image
Safari Dakwah DDII

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang”.

Demikian sepenggal mutiara kata Imam Syafi’i Rahimahullah. Untaian kata yang mengingatkan kita akan arti pentingnya merantau. Berhijrah dari negeri kelahiran ke negeri-negeri lain.

Merantau, menjelajah bangsa lain. Mencari makna hidup yang lebih luas. Tak hanya berkutat dengan rutinitas keseharian di kampung sendiri.

Artikel ini tak bermaksud sedikitpun untuk mengecilkan makna bagi siapa saja yang memilih tinggal di kampung sendiri. Artikel ini hanya berupaya melihat sisi lain akan pentingnya nilai merantau bagi kecintaan terhadap tanah air.

Merantau memang jauh dari keluarga. Jauh dari sanak saudara. Jauh dari kawan dan sahabat. Tapi dengan merantau kita akan dapatkan keluarga-keluarga baru se-Nusantara. Kawan-kawan baru se-Jagat Raya.

Apa maksudnya merantau kok malah
makin cinta tanah air? Mungkin ada diantara anda yang bertanya demikian.

Itu adalah pengalaman saya sendiri. Lebih dari tujuh tahun merantau ke negeri orang, disitulah makin besar rasa cinta saya kepada tanah kelahiran, Indonesia.

Negeri yang isinya lebih dari tujuh belas ribu pulau. Negeri yang penduduknya lebih dari dua ratus lima puluh juta. Negeri yang lautannya lebih luas dari daratannya. Negeri yang kaya akan sumber daya alamnya. Itulah negeri kita, Indonesia!

image

Jika sebelumnya (ketika saya tinggal di Indonesia), saya hanya mampu memandang tanah air sebagai negeri yang selalu ribet dengan birokrasinya. Negeri yang nyaman bagi para koruptor. Negeri yang selalu sibuk dengan hingar bingar politik. Kini, cara pandang itu berbeda!

Dengan berada di luar negeri, cara pandang kita akan lebih luas. Setiap negeri mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Bersyukurlah kita sebagai warga negara Indonesia. Kita harus bangga dengan tanah air kita. Negeri demokrasi. Bebas berekspresi dan mengungkapkan pendapat. Semoga bukan demokrasi yang kebablasan.

Indonesia, kaya akan alam dan destinasi wisatanya. Indonesia, kaya akan budaya dan tradisinya.
Indonesia, kaya akan bumbu dan kuliner nusantaranya.
Indonesia, kaya akan bahasa dan sejarahnya.

Disisi lain, salah satu kenikmatan merantau di Qatar adalah seringnya kita dipertemukan dengan tokoh-tokoh nasional. Baik ulama maupun umara. Diantara yang pernah ketemu adalah Ustad Yusuf Mansur, Anggota Dewan yang terhormat, Staf Kementerian, Pak Umay, Ustad Ali Mustafa Yakub (Alloh Yarham), Ustad Yunahar Ilyas, Ustad Agus Setiawan, Ustad Fadlan Garamatan, dan ustad-ustad lainnya. Bahkan tahun lalu kami berkesempatan bertatap muka dengan Bapak Presiden Joko Widodo beserta jajaran Kementeriannya.

image

2 Mei 2016 lalu, baru saja kami dipertemukan dengan Ustad Abdul Wahid Alwi (Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia). Sebuah kesempatan istimewa dapat menimba ilmu dari beliau. Belajar tentang makna hidup dunia yang sementara untuk persiapan menuju kehidupan akhirat yang abadi. 4 fase kehidupan, itulah topik yang beliau sampaikan.

Itulah salah satu kenikmatan yang kami dapatkan ketika merantau. Bertemu dengan ulama besar. Menimba ilmu dan belajar. Jika tidak merantau, mungkin saya belum punya kesempatan bertemu dengan mereka. Itulah nikmatnya merantau!

Qatar, 5 Mei 2016
@sugengbralink