JELAJAH QATAR

Home » Jelajah Religi » JAGA DIRIMU DARI GODAAN JIN KETIKA DI TOILET

JAGA DIRIMU DARI GODAAN JIN KETIKA DI TOILET


image

Photo by colourbox.com

JelajahQatar.com | Catatan berikut mencoba merangkum kegiatan pengajian malam Jum’at, 15 Muharram 1437 H bersama Ustad Muhammad Fuady Ibn Abdullah.

Malam itu masih melanjutkan bahasan tentang adab-adab di Toilet. Pembahasan kitab Kasyifatussaja (syarah kitab safinatunnaja – Karya Imam Nawawi).

Ada sebuah kisah sahabat Nabi yang bisa kita ambil ibroh. Sa’ad Bin Ubadah RA . Beliau adalah sahabat nabi Muhammad SAW yang terkenal dengan kedermawanannya.

Sa’ad bin Ubadah RA merupakan Kepala Suku Khozroj. Beliau wafat di Hauron (wilayah Syam) 2,5 tahun dari masa khilafah Umar bin Khoththob RA,pada waktu siang hari yg sangat panas.(Athobaqôt Al Kubrô 3/312 karya Imam Subuki Rohimahulloh).

Dalam riwayat lainnya menyebutkan bahwa kuburan Sa’ad bin Ubadah RA berada di Munaihah, sebuah desa di wilayah Ghouthoh, Damaskus-Suriah (lihat Al Hawasy Al Madaniyyah 1/84-85).

Ketika jenazahnya ditemukan, dalam kondisi menghijau. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa para sahabat menemukan jasad Sa’ad bin Ubadah RA ketika mendengar suara (jin) dari dalam sumur yang berbunyi “Kami (jin) telah membunuh Sayyidina Sa’ad bin Ubadah RA. Kami panah dia (tepat mengenai jantungnya) dan meninggal”.

Imam Ibnu Sirin atau Muhammad bin Sirin RA, seorang Tabi’in dan seorang ahli ta’wil mimpi meriwayatkan “Pada saat itu (ketika Sa’ad bin Ubadah RA meninggal), kencing sambil berdiri”.

Banyak sekali riwayat sahabat Nabi SAW yang menyebutkan bahwa Rasulullah seringnya kencing sambil duduk. Walaupun ada beberapa riwayat lain yang menyebutkan bahwa Rasulullah pernah kencing sambil berdiri.

Namun perlu diketahui bahwa ketika Rasulullah kencing sambil berdiri itu dikarenakan beliau sedang sakit atau kondisi tertentu lainnya.

Jadi sebisa mungkin, kita kencing sambil duduk, terkecuali ketika kondisinya tidak memungkinkan kencing sambil duduk. Yang terpenting adalah bagaimana najis itu tidak mengenai/terpercik ke pakaian atau tubuh kita.

Adab ketika memasuki Toilet/Kamar mandi sudah dibahas sebelumnya ada 4 hal (akan ditulis terpisah), adab yang kelima adalah membaca do’a:

اَللهُمَّ إِنّي أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
Artinya : Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari jin laki-laki dan perempuan. (Hadits Riwayat Bukhori (142) dan Muslim (375) dari Sayyidina Anas RA.

Ada juga riwayat lain yang awalannya menggunakan BISMILLAH (bisa di lihat dalam kitab “Shihah”nya Imam Ibnu As Sakan).

Sedangkan riwayat yang terdapat kalimat BISMILLAH sekaligus TA’AWWUDZ bisa dilihat dalam kitab “Mu’jamul Ausath” (2824), Karya Imam Ath Thobroni, juga disandarkan riwayat ini kepada sayyidina Anas RA

Kemudian ketika sudah selesai membuang hajat dan keluar dari WC, maka berdo’a:
غُفْرَانَكَ اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِي اْلأَذَي وَعَافَنِي
Artinya: Ku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakitku dan telah menyembuhkan/menyelamatkanku. (HR. Abu Daud).

Doa keluar WC “GhufrònaK” juga ada dalam riwayat At Tirmidzi yang bersumber dari Sayyidah Aisyah RA. Dimana Imam At Tirmidzi menilai hadits ini Hasan Ghorib.

Sedangkan doa “Alhamdulillah alladzì adzhaba…..dan seterusnya” ada dalam riwayat An Nasai dalam “As Sunan Al Kubro” nya, No. 9825. Hadits ini dinilai Dho’if. Namun tetap sangat baik untuk diamalkan.

Hikmah tentang do’a (meminta ampun) ketika keluar dari Toilet adalah sebuah upaya untuk mengingatkan tentang seringnya manusia lupa akan nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan dari Allah SWT.

Betapa nikmatnya ketika kita masih bisa membuang hajat (besar maupun kecil) secara normal, karena tidak sedikit orang yang sampai masuk Rumah Sakit hanya karena masalah tidak bisa B.A.K dan B.A.B.

Dibalik prosesi membuang hajat besar terdapat hikmah yang besar pula. Manusia yang sedang buang hajat tak pernah berpikir tentang apa-apa yang sudah dimakannya. Manusia begitu ikhlas dengan ‘sesuatu’ yang sedang dikeluarkannya. Tak ada sedikitpun penyesalan! Ketika semuanya sudah masuk ke lubang kakus, perut menjadi lega dan hatipun sangat ikhlas.

Keikhlasan kita ketika membuang hajat semoga mampu merambah ke keikhlasan kita dalam beramal baik, seperti membayar infak dan sodaqoh. Keikhlasan yang tulus tanpa berharap mendapatkan balasan dari orang yang sudah kita bantu. Keikhlasan yang hanya berharap keridhoan Allah SWT.

Wallahua’lam Bisshowab.

Dukhan, 15 Muharram 1437 H/29 Oktober 2015
@sugengbralink dibantu Ust. Fuady

Follow Us @JelajahQatar

Advertisements

Please Leave Your Comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: