JELAJAH QATAR

Home » Wonderful Indonesia » CURHAT PERAWAT INDONESIA KE IBU MENTERI KESEHATAN

CURHAT PERAWAT INDONESIA KE IBU MENTERI KESEHATAN


syaifoel hardy

JelajahQatar.com | Setelah publikasi SURAT TERBUKA untuk MTKI dari Bapak Syaifoel Hardy tentang STR, kali ini beliau kembali mengungkapkan isi hatinya tentang NIKMATNYA MENJADI PERAWAT INDONESIA kepada Ibu Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Berikut isi lengkap curahan hati beliau yang dituangkan di laman group facebook INDONESIAN NURSING TRAINERS yang beranggotakan 21.000 lebih. 

KEPADA IBU MENTERI KESEHATAN: INILAH LIMA NIKMAT MENJADI PERAWAT INDONESIA

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Semoga kesehatan, kesejahteraan serta iman selalu menyertai perjalanan kehidupan Ibu. Aamiin….

Ibu Menteri Kesehatan yang kami hormati,

Saya perawat Indonesia, dari kota indah, Malang, Jawa Timur. Lulusan SPK tahun 1982. Terhitung senior dalam artian usia, untuk saat ini. Saya bukan clinician, namun menyukai dunia entrepreneurship dan tulis menulis. Kerja di luar negeri sebelum balik ke Indonesia tahun 2014 lalu. Selama 21 tahun melanglang di Timur Tengah, di 3 negara: Kuwait, UAE dan Qatar.

Terlepas dari bebagai permasalahan yang dihadapi oleh 800.000 lebih perawat Indonesia yang ada saat ini, saya sagat menikmati perjalanan hidup sebagai seorang perawat. Saya bangga menjadi bagian dari profesi kesehatan yang diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mengabdi dan memberikan kontribusi kepada profesi, masyarakat, bangsa dan negara ini, meskipun lama di luar negeri. Kata BNP2TKI, TKI adalah pahlawan devisa.

Saya berharap, di tengah kesibukan, Ibu bisa menyempatkan diri untuk membaca catatan anak-anak bangsa yang terjun di sektor kesehatan ini. Kalau bukan Ibu, kepada siapa kami berharap agar mengetahui sepak terjang kami?

Kami sadar, Ibu sangat sibuk dengan jumlah 25 profesi yang berbeda di sektor kesehatan. Jika sebuah keluarga, saya sendiri sulit membayangkan repotnya mengurus 25 orang anak ini.

Adalah tidak adil, sebagai anak, kami hanya menyampaikan keluhan kepada Ibu. Kami mengerti, ribuan persoalan besar dan kecil yang ada di pundak Ibu sebagai seorang Menteri Kesehatan negara terbesar keempat di dunia ini. Makanya, kami ingin bersikap dewasa.

Ibu Menkes yang kami hormati,

Lewat catatan ini, saya ingin berbagi nikmatnya menjadi Perawat Indonesia. Setidaknya, dengan Catatan ini kami harap Ibu mengenal lebih jauh pengalaman kami, bagaimana sebenarnya enaknya menjadi perawat. Bukan kisah sedihnya.

Jadi, Ibu tidak usah kuatir. Catatan ini sekaligus kami kirimkan sebagai penghibur, bukannya penambah beban kerja.
Ibu Menkes yang berbahagia,

Sesudah tiga dasawarsa saya menggeluti profesi ini, baru menyadari, betapa sangat beruntung orang yang memilih perawat sebagai pilihan profesinya, meski jarang masuk media, diliput televisi negara dan swasta, masuk koran dan majalah. Perawat tidak seperti pejabat atau pilitician memang. Jadi untuk apa selalu diberitakan karya serta sumbangsihnya? Tidak mengapa. Bagi kami, kebahagiaan perawat jauh lebih penting ketimbang beredarnya berita di media masa.

Sesudah lulus SPK, tahun 1982, 20 hari kemudian saya dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan di sebuah RSUD di Pasuruan-Jawa Timur. Gaji saya Rp 8000 waktu itu. Tetapi harga tempat tidur dari bahan kayu hanya Rp 4000. Jadi saya merasa lebih beruntung, dengan ijazah tingkat SMA, namun gaji saya jauh melebihi jebolan S1 Keperawatan saat ini. Lulusan perawat saat ini susah mencari kerja, kata anak-anak muda.

Hanya delapan bulan berselang, SK saya sebagai PNS turun. Diangkatlah saya sebagai Pegawai Golongan IIA di sebuah sekolah perawat di Malang.

Lulus SPK, ngajar SPK. Itulah zaman kami. Sebuah kenikmatan yang jarang dimiliki oleh generasi sekarang. Apalagi zaman kami dulu tidak ada yang namanya Ukom, STR, SKP, UU Keperawatan, serta aneka akreditasi.

Sebagaimana Ibu ketahui, di zaman kami, profesi kedokteran masih langka, teman-teman profesi kami banyak yang melakukan prosedur invasif. Prosedur yang tidak semestinya kami lakukan. Saat itu, betapa ‘diuntungkan bisnis’ teman-teman, khususnya di daerah. Sejujurnya Ibu, teman-teman kami banyak yang makmur secara finansial karena ‘kelonggaran’ wewenang ini.

Makanya, selain jarang yang melanjutkan kuliah lagi, teman-teman perawat Indonesia generasi kami sangat minim minatnya untuk bekerja di luar negeri. Dengan segala kekurangannya, nyatanya kondisi teman-teman makmur dan sejahtera di lapangan. Bahkan, kondisi ini yang membuat saudara-saudara kandung, sesama profesi kesehatan, sempat ‘iri’ Ibu.

Itulah kenaikmatan kami pertama.

Kenikmatan kedua, profesi perawat di negeri ini adalah yang terbesar.
Biasanya yang terbesar adalah yang dominan, seperti negeri China di dunia ini. Orang China ada di mana-mana. China ditakuki dunia bahkan oleh Amerika Serikat. Perkembangan China dewasa ini luar biasa, hingga bisa masuk menjadi tenaga kerja kita di Bali, Banten dan Cilacap, kata media masa. Tapi perawat kita bukan China Ibu. Kami tidak seperti mereka yang produk imitasinya menguasai dunia.

Di hampir semua RS, tidak ada perawat yang kedudukannya sebagai minoritas. Perawat selalu dibutuhkan di semua bentuk layanan kesehatan di negeri ini. Tidak ada satupun RS di mana tenaga kesehatan lain jumlahnya melebihi perawat, meskipun gaji mereka di atas perawat.

Itulah yang menyebabkan kami bangga. Kebutuhan negeri ini akan perawat tidak pernah surut. Sementara profesi kesehatan lain, boleh jadi sangat dibatasi di RS. Bahkan ada RS yang tidak menyediakan layanan mereka sama sekali.

Kenikmatan ketiga, sebagai individu, saya ingin beda. Tujuh tahun sesudah bekerja di negeri sendiri, saya berangkat kerja di luar negeri. Lewat PT Putra Pertiwi-Jakarta. Sekitar 500 orang perawat Indonesia yang mengikuti program ini. Dari jumlah tersebut, hanya 350 orang yang berangkat ke Kuwat dan Saudi Arabia.

Perawat Indonesia adalah satu-satunya profesi kesehatan di negeri ini yang peluangnya sangat besar untuk bekerja di luar negeri. Prediksi saya tidak kurang dari 5000 orang kini jumlahnya tersebar di Eropa, Timur Tengah, Asia, Australia, Amerika Serikat dan Canada. Sebuah jumlah yang sangat besar meski terhitung kecil dibanding India dan Filipina.

Saya katakan besar, karena saya tidak pernah menemui profesi kesehatan lain di negeri ini yang jumlah personalnya melebihi jari-jari tangan, di negara-negara yang pernah saya kunjungi. Di Qatar, saya hanya menemui 1 orang Lab Technician, 1 orang di Radiologi, dan hanya 3 dokter asal Indonesia. Di UAE, saya tidak pernah menjumpai. Di Kuwait, waktu itu hanya 1 orang teknisi kesehatan. Jadi, betapa beruntungnya perawat Indonesia. Inilah keuntungan ketiga.

Perjalanan karir perawat Indonesia ke luar negeri tidak gampang. Makin lama makin ketat. Apalagi saat issue Certificate of Good Standing (CGS) dan Surat Tanda Registrasi (STR) mulai marak. Saya yakin Ibu sadar akan hal ini. Bagaimanapun perawat tetap berjuang.

Entah bagaimana caranya, saya salut dengan teman teman perawat Indonesia yang punya tekad besar untuk mengubah nasibnya, keluarganya dan mengangkat nama baik bangsa ini di forum internasional. Pendidkannya perawat, kerjaanya di bengkel, di restaurant, care giver hingga elektronik, karena berbagai kendala. Mulai penguasaan bahasa hingga STR yang belum tertata rapi sistemnya.

Alhamdulillah, meski basic pendidikan SPK, saya bisa melanjutkan kuliah hingga S2. Saya meraih Penghargaan Diaspora Award di Los Angeles 2012, bersama dengan Dr. Sri Mulyani. Beberapa penghargaan saya peroleh sebagai karyawan terbaik di UAE dan Qatar. Buku saya yang berjudul Enjoy Nursing, testinominya oleh Ibu Retno Marsudi, mantan Kedubes RI di Belanda. Buku saya yang berjudul From Qatar to Indonesia, testimoninya oleh Dubes RI untuk Qatar, Bapak Deddy Saiful Hadi.
Kalau bukan karena perawat, saya tidak akan mendapatkan kesempatan emas tersebut. Kesempatan yang bahkan tidak dimiliki oleh profesi kesehatan lain. Nikmatnya sebagai perawat Indonesia di luar negeri, subhanallah……

Ibu Menkes yang kami hormati….

Hanya saja, sangat sedikit teman-teman perawat yang beruntung bisa kuliah lagi seperti ini. Karena perawat Indonesia pendidikannya jauh beda dengan yang dialami oleh sejawat kami di India, Filipina, Eropa hingga Amerika.

Begitu pulang dari luar negeri, saya kaget bercampur gembira melihat kiprah teman-teman perawat Indonesia yang sungguh cerdas. Di tengah persaingan yang ketat, pencarian kerja yang susah, jumlah penduduk yang makin padat, perawat Indonesia tidak kurang akal.

Ada yang menekuni hipnoterapi, merawat luka dan bikin Praktik Mandiri, mendirikan pijat refleksi, akupuntur, salon kecantikan, guru di SMK kesehatan, trainer, petugas HSE, praktisi estetika, menekuni Herbal, dan lain sebagainya. Pokoknya, sepertinya ada saja yang bisa mereka kerjakan. Subhanallah, perawat Indonesia sungguh luar biasa!

Oleh karenanya, tidak berlebihan, jika inilah nikmat keempat menjadi perawat Indonesia yang nyatanya serba bisa. Bisa ke mana saja, bekerja sebagai apa saja dan kapan saja. Di dalam dan di luar negeri.

Sewaktu di Qatar, teman-teman ada yang pagi kerja, sorenya jualan aneka kue, termasuk Bala-bala kesukaan orang Sunda. Ada yang sambil memasarkan Jilbab dan aneka bahan pakaian. Di Kuwait kegiatan yang sama juga marak.

Kalau saja sempat bertemu mereka, Ibu pasti akan dibuat takjub dan bangga. Sayangnya, Ibu bukan seorang Perawat. Jadi kami ragu, apakah Ibu mampu menyelami perasaan kami sebagai anaknya.
Sungguh, tidak bijak, jika sikap ini sebagai keluhan.
Ibu Menteri Kesehatan yang baik hati

Di Malang, saya mencoba mendongkrak motivasi teman-teman perawat muda untuk mengisi semua peluang kerja yang ada. Sebagai sesama saudara, tentu kami tidak ingin mereka menjadi pengangguran yang berpendidikan. Saya mengunjungi lebih dari 90 kampus keperawatan di Indonesia. Ada yang bagus sekali manajemennya, dengan Akreditasi A. Tetapi ada pula yang sangat memprihatinkan. Dari Sabang di Sumatera, pelosok Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok dan Sumbawa pernah saya temui perawat-perawat muda.

Sesudah lulus, ada yang magang tidak dibayar, malah harus bayar. Ada yang dibayar Rp 150 ribu di Sumbawa Besar. Memang, ada juga yang menerima Rp 1,5 juta di Malang di sebuah RS swasta besar. Hanya saja, yang saya sebut terakhir ini sangat sedikit jumlahnya.

Sungguh, jika Ibu melihat mereka langsung dari dekat, semangat membangun negara sebagai pasukan di baris depan Kementrian Kesehatan, patut dibanggakan, walaupun dengan income yang minimal. Saya melihatnya, ini sebuah ‘kenikmatan’ yang tidak saya temui di luar negeri.

Ibu Menkes yang kami hormati,

Tahun-tahun terakhir ini marak tugas belajar bagi profesi kesehatan, di dalam dan di luar negeri. Peluang melanjutkan study bagi perawat saya melihat paling besar dibanding profesi kesehatan lainnya. Perkembangan dunia pendidkan keperawatan luar biasa di negeri ini. Saya mendengar angkanya mencapai lebih dari 900 institusi, belum termasuk pendidikan kebidanan.

Bukankah ini sebuah nikmat?

Mendirikan lembaga pendidikan keperawatan begitu marak. Dampaknya, tentu saja peledakan jumlah perawat dengan pendidikan tinggi. Di Malang, ada 11 institusi. Bahkan di kota kecil tingkat kecamatan Lawang, ada dua buah.

Saat saya tulis Catatan ini, tadi pagi, ada 6 orang mahasiswa baru yang mondok sementara di tempat kami, teriak-teriak kegirangan. Entah apa yang mereka bicarakan. Saat ini mereka sedang mengikuti kegiatan Pesmaba (Pengenalan Studi Mahasiswa Baru). Di tengah kegirangan, mereka tidak tahu, bahwa perawat Indonesia saat ini tidak berada di era 80-an, yang meski gaji kecil, barang murah. Perawat era 2015- ke atas, menghadapi tantangan sekaligus peluang. Gaji besar, tapi tidak mampu beli apa-apa, karena saking mahalnya harga barang.

Bagaimanapun, dengan menjamurnya jumlah intitusi pendidikan keperawatan di negeri ini, saya menilainya sebagai sebuah hikmah. Sementara negara-negara besar seperti Canada, Amerika Serikat, UK dan Australia kekurangan perawat, kita kebanjiran tenaga mereka.

Bukankah ini nikmat namanya?

Nikmat menempuh pendidikan tinggi. Meski lulusan pendidikan keperawatan, tidak menjadi perawatan bagi saya pribadi, tidak masalah.
Zaman sekarang, untuk hidup sebagai manusia ideal tidak gampang. Kecuali Ibu Menteri Kesehatan memiliki agenda bagi kami anak-anaknya.
Jika tidak, Ibu tidak usah kuatir. Karena kami bisa merancang agenda masa depan seperti yang marak dikerjakan oleh teman-teman kami yang cerdas akhir akhir ini. Lulus pendidikan keperawatan, bisa jadi apa saja, di mana saja dan kapan saja. Sepanjang itu baik dan benar, akan dikerjakan oleh perawat Indonesia.
Inilah nikmat kelima.

Akhinya, sebagai umat yang beragama, kami berharap dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur, yang akan ditambah nikmatnya oleh Allah SWT. Bukan golongan mereka, orang-orang yang suka mengeluh.

Sejatinya, ada sejuta nikmat yang tidak mampu kami tuliskan di sini.

Bila ada yang harus kami benahi, mohon nasihat dan sarannya. Sebaliknya, jika sebagai anak kami tidak mampu, kepada siapa lagi kecuali Ibu sebagai tempat mengadu?

Terimakasih Ibu Menteri Kesehatan, atas segala perhatian dan kepeduliannya terhadap Perawat Indonesia. Mohon maaf bila Catatan ini sempat mengusik kebahagiaan Ibu.

Waalaikum salaam Wr. Wb

Malang, 28 Agustus 2015
SYAIFOEL HARDY
Perawat Indonesia

Advertisements

2 Comments

  1. naikdaun807 says:

    Mantap and salut atas perjuangan moe dmi golongan moe whay saudara qu… Maju trus pantang mundur..

Please Leave Your Comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: