JELAJAH QATAR

Home » Jelajah Religi » Belajar Dari Kehidupan Rasulullah SAW Sewaktu Kecil

Belajar Dari Kehidupan Rasulullah SAW Sewaktu Kecil


Sidra Tree

Pohon Sidra di Padang Pasir, Qatar

Usia kian bertambah, kehidupan terus berubah, tapi seberapa banyak kita mengenal Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah islam? Saya sendiri merasa masih belum mengenal banyak tentang kehidupan beliau. Utamanya kehidupan beliau sewaktu belum menjalani risalah kenabian.

Alhamdulillah sejak sebulan lalu saya mendapat pinjaman buku yang berjudul Ensiklopedia Leadership & Management “The super leader the super manager”karya Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec.

Membacanya lembar demi lembar semakin menjadikan diri semakin bodoh. Banyak sekali yang belum saya mengerti tentang sejarah hidup Rasulullah Muhammad SAW. Disini saya akan mencoba membuat ringkasan tentang masa kecil Rasulullah SAW.

Muhammad SAW adalah keturunan Bani Hasyim. Hasyim adalah nama kakeknya, beliau adalah seorang yang mengurus pemberian minuman dan jamuan makanan (siqayah) kepada para jamaah haji. Nama aslinya ‘Amr. Ia dinamakan Hasyim (tukang roti) karena beliaulah yang pertama kali meremukkan roti untuk jamuan bagi para jamaah haji.

Hasyim mempunyai empat orang anak laki-laki, yaitu Asad, Abu Saifi, Nadalah dan Abdul Muttalib. Dan mempunyai empat orang anak perempuan yaitu Asy-Syifa, Khalidah, Da’ifah, Ruqayyah dan Jannah.

Abdul Muttalib mempunyai seorang anak yang paling tampan dan sekaligus anak kesayangannya yaitu Abdullah. Abdullah bin Abdul Muttalib lahir dari rahim seorang ibu bernama Fatimah binti ‘Amr bin “Asidz bin ‘Imran bin makhzum bin Yaqzah bin Murrah. Abdullah bin Abdul muttalib inilah ayahanda Rasulullah saw.

Ibunda kandung rasulullah saw adalah Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murah bin Ka’b bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadir bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudar bin Nazar bin Ma’d bin ‘Adnan.

Dua atau tiga bulan setelah perkawinan Abdullah bin Abdul muttalib dengan Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf, Abdullah pergi berdagang ke Negeri Syam sementara istrinya sedang hamil. Abdullah bin Abdul Muttalib meninggal dunia di kota Yatsrib (Madinah) dalam perjalanan pulangnya menuju kota Mekah. Berarti Muhammad saw sudah ditinggal ayahnya ketika beliau masih dalam kandungan ibunya yang masih berusia tiga bulan.

9 bulan dalam kandungan Ibu Aminah, lahirlah putranya pada waktu subuh, hari senin, 12 rabiul awwal tahun gajah ke-1, bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M. Bidan yang menolongnya adalah Syifa’ (ibundanya Abdurrahman bin auf).

Ada satu kebiasaan kaum bangsawan arab di hijaz, terutama di kota mekkah pada waktu itu adalah menyusukan anak yang baru berusia beberapa hari kepada orang yang bertempat tinggal di luar kota, yaitu di perkampungan orang-orang badui. Anak-anak itu akan tinggal dan diasuh di perkampungan itu sampai usia tujuh atau delapan tahun.

Maksud dari adat istiadat ini adalah agar anak-anak dapat tumbuh dengan sehat dan cerdas, serta ditunjang semangat hidup yang kuat. Disamping itu, anak-anak itu akan mendapatkan pendidikan adat-istiadat arab yang asli dan belum dipengaruhi kebudayaan asing yang dibawa orang-orang luar yang datang ke mekah. Anak-anak itu juga akan belajar berbicara dengan bahasa arab asli (fusha) yang belum rusak karena pengaruh bahasa asing.

Bayi Muhammad saw mendapatkan air susu ibunya hingga tiga hari, kemudian disusui oleh Tsuwaibah, budak milik Abu lahab yang sudah dimerdekakan. Sementara yang mengurus keperluan pribadi beliau adalah Ummu Aiman Barakah Al Habsyiyah.

Setelah beberapa hari disusui oleh Tsuwaibah, Muhammad saw kemudian diasuh oleh Halimah binti Abu dzuaib, istri abu kabsyah dari perkampungan Bani Sa’d.

Ketika Muhammad saw berusia sekitar dua tahun, halimah mengantarkannya kepada aminah di mekkah. Waktu itu Muhammad sudah berhenti menyusu kepada halimah. Aminah pun sangat senang melihat Muhammad saw yang sehat dan cerdas. Setelah beberapa waktu, Muhammad kecil dibawa kembali oleh halimah ke perkampungan badui karena khawatir terganggu dengan penyakit yang mudah tersebar di mekkah waktu itu.

Waktu terus berjalan, ketika Muhammad saw dikembalikan kepada ibunya di mekkah, usianya sudah lebih dari empat tahun atau sudah mencapai lima tahun. Beliau diasuh oleh ibunya dengan baik dan penuh kasih sayang.

Ketika memasuki enam tahun, Muhammad saw diajak ibunya berkunjung ke madinah menemui sanak keluarganya disana. Juga untuk berziarah ke makam ayahnya. Mereka ditemani Ummu Aiman, pengasuhnya sewaktu di madinah.

Dalam perjalanan kembali ke mekah, ibundanya jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia di suatu daerah bernama ‘Abwa. Jenazah aminah dimakamkan di daerah itu. Dengan demikian Muhammad saw menjadi yatim piatu dalam usia yang masih sangat belia.

Muhammad saw kemudian dibawa Ummu Aiman ke Mekkah. Pengasuhan Muhammad saw selanjutnya oleh kakeknya Abdul Muttalib. Bahkan kakeknya sudah mengasuhnya sejak Aminah masih hidup.

Ketika Muhammad saw memasuki usia delapan tahun, kakeknya yang saat itu berusia delapan puluh tahun meninggal dunia. Sekali lagi, Muhammad saw dirundung kesedihan luar biasa. Muhammad saw masih menangis ketika mengantarkan jenazah kakeknya ke pemakaman.

Pengasuhan Muhammad saw selanjutnya dilanjutkan oleh pamannya, Abu Talib. Abu Talib mempunyai perasaan paling halus diantara saudara-saudaranya, dan ia memiliki kedudukan terhormat di mata kaum Quraisy. Abu Talib pun menjadi pemelihara dan pelindung Muhammad saw sampai ia wafat. Ia tetap membela keponakannya itu meskipun berbeda keyakinan. Ketika Abu Talib masih hidup dan Muhammad saw sudah melakukan dakwah, kaum Quraisy tidak berani terlalu kejam menganggu Muhammad saw. Itu merupakan dampak dari kedudukan Abu Talib di hadapan kaum Quraisy.

Demikian ringkasan isi buku tentang Muhammad saw yang yatim piatu di usia belia. Semoga menjadi sebuah pelajaran bagi kita yang saat ini masih mempunyai orangtua.

Bagi yang orangtuanya masih hidup, berbaktilah kepada keduanya. Sayangi mereka dan bahagiakanlah keduanya.

Bagi orangtuanya sudah meninggal, menjadilah diri yang shalih shaliha, semoga kebaikan diri kita menjadi amal jariyah buat keduanya.

Semoga Allah merahmati dan meridhoi kita, karena ridho orangtua adalah ridho Allah swt.

Wallahua’lam

Advertisements

Please Leave Your Comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: