JELAJAH QATAR

Home » Jelajah Religi » MASALAH AT-TARKU (الترك) /SESUATU YANG DITINGGALKAN ATAU TIDAK DILAKUKAN

MASALAH AT-TARKU (الترك) /SESUATU YANG DITINGGALKAN ATAU TIDAK DILAKUKAN


Oleh: Mochammad Fuady Abdullah.

Kita sering mendengar kalimat yang acap kali dilontarkan individu atau kelompok yang mengatakan bahwa “setiap sesuatu yang tidak dilakukan dan dicontohkan oleh Rosulullah SAW adalah bid’ah/sesat”.

Sebuah kaidah “baru” sebagai justifikasi dan penopang pendapat mereka untuk menyesatkan siapa saja kaum muslimin yang berbeda pendapat dengan mereka.Di sebut “baru” karena para ulama ushul sebelumnya tidak ada satupun yang membentuk kaidah tersebut.Kaidah itu berbunyi الترك يقتضى التحريم “meninggalkan atau tidak melakukan sesuatu menunjukkan haramnya sesuatu tersebut dilakukan”.

Kaidah “aneh” ini benar-benar menjadi pijakan dan legalitas untuk menghantam siapa saja yang berseberangan pendapat dengan mereka.

Padahal dalam ushul fiqh kaidah yang ada adalah swbagai berikut: النهي يقتضى التحريم “Larangan menunjukkan haram”.Status hukum haramnya larangan tersebut jika terlepas dari qorinah atau berbagai indikasi yang bisa mengeluarkan dari hukum asalnya tersebut.

Kaidah inipun dikalangan ulama ushul sendiri terjadi kontroversi bahkan tidak adanya kesepakatan mereka.

Sebagian ulama ushul membuat kaidah bahwa النهى يقتضى الكراهة  “larangan menunjukkan kemakruhan” kecuali ada bukti indikasi pengharamannya.

Sebagian yang lain redaksinya berbunyi النهي يقتضى التوقف “Larangan menunjukkan tawaqquf”.Artinya belum/tidak boleh dilakukan sebelum adanya qorinah atau indikasi yang menunjukkan kemakruhan maupun keharamannya.(Untuk lebih jelas lihat kitab Al-Risalah,karya Imam Syafi’i RA,no:343-355 dan kitab Al-Luma’,karya Imam Abu Ishaq Al-Syairozy,hal:24).

Persoalannya sekarang apakah At-tark (الترك) atau tidak dilakukannya sesuatu dengan An-Nahy (النهي) atau larangan mengerjakan sesuatu itu sama?…Tentu saja jawabanya tidaklah sama.

Jadi konklusinya bahwa sesuatu yang tidak dilakukan (dalam artian murni hanya tidak dilakukan) bukan berarti haram dilakukan.Karena tidak terdapat kaidah dalam ushul fiqh bahwa segala sesuatu yang tidak dilakukan adalah terlarang untuk dikerjakan.

In Sya Allah kita sambung pada tulisan berikutnya …next time

Advertisements

Please Leave Your Comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: