah warga negara India. Maka jangan heran kalau banyak kita temu restoran-restoran yang menyajikan makanan khas India.

Beberapa bulan tinggal di Qatar, rasa kangen makanan Indonesia pun datang. Tapi alhamdulillah, di Qatar ada 3 restoran Indonesia yang bisa menjadi pengobat rindu pada waktu itu. Di restoran inipun menyediakan menu masakan Indonesia. Termasuk juga menu tempe. Baik itu tempe goreng, oseng-oseng tempe ataupun kering tempe. Alternatif lainnya, kita membeli tempe mentah di 2 Toko miliknya orang Indonesia yaitu Qatindo dan Toko Jakarta. Bahkan layaknya saya di desa dulu, tetangga saya disinipun ada yang membuat tempe sendiri. Kalau pas mau nggoreng tempe, saya tinggal pesan aja, maka 2-3 hari sudah siap antar.

Tapi jangan heran soal harga. Tentu harganya tak semurah harga tempe di Indonesia. Untuk tempe seukuran telapak tangan orang dewasa dihargai 8-10 Qatar riyal (1 riyal=Rp.2500).

Seiring berjalannya waktu ada rasa penasaran juga untuk mencoba membuat sendiri. Berbekal nonton video youtube koleksinya Mas Dono yang tinggal di Belgia dan cerita langsung dari teman yang pernah bikin tempe, maka pada awal Januari 2011 olahan kedelai saya jadi tempe. Tapi soal kuantitas ya gak sebanyak tempe buatan Kang Rustono. Soal rasa, walaupun kedelainya asal Kerala, India tapi rasanya masih sama dengan tempe yang pernah saya makan sewaktu di Indonesia.

Saya yang nggak pernah kepikiran membuat tempe sebelumnya, pada tahap percobaan pertama sampai ketiga, olahan kedelai yang saya buat selalu gagal. Bukannya jadi tempe, tapi malah busuk. Alhamdulillah pada percobaan keempat, olahan fermentasi kedelai inipun sukses menjadi tempe. Jadi ingat bukunya Pak Jaya Setiabudi, mungkin karena kondisi kepepet inilah yang tadinya nggak kepikiran, yang tadinya nggak bisa, akhirnya saya sekarang bisa membuat tempe sendiri. Siapa tahu kebisaan ini bisa mengikuti jejak sukses Pak Rustono “the King of Tempe”. Atau paling tidak, bisa memenuhi selera perut sendiri yang jauh di negeri orang.

Rasulullah SAW pun mengingatkan dalam sabdanya “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.”

Maka dari itu manfaatkanlah waktu hidup ini sebaik mungkin dengan hal-hal yang bisa bermanfaat baik bagi diri sendiri, keluarga maupun umat manusia lainnya. Manfaatkanlah waktu senggang kita sebelum datangnya waktu kepepet, walaupun terkadang ide-ide cemerlang itu muncul ketika kita sedang kepepet. Tapi akan lebih baik jika ide-ide gemilang itu juga bermunculan ketika waktu itu senggang, sehingga kita pun bisa mengaplikasikan ide-ide itu menjadi karya nyata*.

Dukhan, 20 Juni 2012
http://www.riyadisugeng.wordpress.com
http://www.indonesiannursingtrainers.com

Advertisements

2 Comments

  1. Arnol says:

    masih tinggal di qatar pak?

Please Leave Your Comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: